0% found this document useful (0 votes)
10K views57 pages

Janur Ireng (Versi Twitter)

Mira, a journalist, receives a call about a body being found in an abandoned house in a sugarcane field. She goes to investigate the crime scene. There, she finds the body of an unidentified person sitting upright without a head. Strange objects are arranged before the body. Mira notices another room and finds more clues under the bed, including a ring. The unusual death and location raise many questions for Mira to investigate further.

Uploaded by

Domba Berponi
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
10K views57 pages

Janur Ireng (Versi Twitter)

Mira, a journalist, receives a call about a body being found in an abandoned house in a sugarcane field. She goes to investigate the crime scene. There, she finds the body of an unidentified person sitting upright without a head. Strange objects are arranged before the body. Mira notices another room and finds more clues under the bed, including a ring. The unusual death and location raise many questions for Mira to investigate further.

Uploaded by

Domba Berponi
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as PDF, TXT or read online on Scribd
You are on page 1/ 57

JANUR IRENG (VERSI TWITTER)

By: Simpleman

Suara dering telepone terdengar memenuhi ruangan, namun tak ada satupun dari riuh orang di
dalam sana yang mengangkatnya. Seorang wanita tengah menatap lurus sebuah jurnal di depannnya
sembari membolak-balik lembar per lembar, tempat dimana wanita itu biasa menggunakan kertas-
kertas itu sebagai bahan untuk menulis tajuk berita sebelum melemparkannya ke publik. Tiba-tiba.
Seseorang menyentuh punggungnya, mengejutkannya sembari menatap dirinya dengan ekspresi
wajah bertanya. “hei. Ngapain sih lo? Itu, telephone di meja lo bunyi dari tadi” katanya dengan
suara ketus.

“Oh iya. Sorry, gw gak denger tadi” ucap si wanita yang tersenyum agak canggung. Orang itu
menggeleng-gelengkan kepala menatapnya sejenak sembari berdeham lirih “aneh” sebelum ia
melangkah pergi dengan wajah jengkel sementara si wanita mengangkat telephone, mendengar
suara dari ujung lain yang tampak sama gusarnya.

“BANGSAT LO YA!!” kata si penelphone setengah berteriak “lo dari tadi kemana sih, gw hubungi
dari tadi gak diangkat-angkat!!”

“iya-iya. Sorry. Gw tadi di kamar mandi soalnya.” ucap si wanita sembari membuka kembali
lembar per-lembar di buku jurnalnya yang penuh dengan coretan dan tulisan-tulisan acak seadanya,
sementara gagang telephone sudah di sangga oleh bahunya, si wanita kembali mencoret-coret entah
apa di dalam buku jurnalnya. Kebiasaan yang sudah lama ia miliki. Bahkan ia sendiri tidak tahu
sejak kapan kebiasaan mencoret-coretan tak berdasar di buku jurnalnya.

“ya sudah. Gini..loh” ucap si penelpone yang kini suaranya terdengar lebih serius, “gw baru aja
dapat kabar, ada sesosok mayat baru aja di temukan di sebuah rumah gubuk di tengah Ladang tebu.
Lo bisa gak ke TKP, soalnya si Riko lagi gw suruh ngerjain hal lain”.

Hening. Si wanita terdiam sejenak sebelum si penelphone memanggilnya kembali. “wei. Gimana?
Lo bisa gak ke TKP sekarang?”

Ekspresi si wanita tampak termenung untuk sesaat. Entah kenapa, suara dari si penelphone seakan
tak terdengar lagi di telinganya, di gantikan dengan keheningan yang memanjang sejauh mata
memandang. Selang beberapa saat, ruangan yang seharusnya ramai itu mendadak menjadi lebih
sunyi dan kegelisahan yang pernah wanita itu rasakan dulu mendadak menyeruak kembali. Wanita
itu baru sadar bila firasat yang dulu seringkali menghantuinya mendadak kembali dan bayangan-
bayangan hitam yang ada di sekeliling membuatnya tahu bahwa meski dalam keheningan ia tidak
benar-benar sendiri.

“MIRAAAA!!” teriak si penelphone yang sontak membuyarkan lamunan si wanita. “lo denger gw
gak sih??!! Bisa gak??”

“iya-iya. Bisa kok, bisa. Di mana alamatnya?” tanya wanita itu dengan nada sedikit parau. Mira itu
adalah nama wanita itu. Sebuah nama yang di berikan oleh almarhum ayahnya yang menghilang
tanpa jejak meski begitu, Mira tumbuh menjadi seorang wanita yang tangguh, lebih tangguh dari
apapun bahkan sejak kepergian neneknya, orang kedua yang paling ia sayangi setelah ayahnya.

Mira mendengarkan dengan seksama alamat yang di katakan si penelphone, sembari mulai menulis
di jurnalnya, alamat tempat TKP itu berada namun tiba-tiba Mira terdiam dalam keheranan saat
menyaksikan apa yang tertulis di atas kertas buku jurnalnya adalah sebuah tulisan yang terbaca dari
1
coretan-coretan tangan Mira saat ia sedang menelpone tadi, meski hanya sebatas coretan-coretan
acak yang di buat serampangan namun coretan itu bisa terbaca dengan aksara jawa kecil di
sampingnya. Coretan itu terbaca sangat jelas. sebuah tulisan yang bila dibaca menjadi dua kalimat
yang belum pernah Mira lihat sebelumnya.

“JANUR IRENG”

** Mira melangkah turun dari mobil tua yang ia pinjam dari kantor untuk datang ke TKP, tempat
dimana sesosok mayat baru di temukan. Lokasinya sendiri berada di sebuah perkebunan tebu yang
rimbun dan jauh dari hiruk pikuk permukiman penduduk sehingga mayat yang baru saja di temukan
sudah dalam kondisi yang benar-benar mengenaskan. Setidaknya itu yang Mira tahu dari
percakapan di telephone tadi.

Berbekal kartu jurnalis yang Mira punya, polisi yang berjaga di depan garis kuning mengijinkan
Mira masuk sementara di luar garis kuning sudah banyak di penuhi orang-orang yang sama
penasarannya satu sama lain. Mira melangkah di atas tebu-tebu yang di pangkas secara
serampangan sembari melihat sekeliling dan Mira merasa aneh, untuk apa seseorang tinggal di
tengah-tengah lahan tebu seperti ini.

Mira sempat mewawancarai beberapa penduduk yang ada di sekitaran TKP, mereka mengaku tidak
ada yang tahu bila ada sebuah rumah yang di bangun di tengah-tengah lahan tebu yang luas ini,
apalagi apalagi setelah di temukannya seonggok mayat yang ada di dalamnya.

Setelah menempuh kurang lebih 100 meter dari jalan, barulah Mira bisa melihat rumah gubuk itu
yang di susun dengan kayu-kayu tua, Mira mendekati rumah itu dimana di depan rumah terlihat
banyak petugas dan beberapa teman jurnalis yang Mira kenal.

“mbak Mira” panggil seorang petugas yang kebetulan mengenali Mira.

Mira mendekat.

“bapak” ucap Mira kepada petugas “Bagaimana pak keadaan mayat yang di temukan, apakah sudah
di identifikasi siapa dia?”

“saat ini masih belum mbak. Informasi itu masih sedang kita dalami” ucap pak polisi yang membuat
Mira mengangguk.

“lalu pak, soal kematiannya bagaimana? Saya mendengar kalau kematiannya..” Mira terdiam
sejenak “gak wajar!”

Si petugas hanya diam saja sembari sesekali memperhatikan sekeliling. Mira bisa melihat gelagat
yang tidak nyaman pada si petugas sehingga tanpa menunggu jawaban Mira langsung
mengatakannya.

“boleh saya masuk pak, saya mau melihat—kondisi mayatnya” tanya Mira yang di jawab langsung
oleh si petugas dengan anggukan, “tentu mbak Mira, tentu saja. Silahkan, tapi mbak” polisi itu
menatap Mira nanar, “kondisi mayat itu sangat..” Mira terdiam menunggu, “memperihatinkan”.
Mira mengangguk, mencoba mengerti maksud baik petugas yang berjaga, Mira pun melangkah
masuk ke dalam rumah gubuk tempat di mana Mira bisa melihat lebih banyak lagi petugas sedang
mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Tepat di saat Mira menginjakkan kakinya di dalam
ruangan tempat mayat itu berada, Mira langsung menutup hidung, aroma busuk yang menyeruak itu

2
langsung membuat Mira terhuyung, makanan yang Mira telan seperti ingin melompat keluar,
sementara di sekelilingnya orang-orang yang sedang mengidentifikasi menatapnya sebelum
memberi Mira masker.

Meskipun Mira sudah mengenakan masker namun aroma busuk mayat itu masih tercium, berkali-
kali Mira menyentuh hidungnya dengan tangan, mencoba mengusir aroma memuakkan itu sampai
matanya tertuju pada sosok mayat yang ada di depannya. Mira terdiam bingung harus berkomentar
seperti apa karena tepat di hadapannya terlihat seseorang tak di kenal tengah duduk bersila di atas
ranjang dengan kondisi tanpa kepala.

Mira masih tidak dapat berkomentar apa-apa selain shock menyaksikan ini.

Ini adalah kali pertama Mira melihat hal ganjil yang seperti ini, bagaimana mungkin hal seperti ini
bisa terjadi. Sosok mayat tanpa kepala dengan kondisi ia masih duduk bersila. Di depannya ada
sebuah meja kayu dengan beberapa anggop dari tanah liat berisikan air dan kembang, serta keris
yang tersusun rapi di sebelahnya.

Mira menggernyitkan kening. Ia berpikir sejenak apa maksud benda-benda di depannya ini. Apa
mungkin sosok ini adalah seorang dukun.

Mira terdiam cukup lama sembari memotret mayat itu dari beberapa sudut yang bisa ia ambil.
Sementara bau busuk itu semakin lama tercium semakin busuk seakan-akan memberitahu Mira
bahwa mayat ini sudah lama mati setidaknya itu yang Mira tahu mengingat ia sudah pernah
menangani peristiwa kematian serupa seperti ini.

“lebih dari 3 hari tampaknya” ucap Mira di dalam hati, kulitnya terlihat pucat dan menguning
dengan lalat di sekelilingnya.

Mira mencoba melihat sekeliling ruangan itu namun sayangnya ia tidak menemukan apapun, bisa
jadi polisi sudah mengamankan beberapa bagian yang penting yang kemungkinan bisa membantu
penyelidikan namun dari semua yang bisa Mira lihat di sini, Mira mencium sesuatu yang lain.
Sesuatu yang sedari tadi sangat menganggunya, Mira menoleh menatap sebuah pintu di ruangan
lain, pintu itu tertutup dengan garis kuning yang terpasang di depannya. Mira mendekatinya, tiba-
tiba sebuah kilasan aneh muncul, dari dalam pintu yang tertutup itu Mira bisa mendengar suara
jeritan dari seorang perempuan yang terdengar di telinganya terus menerus meminta- pertolongan.
Anehnya, tak ada satupun orang yang ada di dalam sana mendengar suara itu. Penasaran, dengan
perlahan-lahan Mira mendorong pintu itu dan melangkah masuk melewati garis kuning yang
terpasang di depan pintu. di dalamnya Mira menemukan sebuah ruangan lain, sebuah ruangan yang
sama persis dengan ruangan tempat mayat misterius itu di temukan, bedanya hanya ada di ranjang
kosong, dimana di dalam ruangan ini, ranjang kosong itu di tutupi oleh sebuah tirai putih
transparan, Mira mengitari ranjang sementara ia melihat ke sekeliling. Sedari tadi, Mira masih
bertanya-tanya, ruangan apa dan bagaimana bisa ada rumah yang di bangun di sini tanpa ada satu
orang pun yang tahu. Hal ini tentu saja membuat Mira begitu tertarik.

Mira pun mulai memeriksa ruangan itu, sementara para petugas kepolisian dan jurnalis lain masih
tampak sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri, di tengah ketegangan melihat bagian-bagian yang
belum tersentuh itu tiba-tiba Mira melihat sesuatu yang ganjil, sesuatu yang ada di bawah sebuah
kain hitam pekat yang di lilit dan di letakkan di bawah ranjang bertirai putih itu. Mira mengangkat
ranjang, meraih ikatan hitam pekat itu, di dalamnya Mira menemukan sebuah cincin dengana batu
berwarna merah delima tua yang lingkarannya terbuat dari tembaga kekuningan. Mira terdiam
sejenak menyaksikan cincin itu, sebelum Mira menyadari ada sesuatu yang lain di balik ranjang itu.
Mira tertegun menyaksikan sebuah buku tua yang di buat dari kulit kambing berwarna cokelat

3
muda. Mira mulai membuka buku itu, di depannya tertulis sebuah tulisan yang di buat dengan
menggunakan aksara jawa kuno.

Mira tidak mengerti buku apa itu sebenarnya sebelum sebuah suara mengejutkannya.

“Mbak-” ucap seseorang dari luar ruangan. “tidak boleh masuk ke ruangan itu, ini masih identifikasi
di larang menyentuh atau melakukan apapun di sekitaran TKP”

Mira berbalik, menyembunyikan buku dan cincin itu di balik baju belakangnya.

“iya maaf pak, saya akan keluar”

Mira pun meninggalkan ruangan itu, menutup kembali pintu dan meninggalkan rumah aneh itu,
siapakah sosok di balik mayat misterius itu, sampai saat ini, Mira belum tahu.

** di luar rumah, kepala petugas yang bertanggung jawab dalam kasus ini mulai di wawancarai
banyak jurnalis termasuk Mira. Rentetan pertanyaan di ajukan namun tampak si kepala petugas
belum yakin dengan jawabannya sehingga semua jurnalis akhirnya meninggalkan tempat itu
sementara waktu.

Dari apa yang Mira dengar hari ini, banyak spekulasi ganjil dari informasi mengenai siapa sosok
mayat tanpa kepala itu, selain itu caranya mati pun menjadi tajuk pertanyaan, apakah ia di tebas,
namun spekulasi bagaimana bisa seseorang menebas kepala tanpa membuat mayat itu tersungkur
masih menjadi misteri. pertanyaan itu sampai saat ini belum terjawab karena faktanya mayat itu di
temukan dalam keadaan duduk bersila.

Mira bersiap kembali ke kantor dan mempersiapkan laporannya hari ini, ia melangkah keluar dari
lokasi menuju mobil tua yang ia parkir di samping jalan, namun tiba-tiba pandangan Mira
teralihkan melihat seseorang tengah menatapnya jauh dari samping sebuah mobil hitam.

Seorang wanita tua yang mengenakan kebaya dengan rambut di sanggul memperhatikannya seakan
ada sesuatu yang ia cari ada dalam dirinya, Mira masih menatapnya sebelum sopirnya melangkah
keluar dari dalam mobil dan membuka pintu. wanita tua itu melangkah masuk, di ikuti si sopir
sebelum akhirnya mobil hitam itu melaju melewatinya.

Mira membuka pintu mobil, melangkah masuk. di lihatnya sekali lagi cincin dengan batu delima
merah itu dan buku dengan kulit kambing sebelum Mira menyadari ada sesuatu yang ganjil pada
dua benda itu.

Saat Mira menimbang-nimbang apa hubungan sebenarnya dengan semua ini tiba-tiba mata Mira
teralihkan pada coretan di atas Jurnalnya yang terbuka. Mira menatapnya sebelum menyadari
Tulisan dengan aksara jawa itu terlihat sama dengan satu –dua kata penyebutan yang benar-benar
sama. Mira membaca kembali tulisan itu dan Mira tahu arti aksara jawa itu.

“JANUR IRENG ADALAH SANTET YANG MENGHABISI NYAWA SELURUH


KELUARGAKU!!!!!”

Mira mengendarai mobil, jam menunjukkan pukul 5 sore, setelah mendapat sedikit informasi yang
bisa ia gali dari tempat kejadian perkara Mira berniat langsung mengerjakan semua laporan tentang

4
penemuan mayat tanpa kepala itu untuk deadline berita esok sesuai instruksi dari kepala redaksi
mbak Stela.

Mira melangkah masuk, namun tiba-tiba perasaan tak enak itu muncul begitu saja. Mira berhenti di
depan lift.

Mira yang seorang diri merasakan sesuatu yang ganjil. Belum pernah Mira merasakan kantor
tempat ia bekerja sesunyi ini seakan ini bukanlah kantor yang biasa ia lalui, lagipula ini masih
terlalu dini bagi para karyawan yang sudah meninggalkan kantor. Mira membuang perasaan ganjil
itu manakala pintu lift terbuka, tanpa membuang waktu dengan tas di punggung, Mira melangkah
masuk, ia kemudian menekan tombol lantai tujuh, lantai tempat di mana Mira biasa bekerja. Pintu
lift tertutup, perlahan-lahan lift bergerak naik. Mira masih teringat dengan mayat tanpa kepala itu.
Pembunuhan macam apa hingga kepalanya saja sampai tidak di temukan. Mira berdeham setiap kali
mengingat hal itu, tiba-tiba suara pintu lift mengalihkan perhatian Mira manakala ketika pintu lift
terbuka, Mira melihat seseorang melangkah masuk.
Seorang wanita muda yang tak ia kenal melangkah masuk, ia tersenyum pada Mira namun Mira
menanggapinya dengan anggukan yang canggung.

Mira melirik tombol lantai dan baru menyadari ia masih ada di lantai 3 tempat di mana kantor dari
bagian lain berada.

Si wanita berambut hitam panjang itu mengenakan bluse merah dengan rok hitam, berbanding
terbalik dengan pakaian Mira yang apa adanya mengingat Mira sendiri ikut terjun ke bagian
lapangan.

Wanita itu lalu berdiri di samping Mira sebelum akhirnya ia menekan tombol lift di angka sembilan,
tak ada sesuatu yang aneh bagi Mira saat itu kecuali saat tiba-tiba di dalam kecanggungan lift Mira
merasa aneh dengan wanita tersebut yang lebih banyak memilih untuk diam tak bergerak
sedikitpun. hal itu semakin menguat saat Mira terus mengawasi wanita itu dari sudut pandang
matanya, ia sadar wanita itu hanya diam mematung memandang pintu lift dengan tatapan mata
kosong. Mira mencoba untuk tetap tenang, ia memilih tak banyak bereaksi, sejujurnya Mira bukan
orang yang suka ikut campur urusan orang, ia sendiri selalu merasa tak nyaman bercakap dengan
orang yang tak ia kenal meskipun orang itu bekerja di perusahaan yang sama dengan dirinya.

Suara pintu lift terdengar, Mira bersiap melangkah keluar saat tiba-tiba ia mendengar suara lirih dari
wanita di sampingnya itu, ia berbicara tentang “Sang angkara wes teko” (sang angkara sudah
datang) Mira tertegun sesaat lalu menoleh melihat si wanita. Aneh. Pikir Mira, tatapan wanita itu
masih kosong namun ada senyuman yang tersungging di sudut bibirnya.

Mira keluar dengan perasaan semakin aneh. Meski ia tak mendengar dengan jelas maksud ucapan
wanita itu namun Mira yakin ada sesuatu yang tiba-tiba mengganjal di dalam dirinya. Sesuatu yang
selalu muncul di kepala Mira namun selalu gagal ia gali. Lika-liku di dalam kepalanya benar-benar
seperti labirin yang anehnya, Mira tidak bisa jangkau seorang diri. hal apa yang sebenarnya terjadi
dengan dirinya.

Mira terhenyak, ia masih berdiri di depan pintu Lift yang sudah lama tertutup, Mira berbalik
menuju meja kerjanya, meletakkan tas dan mengeluarkan beberapa buku catatan dan jurnal tempat
ia menulis informasi detail dari kejadian hari ini.

“di temukan Mayat tanpa kepala di area perkebunan tebu” setidaknya itu adalah headline yang
terpikirkan oleh Mira saat ini, namun Mira masih belum merasa yakin apakah itu cukup untuk
menarik perhatian dari pembacanya. Mira melihat jam di tangannya sudah pukul 5 lebih, ia melirik

5
jendela di mana langit sudah mulai kemerahan, tiba-tiba Mira teringat dengan jurnal-jurnal di dalam
tasnya. ia mengambil Jurnal khusus tempat biasa Mira menggoreskan catatan-catatan di luar
pekerjaannya sebagai jurnalis, ia mulai membuka satu persatu lembar yang ada di dalam jurnal
sampai tangannya berhenti di coretan kasar yang masih membingungkan bagi Mira sendiri,
“JANUR IRENG” batin Mira menatapnya. bagaimana ia bisa menulis catatan ini dalam keadaan
yang tidak sadar.

Mira merogoh isi tasnya dan mengambil buku tua dengan sampul dari kulit kambing cokelat itu lalu
membuka lembar pertamanya. Mira mencocokkan satu sama lain seperti sebelumnya untuk
meyakinkan dirinya bahwa aksara jawa yang terpampang di sana benar-benar sama, dan ternyata
memang sama.

“MENGHABISI NYAWA SELURUH KELUARGAKU”. Mira terdiam lama duduk di kursinya, ia


memikirkan siapa yang menulis dan meninggalkan catatan ini di dalam ruangan itu. Apakah
mungkin si pemilik catatan ini adalah mayat tanpa kepala itu. entahlah. pikiran Mira masih kalut.

Mira kemudian membalik halaman-per halaman berikutnya hingga halaman terakhir, namuntak ada
yang Mira pahami ataupun mengerti karena semua halaman yang ada di dalam buku kuno itu nyaris
di penuhi tulisan-tulisan dengan aksara jawa yang Mira sendiri tidak dapat membacanya, padahal
Mira sendiri lahir dan besar di jawa.

“tutt… tuttt…tutttt!!” suara telepone di meja Mira tiba-tiba berbunyi sampai membuatnya terlonjak
namun dengan sigap Mira mengangkatnya.

“Mir” ucap si penelpon.


“Riko?” tanya Mira,

“syukur masih ada lo di kantor, gw bisa minta tolong buat cek-buku gw di atas meja kayanya gw
lupa tanggal berapa gw ada wawancara dengan pak SOBO, gw butuh nih. Bisa gak?”

Mira menoleh melihat meja Riko, sebelum mengatakannya “buku warna ijo tua itu?”

“ya. Betul sekali. Thanks god. Bisa lo lihat kan Mir, tanggal berapa?”

“oke” kata Mira, ia berdiri dari tempatnya duduk lalu berjalan perlahan- mendekati meja Riko, ia
melihat buku berwarna hijau tua itu, membuka lembar per-lembar halaman saat tiba-tiba suara pintu
liftterdengar. “Ting tong” Mira menoleh melihat kearah pintu lift.

Ruangan tempat Mira bekerja sendiri adalah ruangan yang memang di desain dengan sedinamis
mungkin sehingga meski dari meja para karyawan bisa melihat langsung kearah pintu lift sehingga
para karyawan yang bekerja bisa tahu kedatangan dan kepergian seseorang dari segala sisi ruangan.

Mira masih menatap pintu lift, ia terpaku menunggu siapa yang akan keluar dari sana namun
anehnya, tak ada siapapun yang melangkah keluar dari sana.

“Mir. Gimana, tanggal berapa itu?”

Mira terhenyak ia lupa bila Riko sedang menghubunginya, Mira kembali fokus pada buku di
depannya, melihat lembaran di atas meja dan setelah mencari-cari akhirnya Mira menemukannya.
tulisan Riko tentang wawancaranya dengan pak SOBO, salah satu orang terkaya di negara ini.
“tanggal 24 Agustus tahun 20-” Mira melihat ke arah lift lagi, entah apa yang baru saja terjadi, Mira
merasakan perasaan paling tak enak yang belum pernah ia rasakan hingga sejauh ini.

6
“oke makasih Mir, gw berhutang sama lo. Ngomong-ngomong kok lo masih ada di kantor sih-”

Mira tidak mendengar apa yang Riko katakan, ia masih fokus menatap pintu lift hingga dari jauh
terdengar suara langkah kaki mendekat. seseorang baru saja melangkah masuk.

tap tap tap. Mira menatap bayangan hitam orang itu yang berjalan mendekat kearah tempat Mira
berdiri.

Sosoknya tinggi semampai dan dari bayangan lekuk tubuhnya, Mira merasa familiar. ia terlihat
seperti—Mira terhenyak saat tahu itu adalah wanita yang ia temui di dalam lift tadi.

“getih ireng sing nang njero awak menungso iku ngunu tondo jalar’e teko pitu lakon, kowe salah
siji’ne sing onok nang takdir rambat soko kembang Wijayakusuma” (darah hitam yang ada di dalam
tubuh manusia itu adalah pertanda dari datangnya musibah tujuh cerita. Kamu adalah salah satu
yang ada dalam takdir bunga merambat Wijayakusuma).

Mira terpaku menatap wanita itu. ia berbicara dalam logat bahasa jawa yang kental, aneh. apa yang
ia cari di sini. Kenapa ia ada di sini.
“Mir, ada orang lain ya di situ” ucap Riko dari pesawat telephone, namun Mira tak bergeming
mendengarkan, ia lebih tertuju pada wanita itu yang mendekatinya namun berhenti di meja tempat
ia bekerja. tak lama, wanita itu mengelus perlahan buku tua itu sebelum menatap wajah Mira yang
masih penasaran.

“buku teko trah Bolosedo yo mbak, trah ireng sing jeneng’e Kuncoro” (buku dari darah Bolosedo
ya mbak, darah hitam yang bernama Kuncoro) ucap wanita itu sembari menyeringai menyentuh
buku itu namun tak lama ia melirik Mira, tatapannya begitu mengerikan.

“njenengan sinten? Onok urusan opo njenengan ten mriki” (anda siapa? Ada urusan apa anda di
sini)

Wanita itu masih tersenyum ganjil, membuat Mira begidik ngeri.

Satu tangannya seperti menyembunyikan sesuatu yang tidak dapat Mira lihat, sementara tangan lain
membelai buku itu sembari—terus menyebut-nyebut tentang “Kuncoro”.

“Mir—jancok. Jawab lah, ada orang lain ya di sana?”

Mira masih tak menjawab pertanyaan Riko, karena wanita itu kini berjalan mendekatinya.

“kulo wonten urusan kale njenengan amergo kulo nyuwun tulung, tulung adek’ku mbak, jeneng’e
Bayu Saseno. Kowe kudu nulung Bayu, amergo Bayu iku podo karo njenengan pitu kurdo sing
bakal dadi musuhe pitu lakon” (saya, ada urusan dengan kamu karena itu saya meminta tolong,
tolong adikku mbak, namanya Bayu saseno. Kamu harus menolong dia karena Bayu itu sama
seperti kamu, tujuh yang di pilih yang kelak akan melawan tujuh yang lain).

“nulung?” (nolong?)

Wanita itu sudah berdiri di depan Mira, ia menyentuh Mira menatapnya dengan tatapan mengiba,
“yok opo carane aku nulung? sopo iku pituh lakon?” (bagaimana caraku untuk menolong? siapa itu
tujuh yang lain)

7
Wanita itu hanya diam sebari menatap wajah Mira.

“pituh lakon iku bencono sing bakal mok temoni mari iki, waktu’ne wes cedek, mbak isok nolong
adikku ambek….” (tujuh yang aku maksud adalah bencana yang akan kamu temui, waktunya sudah
dekat, mbak bisa menolong adik sayadengan….)

Wanita itu terdiam sejenak.

“getihmu” (darahmu).

Mira baru menyadari bahwa di balik punggungnya ia menyimpan sebilah pisau yang ia ambil
dengan tangannya, ia langsung menancapkannya tepat di bahu Mira.

Mira yang terkejut tak dapat melawan banyak, namun Mira berhasil mendorong wanita itu yang
berhasil menarik pisau dengan lumuran darah Mira.

Mira terhempas duduk menatap wanita itu yang tertawa sinting di depan Mira. ia menjilati darah itu
sebelum menyayat pergelangan tangannya sendiri dan membuka buku itu dengan cara membabi
buta. lembar-perlembar ia buka seperti tengah mencari sesuatu, saat ketika ia berhasil menemukan
halaman yang ia cari, ia mulai mengoles darahnya juga dengan darah Mira dari pisau itu.
menuliskan sesuatu di dalam lembaran kertas itu, sesuatu yang Mira tak tahu apa yang ia tulis
sebenarnya. Setelahnya, wanita itu melihat Mira lagi dengan tatapan sinting, Mira bergerak mundur
takut bila ia akan menyerangnya lagi, sementara rasa nyeri sudah menjalar di tubuhnya.

“MIR—MIRA ADA APA?!! KENAPA LO TERIAK BEGITU”

Mira baru sadar, Riko masih terhubung di ujung telephone, dengan cepat Mira menyambarnya lalu
berbicara pada Riko. “tolong gw, gw baru aja di tusuk pisau sama seseorang. Tolong gw Rik” ucap
Mira, kesadarannya perlahan mulai menghilang, namun Mira masih bisa melihat wanita itu, ia
mendekati Mira perlahan-lahan sembari tetap menatap dengan pandangan menyeringai.

Mira berusaha bergerak mundur namun tubuhnya sudah lemah lunglai akibat banyaknya darah yang
sudah keluar dari dalam tubuhnya.

“MIR-MIRA. GW BAKAL MINTA BANTUAN, LO LAKUIN SESUATU YANG BISA BIKIN


LO TETEP IDUP. MIR…..”

Si wanita merebut gagang telepone lalu menutupnya. Ia kemudian meletakkan buku itu di depan
Mira lalu berbisik lirih, “ngapunten, kulo kudu ngene, iling-ilingen mbak, Bayu saseno, jeneng iku
kudu mok golek’i” (maaf, saya harus melakukan ini, ingat-ingat mbak, Bayu saseno nama yang
kamu cari setelah ini).

Setelah meletakkan buku di depan Mira, wanita itu melangkah mendekati jendela, ia kemudian
menaiki rangkaian besi di sekitarnya. Mira terpaku tahu apa yang akan dia lakukan.

“Mbak jangan mbak!! mbak!!” teriak Mira.

Mira berusaha bangkit, memaksa tubuhnya untuk berdiri namun ia gagal, seluruh persendiannya
sudah lemas, bahkan sebagian tubuhnya sudah tak dapat di gerakkan. Sesuatu yang seharusnya Mira
bisa hentikan namun rupanya menjadi pemandangan terakhir yang harus Mira saksikan saat wanita
itu melompat begitu saja keluar dari jendela tepat dari lantai tujuh tempat Mira berada.

8
perlahan semuanya menjadi sunyi senyap.

Mira melirik buku itu yang di letakkan tepat di hadapannya, terbuka satu halaman dengan coretan
darah kental, di atasnya tertulis sebuah bentuk kalimat yang Mira tak mengerti sama sekali.

“SANG ANGKARA”

perlahan semuanya Mendadak gelap.

Alunan kendang dan gending beradu dalam buaian musik yang memabukkan di ikuti gerakan luwes
badan seorang penari yang mengenakan topeng kayu dari pohon Sono, Mira mengamati acara
ludruk malam ini dengan tawa bersuka cita, ludruk sendiri adalah sebuah kesenian tari yang biasa di
ikuti dengan senda gurau dimana penonton biasa di libatkan dalam lakon dan drama. pertunjukan
ludruk sendiri sudah lama di kenal di tanah jawa bahkan sejak dulu kala, salah satu dari banyaknya
kekayaan budaya khas nusantara.

suara tawa penonton terdengar sesekali manakala si penari yang kebanyakan di perankan oleh lelaki
melontarkan candaan kepada lawan main yang biasa di sebut lakon di dalam seni pertunjukan. Mira
dan penonton lain tampak begitu antusias, bersama dengan anak-anak desa Mira duduk di barisan
paling depan. usia Mira sendiri belum menginjak sepuluh tahun bersamaan dengan anak-anak lain
yang sebaya dengannya. manakala ketika si penari mulai menekuk badan mengikuti gerakan dan
dendang nada dari gamelan yang di tabuh tiba-tiba dari tempat Mira bersila di atas rumput
mendadak menjadi sunyi senyap. Mira terdiam gelisah karena sewaktu saat pertunjukan ludruk
sedang berlangsung Mira melihat sesosok wanita berambut panjang yang memiliki tinggi nyaris
lebih dari 2 meter, ia tiba-tiba hadir dan berdiri di belakang sang penari. dengan hanya berbusana
seperca kain putih yang lusuh ia menunduk dalam diam, Mira tertuju pada tangan dan kuku jarinya
yang panjang sekali, tak hanya itu ia juga memiliki Rambut yang panjang tergerai tak berujung,
Mira menatap sosok itu yang kini seperti sedang memperhatikannya.

Mira masih tertegun menatapnya terlebih saat Mira baru sadar tempat ia bersila tak lagi di temukan
keramaian yang sebelumnya di penuhi warga kampung yang sedang menyaksikan ludruk. Lapangan
rumput itu kini menjadi tempat kosong yang sunyi senyap sebelum perlahan Mira melihatnya, entah
bagaimana sosok itu muncul satu persatu di sekitar tempat Mira duduk.

“MIRAAA” ucap sosok itu mendekatinya. “mrinio nduk” (kesini nak).

Mira tak menggubris ucapan sosok itu, namun Mira tak dapat mengabaikan sosok lain yang kian
lama kian ramai, mulai dari sosok tanpa kulit yang di bungkus kain kafan, hingga sosok hitam besar
dengan bulu lebat yang memenuhi tempat itu.

Mira gemetar menyaksikannya, ia tak mengerti bagaimana ia bisa sampai di tempat ini. Sebelumnya
yang ia lihat hanyalah warga dan anak-anak desa namun sekarang, tempat ini justru di penuhi
makhluk-makhluk yang biasa hadir di dalam mimpi Mira.

“nduk” sosok itu mendekat, caranya berjalan begitu aneh. Ia tak mengangkat kakinya melainkan
menyeret kakinya. Mira merangkak mundur namun sosok itu mendekat lebih cepat, Mira tersudut
karena yang terjadi tempat itu sudah di penuhi balak lelembut.

Tangannya yang kurus kering menyentuh kepala Mira. Ia membelai rambut Mira dengan begitu
lembut, wajahnya yang tertutup rambut kini mulai nampak di depan mata Mira, wajahnya sayu,
tampak begitu menderita, air mata’nya menetes dan ia membisikkan sesuatu kepada Mira.

9
“JANUR IRENG IKU TONDO PITU LAKON ISOK DIKALAHNO, NANGING DALAN IKU
ISEK SUWE, AMERGO LORO BAKAL DI RASAKNO KABEH KANGGO NGADEP RATU”
(JANUR HITAM ADALAH PERTANDA BAHWA SANG TUJUH BISA DI KALAHKAN,
NAMUN JALAN ITU MASIH LAMA, KARENA SAKIT AKAN DI RASAKAN OLEH SEMUA
UNTUK DAPAT BERTEMU DENGAN SANG RATU)

Mira tersentak membuka mata. keningnya berkeringat dengan tangan gemetar hebat, Mira terdiam
menatap sekeliling, untungnya tak di temuinya pemandangan mengerikan itu. Sudah lama sekali
Mira tak memimpikan peristiwa itu yang hingga saat ini masih sulit untuk di bedakan oleh dirinya
sendiri apakah pengelihatan itu adalah bagian dari ingatan di masa lalunya ataukah hanya sebuah
mimpi yang datang secara tiba-tiba. mata Mira teralihkan pada jarum infus di tangannya, ia tak
mengerti kenapa bisa sampai ada di tempat ini saat, ngilu di bahu’nya tiba-tiba terasa menyakitkan,
Mira baru sadar dengan apa yang sebelumnya terjadi.

Seorang wanita misterius yang mengenakan blazer merah datang menemuinya, entah apa yang
terjadi setelahnya karena hal terakhir yang Mira ingat adalah ia melompat keluar dari jendela tepat
di lantai tujuh tempat kantor Mira berada.

Tak beberapa lama seseorang membuka pintu. Mira menoleh melihat seorang lelaki jangkung
dengan jenggot tebal dan rambut hitam tebalnya melangkah masuk.

“Mira, lo udah sadar?”

Mira tak menggubris pertanyaan lelaki itu melainkan Mira justru bertanya tentang sesuatu yang
lain. “Rik, dia mati?”

“mati? Siapa?” tanya lelaki bernama Riko itu.

“perempuan itu, dia yang nusuk gw”

Riko tidak mengerti maksud Mira. “sorry. Tapi kayanya ada yang salah di sini?”

“salah” “-salah gimana maksudnya?” tanya Mira.

“yang nusuk bahu lo itu” Riko terdiam lama, “diri lo sendiri”.

** “MATAMU!! MAKSUD LO GW YANG NUSUK BAHU GW SENDIRI BEGITU” teriak Mira


tak mengerti.

“tenang Mir, kondisi lo masih belum stabil.” Ucap Riko menenangkan, “lo inget di ruangan kita ada
cctv yang baru di pasang beberapa bulan lalu?”

“iya. Inget” ucap Mira.

“jadi, setelah gw denger lo teriak, gw langsung pergi menuju kantor, dan di sana gw lihat lo udah
terkapar dalam keadaan kritis dan darah lo ada di mana-mana” Riko terdiam sejenak menatap
ekspresi Mira, “masalahnya gak ada siapa-siapa di sana, cuma ada lo”

“bentar” ucap Mira, “waktu lo datang. Lo gak lihat ada perempuan jatuh, lompat dari kantor kita”

“gak ada” ucap Riko dengan wajah yakin. “gak ada siapapun di sana ataupun lompat. Gak ada
Mir!!” “trus? Lo ngecek cctv?” tanya Mira masih penasaran.

10
“ya. Itu yang gw lakukan sama security yang bertugas saat itu” Riko terdiam, ia melipat tangan
sebelum melanjutkan ceritanya. “di cctv, gw lihat lo masuk ke ruangan kemudian duduk, entah apa
yang lo lakuin, gak jelas, kayanya lo lagi baca buku atau jurnal dan setelah lo duduk, lo berdiri
kemudian keluar dari ruangan” Riko menatap mata Mira “gak beberapa lama, lo balik dengan
kondisi membawa pisau, dan hal berikutnya adalah, ya.. lo udah tahu akhirnya, lo nusuk bahu lo
berkali-kali sambil tertawa. Aneh tau gak. Kalau lo gak percaya, gw bakal tunjukin rekamannya”

Mira hanya diam, ia tak percaya sedikitpun dari apa yang di ucapkan oleh Riko.
“di mana jurnal gw?”

Riko merogoh isi tas’nya mengeluarkan jurnalnya, memberikannya kepada Mira.

“ada lagi? Buku kulit? Lo lihat kan, warnanya cokelat?”

Riko hanya menatap Mira binung, “gak ada lagi Mir, hanya ini yang ada di sana”

“ada lagi bangsat!!” teriak Mira, “di meja gw ada buku kulit warnanya cokelat dan ada tulisan
aksara jawabanya!!”

“gw gak lihat Mir-” ucap Riko.


.
Mira tak tau apa yang terjadi, ia yakin bila ada seorang wanita misterius yang menusuknya lalu
bagaimana mungkin tiba-tiba semua ini menjadi dirinya sendiri yang menusuk bahunya.

Mira membuka Jurnal, melihat satu-persatu halaman di dalamnya, namun Mira merasa ada yang
salah dengan jurnalnya. Riko yang mengamati Mira tampak menyadari dari ekspresi wajah Mira
yang seperti kebingungan.

“ada apa Mir, ada yang salah?”

Mira menoleh menatap Riko, “ada yang sengaja ngerobek beberapa halaman jurnal gw!”

Mira kembali melihat halaman-halaman di dalam jurnalnya satu persatu itu sampai ia berhenti di
sebuah halaman lain, di sana tertulis sebuah pesan yang entah di tulis oleh siapa.

“Bayu Sasono iku lawang sing mok golek’i, tapi kuncine onok nang Intan Kuncoro” (Bayu Sasono
adalah pintu yang harus kamu cari, tapi kunci dari pintu itu ada pada nama Intan Kuncoro)

Mira terdiam merenung sesaat. Ada sesuatu yang sedang menunggunya, siapa nama-nama ini. Mira
tak mengerti sama sekali.

11
** terdengar suara pintu di ketuk.

“nduk, awakmu jek gak enak tah?” (nak, badanmu masih gak enak?)

“iyo pak. Enten nopo?” (iya pak. Memang ada apa?)

“iki loh, onok tamu kepingin ketemu” (ini loh ada tamu yang ingin bertemu)

“sopo?” (siapa)

“metu dilek to nduk, bapak gak enak wes kadong ngomong nek onok awakmu nang omah” (keluar
dulu dong nak, bapak gak enak karena sudah terlanjur bilang kalau kamu ada di rumah)

“nggih pak” (baik pak)

Pintu terbuka. Langkah kaki terdengar di sepanjang lantai tanah di dalam rumah gubuk itu,
manakala langkah kaki sampai di muka pintu rumah, sosok lelaki yang mengenakan kemeja putih
itu menatap sayu.

“Sri, piye kabare, aku teko mrene kepingin nyampek’no hal sing ngganjel sampek sak iki?” (Sri,
gimana kabarnya, aku datang kesini ingin menyampaikan sesuatu yang mengganjal sampai saat
ini?)

“tentang opo mas?” (memangnya tentang apa mas?)

“Kuncoro dan awal mula Janur Ireng”.

12
Mobil melaju di atas jalanan beraspal dengan pemandangan pohon besar nan tinggi di sekitarnya.
Langit mendung, Sri menatap lurus jalanan yang ada di depannya. Aneh. Tak di temui pengendara
lain di jalan ini selain dirinya sendiri seakan jalan panjang ini tak pernah di lewati lagi oleh
siapapun. Sugik sendiri terlihat fokus menyetir tanpa mengeluarkan sepatah katapun seakan Sri
tidak pernah ada di sampingnya.

Setelah lama berkendara, terdengar suara gemuruh di atas langit, sebuah pertanda akan datangnya
badai. Sri hanya diam, teringat bagaimana Sugik mengatakannya tadi, sesuatu tentang “Janur
ireng”. Sebuah kepingan puzzle yang entah bagaimana membuat Sri begitu tertarik untuk tahu
peristiwa apa yang sebenarnya terjadi pada sebuah keluarga bernama “Kuncoro”. Kepingan puzle
yang sampai saat ini masih tercecer di hadapannya.

Mobil tiba-tiba berhenti di depan sebuah jalanan buntu yang tertutup oleh pohon besar nan tinggi, di
sekitarnya di penuhi rumput dan ilalang liar yang rimbun. Sugik menatap Sri memberikan gestur
tanda mengangguk sebelum melangkah keluar bersama-sama. Pandangan Sri menatap ke arah
rumput dan ilalang liar yang ada di hadapannya. Dalam hati, Sri bertanya-tanya, tempat apa
sebenarnya ini.

Sugik melangkah ke bagasi mobil di belakang, ia mengeluarkan sesuatu dari sana, ketika Sri
memandangnya ia melihat Sugik mendekat dengan dua bilah parang panjang.

“kediamane Kuncoro onok nang walek’e kebon iki” (kediaman rumah Kuncoro ada di balik rumput
ini)

Sugik melangkah lebih dahulu, ia melewati Sri sebelum menyabitkan parangnya membuka jalan
dan Sri mengikutinya dari belakang.

Tercium bau busuk aroma yang tidak mengenakan saat Sugik dan Sri berjalan bersama, aroma
bangkai yang seperti sudah lama membusuk namun Sri tak mengerti bebauan apa yang ia cium.

Sugik terus menerus memangkas rumput dan ilalang liar yang ada di depannya, tanpa
memperdulikan aroma itu Sugik terus menembus lahan yang luasnya hampir berhektar-hektar. Ia
tak mengerti, sehebat dan sekaya apa pemilik lahan ini dan bagaimana tempat ini bisa di tinggalkan
begitu saja.

Langit masih mendung dengan gemuruh guntur yang sesekali terdengar hingga akhirnya setetes
hujan mulai turun, Sugik seperti tahu panggilan alam maka ia mempercepat langkah dan sabitan
parangnya sementara Sri sudah memegangi kepalanya saat hujan semakin deras, tiba-tiba Sri
mendengarnya, lewat sayup-sayup angin yang berhembus Sri mendengar suara teriakan orang-
orang dari balik semak-belukar dan lahan ilalang liar suara dari orang –orang yang menjerit
tersiksa, Sri berhenti melangkah, matanya menatap sekeliling, namun tak di temui apapun selain
ilalang liar yang bergesekan satu sama lain karena angin sebelum Sri melihatnya.

Sesuatu yang melintas begitu saja di antara ilalang, seorang perempuan berambut pendek yang
menatap dirinya. Matanya cokelat dengan senyuman yang manis, ia mengenakan gaun putih dengan
corak khas arsir jawa, ia melintas lalu lenyap di balik ilalang lain, Sri tiba-tiba merasakan firasat
yang tidak menyenangkan.

13
Tatapan sosok itu seakan menghipnotis dirinya. Merasakan senyuman manis itu seperti sebuah
kutukan pedih yang pernah Sri lihat ketika Sabdo Kuncoro tersenyum untuk terakhir kalinya saat
makhluk hitam itu memelintir kepalanya sebelum melemparkannya di hadapan Sri.

“Sri. Kowe gak popo” (Sri, kamu gak papa?) tanya Sugik, ekspresi wajahnya tampak khawatir.

“gak popo mas” (gak papa mas) jawab Sri,

“yo wes, ayok. Udan’e tambah deres” (ayok. Hujannya semakin deras) sahut Sugik menarik tangan
Sri.

Di balik jalanan bersemak yang Sugik buka, Sri melihat sebuah rumah tua dengan bangunan
bergaya pendopo, begitu luas, begitu megah, namun tak lagi terawat. Di sana-sini di temukan sulur-
sulur tanaman merambat liar dan pohon-pohon beringin besar yang tumbuh di sekitar halaman.
Sugik kembali menarik tangan Sri, membawanya mendekati teras rumah, di sana Sri bisa
merasakan bahwa rumah ini pasti sudah di tinggalkan bertahun-tahun hingga tak ada lagi kehidupan
yang tersisa di tempat ini. Hanya sebuah lahan tua yang di penuhi kengerian, tiba-tiba terdengar
suara pintu berderit terbuka, Sugik ada di sana, menatap Sri.

“masuk Sri, bakal tak duduhi opo iku sing jeneng’e Janur Ireng” (Masuk Sri, akan aku tunjukkan
apa itu Janur hitam)

Sugik berjalan di atas lantai kayu, langkah kakinya menggema di sepanjang rumah besar ini yang
sebagian di bangun dengan kayu jati dan ukiran khas jawa yang begitu kental. Bermodalkan lampu
petromaks yang Sugik temukan di atas meja, Sugik melangkah dengan cahaya pijar menelusuri
lorong yang di penuhi pintu-pintu tua yang bercorak gelap gulita tak terjamah.

Beberapa kali Sugik berhenti, menerangi beberapa sudut seakan di rumah itu ada sesuatu yang
mengamatinya. Sri sendiri merasakan sesuatu yang tidak mengenakan, beberapa kali sayup suara
orang menangis terdengar dari jauh namun Sri tidak yakin dengan perasaannya.

“nang ndi mas?” (di mana mas?)

“mari ngene Sri” (sebentar lagi Sri)

Sugik terus berjalan, gemuruh dan suara gerimis hujan masih terdengar di luar namun mereka
seakan tak perduli dan terus melanjutkan langkah mereka hingga sampailah di sudut ruang paling
gelap.

Sugik mendorong pintu itu, dan di dalamnya ia menemukan satu kursi tua yang ada di tengah ruang
besar itu.

Sri tak mengerti kenapa Sugik membawanya kesini. Ia pun tak tahu menahu sampai Sugik menatap
ke langit-langit. Sri mengikuti mata Sugik.

Tepat di atasnya. Ada sembilan belas Janur ireng yang di ikat dengan berhelai-helai daun pandang
kering.

Sugik meletakkan petromaks di atas satu kursi itu, sementara mata Sri masih menatap sekeliling,
bingung, ia pun mendekati Sugik saat jejak kakinya terasa aneh, seperti ia menginjak genangan air,
ketika Sugik meninggalkan kursi itu, cahaya pendar dari lampu petromaks yang menyala akhirnya
menyorot ruangan kosong itu.

14
Sri tercekat saat sadar, dirinya tengah menginjak lantai kayu yang di genangi darah kental yang
masih segar ia menatap Sugik yang juga menatap dirinya.

“getih sing onok nang kene, gak isok garing. Iki getih’e wong sing dadi tumbal amergo Janur Ireng”
(darah yang ada di sini, tidak pernah bisa mengering. Ini adalah darah dari semua orang yang sudah
menjadi tumbal janur hitam)

Sugik terdiam lama sebelum matanya beralih pada kursi dengan lampu petromaks itu.

“itu adalah kursi tempat Arjo Kuncoro merobek isi perutnya sambil tertawa dan berteriak bahwa
semua akan mendapatkan pembalasan yang setimpal”

“Janur ireng iku tentang getih sing di mulai amergo manten nyowo” (Janur hitam adalah tentang
darah kental di atas sebuah pernikahan bermodal nyawa)

“sakjane getih ambek banyu iku podo sing mbedakno mek getih iku luweh kentel, tapi sak kentel-
kentel’e getih iku gak onok opo-opo’ne nek wes berurusan ambek regane awak” (sebenarnya darah
dengan air itu sama saja, yang membedakannya hanyalah darah lebih kental namun sekental-
kentalnya darah tak akan ada artinya bila sudah berurusan dengan harga diri seseorang).

Sugik menuntun Sri meninggalkan bangku kosong, membawanya berjalan menelusuri lantai kayu di
sepanjang ruangan megah tersebut. sesekali Sri mengedarkan pandangan ke sekeliling, mengamati
setiap darah yang tergenang di sepanjang ruangan ini, nyaris Sri bisa melihat bercak—seakan darah
itu di muntahkan. Entah apa yang terjadi di masa lampau namun bila melihat semua ini pastilah
pristiwa itu bukan peristiwa sembarangan. Suara dari langkah kaki Sugik menggema, menyebar ke
segala penjuru, kegelapan pekat tak mengendurkan warna dari darah yang merah kehitaman kering
menutup plitur dari lantai kayu yang berubah menjadi warna bernoda hitam pekat.

“koyok jek wingi, kedadean iku nang ngarepku” (seperti baru kemarin, kejadian itu terjadi di depan
mataku).

Sri masih mengikuti langkah kaki Sugik, sementara suara-dari mulut sugik terdengar lantang di
telinganya. “Sri aku ngerti awakmu jek bingung lapo isok tak gowo nang kene” (Sri, aku mengerti
pasti kamu masih bingung kenapa bisa ku bawa ke tempat ini)

Sri hanya diam saja, namun yang ia tahu Sugik mengatakan itu tepat di depan sebuah pintu besar.
Sugik menoleh menatap mata Sri, ia sempat tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya. “soale ben
aku nyawang awakmu sing tak delok iku den Sabdo—” (karena setiap kali aku melihatmu rasanya
seperti aku melihat tuan Sabdo di hadapanku).

Sri tak mengerti apa maksud kalimat Sugik, namun ini pertama kalinya ia melihat Sugik
menampilkan ekspresi bersedih di depan wajahnya. “paling perasaanku tok, ra usah di pikirno Sri”
(atau mungkin hanya perasaanku saja, sudahlah gak usah terlalu di pikirkan) Sugik kembali
menatap pintu, ia melepaskan satu persatu engsel kayu yang mengganjalnya, meletakkannya di atas
lantai lalu mendorong perlahan pintu sembari berujar lirih, “nang kene kabeh di mulai” (dari sini
semuanya di mulai).

15
*** Sugik melangkah keluar dari pintu, di hadapannya terbentang sebuah latar taman yang begitu
luas dengan banyak pohon beringin yang tumbuh di sekelilingnya. Tempat itu begitu teduh, sangat
cocok bagi mereka yang ingin mencari ketenangan. Hamparan hijau dan lebatnya bunga-bungaan
membuat siapapun akan kerasan bila ingin menghabiskan waktu sepanjang hari duduk dengan
pemandangan gazebo di beberapa titik.

“gik. Mrino, tambah ngelamun” (gik. kesini. kok malah ngelamun) panggil seorang lelaki berambut
cepak dengan kemeja batik, Sugik segera berlari kecil mendekatinya. “koen iku lapo, opo sing mok
delok iku” (kamu itu ngapain, apa yang kamu lihat itu).

Sugik tersenyum malu-malu mendengarnya. “apik mas kebun’e” (bagus mas taman’nya)

Lelaki berambut cepak itu tertawa, “yo mesti ta’lah sing nduwe ae guk wong sembarangan” (ya
iya’lah, yang punya aja bukan orang sembarangan). Sugik mengangguk mengerti apa yang di
maksud saudaranya.

“mas Sugeng kerasan tah kerjo nang kene” (mas Sugeng memang kerasan kerja di sini) tanya Sugik,
ia menatap kakaknya yang memang sudah lama mengabdikan dirinya terlebih dahulu kepada
keluarga besar, salah satu dari orang paling kaya yang pernah di temui di wilayah ini.

“yo ngunu gik, kerjo yo kerjo, di omong’ke kerasan yo kerasan. Enak kok, sing penting ojok lali
ambek posisine awak dewe.. yo” (ya begitu’lah gik, kerja ya kerja, di bilang kerasan ya kerasan,
enak kok, yang penting sadar diri saja di mana posisi kita). Sugik mengangguk. Ia mengerti maksud
ucapan kakaknya, menyusuri langkah di taman tiba-tiba mata Sugik melihat sebuah latar cukup
besar di antara tumbuh-tumbuhan di sekelilingnya, ada 4 perempuan tengah menari di tengah-tanah
lapang itu. Mereka berlenggak-lenggok begitu memukau memainkan setiap lekuk gerakan tubuhnya
membius siapapun yang menatapnya, di belakangnya beberapa orang tengah memainkan gamelan
dengan tabuhan berirama yang menyenangkan, sorot mata mereka semua tampak begitu bahagia
menikmati dendangan dari suara gendang dan gending yang beradu menjadi satu di saat itulah
Sugik melirik seorang lelaki paruh baya dengan busana hitam yang di buat dari kulit binatang
dengan bawahan bermotif lurik hitam ia terlihat begitu berbeda di bandingkan dengan yang lain.
Blankon di atas kepalanya menambah wibawa bahwa ia bukanlah orang sembarangan. Ia begitu
tenang duduk di bawah atap gazebo, di sampingnya ada 2 perempuan yang berdiri
mendampinginya.

Sugik penasaran. Siapa lelaki itu, apakah dia yang di ceritakan oleh mas Sugeng, dia yang menjadi
kepala keluarga di kediaman megah ini, rupanya tak butuh lama bagi Sugik untuk tahu siapa
gerangan lelaki yang benar-benar memiliki sesuatu yang membuatnya benar-benar terlihat berbeda
karena setelahnya mas Sugeng menarik lengan Sugik sebelum mengatakan semua.

“niku Arjo Kuncoro, tiang kepala keluarga nang kediaman iki. Awakmu tak gowo mrene mergo sak
iki, tuan Arjo butuh sopir. Awakmu sanggup gik nek ketemu ambek tiang sak niki” (itu adalah Arjo
Kuncoro, orang yang sekarang mengepalai sebagai pemilik kediaman besar ini. Kamu ku bawa
kemari karena saat ini tuan Arjo sedang membutuhkan tenaga seorang supir. Kamu siap apa tidak
bila bertemu dengan beliau sekarang juga) tanpa membuang waktu, Sugik mengangguk.

Tak lama, perempuan yang ada di samping Arjo mendekati Sugeng ia berbisik sembari menatap
Sugik, “dek. Tuan Arjo kepingin ketemu. Sak iki temonono” (dek tuan Arjo ingin bertemu,
sekarang temui beliau)

16
Sugik mengikuti perempuan itu di mana tuan Arjo masih duduk menikmati seni tari di hadapannya.
Sugik merasakan sesuatu yang aneh ketika mendekati lelaki itu, entah kenapa ada sesuatu yang
membuat Sugik merasa begitu segan saat berada di dekatnya.

“sopo jenengmu le?” (siapa namamu nak?) itu adalah pertama kali Sugik mendengar suara tuan
Arjo untuk pertama kalinya. Suaranya begitu berat, menegaskan bahwa lelaki di hadapannya ini
benar-benar bukan orang sembarangan.

“Sugik, tuan”

Arjo menatap Sugik, ia mengamati wajahnya sebelum berdiri dan berlalu meninggalkannya. Sugik
terdiam tak mengerti kenapa ia di tinggalkan begitu saja di sini, bingung dengan apa yang akan
terjadi selanjutnya Sugik menoleh menatap Sugeng yang memberikan gesture agar Sugik
mengikutinya, tahu maksud saudaranya Sugik langsung berlalu mengejar tuan Arjo yang sudah
berada di ujung taman.

Langkah kaki tuan Arjo saat berjalan begitu cepat hingga Sugik harus setengah hati berlari kecil
untuk bisa menyusulnya, tak mengerti kemana Sugik akan di bawa tiba-tiba terdengar suara lembu
di telinganya.

Lorong itu di penuhi dengan suara-suara binatang peternak, di samping kanan-kiri juga banyak di
temukan rumput kering menegaskan bahwa tempat ini adalah tempat di mana semua binatang
peternak milik keluarga Kuncoro berada. Setelah melangkah dalam diam, tuan Arjo membuka satu
pintu di mana di dalamnya ia melihat banyak sekali kerumunan kambing berbulu hitam tengah
mengunyah rumput, aroma kandang begitu memuakkan namun Sugik mencoba menahan semua itu.
Ia masih tak mengerti kenapa tuan Arjo membawanya ke tempat seperti ini.

Tak beberapa lama, tuan Arjo menarik satu kambing hitam menuntunnya keluar dari dalam kandang
berhenti tepat di hadapan Sugik.

“le, aku kepingin takon ambek awakmu. Opo awakmu siap kerjo ambek aku?” (nak, aku ingin
bertanya sama kamu. Apakah kamu yakin siap bekerja untukku?)

Sugik masih tak mengerti maksud tuan Arjo Kuncoro namun perasaan aneh yang janggal tiba-tiba
terasa di dalam hati Sugik, ada ketakutan saat memandang wajah tuan Arjo begitupula dengan
sosok kambing yang ada di hadapannya.

“nggih tuan. Kulo siap” (baik tuan. Saya siap)

Tuan Arjo tersenyum sebelum menyalami Sugik namun ada yang salah, saat ia menjabat tangan
Sugik ia menyentuh lengan hingga penghujung siku seakan meraba tangan Sugik sebelum
menariknya kembali. Tuan Arjo lalu mengambil sebuah parang yang di letakkan di sela tembok
gubuk, mendekati Sugik dan kambing hitam itu. Sugik menatapnya di mana mata tuan Arjo tampak
menyelidik mengamati Sugik sembari mengelus bulu kambing hitam itu saat keheningan ganjil itu
memenuhi tempat itu dengan cepat saat itu juga tuan Arjo Kuncoro menghunuskan parang ke leher
kambing hitam itu, menggoroknya dengan cepat sebelum menahan darah yang keluar dari leher
kambing itu dengan kedua tangannya. Ia mengadah darah kental itu sebelum menatap Sugik.
“bukak’en lambemu le” (buka mulutmu nak) bagai seseorang terbius Sugik membuka mulutnya,
darah kental di tangan tuan Arjo Kuncoro menelusup masuk melalui tenggorokan Sugik. Aroma
menyengat yang tak pernah Sugik rasakan tiba-tiba seperti membakar tubuhnya, Sugik terduduk

17
menatap tuan Arjo Kuncoro yang sekarang mengelus kepala Sugik sembari membaca sesuatu
seperti mantra yang Sugik tidak mengerti sama sekali.

Kepala Sugik seperti di hantam dengan gadah hingga membuat Sugik semakin goyah. Sugik
merintih memuntahkan isi perutnya tapi tak mengerti kenapa tiba-tiba tubuhnya menjadi seperti ini.
Hanya tatapan wajah tuan Arjo Kuncoro yang tersenyum menatapnya adalah pemandangan terakhir
sebelum semuanya mendadak menjadi gelap gulita.

Sugik terkesiap terbangun dari tidurnya, tubuhnya di penuhi peluh keringat dengan ekspresi wajah
ketakutan, belum pernah Sugik melihat hal sesinting ini suatu kengerian yang bahkan tak dapat ia
bayangkan sebelumnya. Sugik menatap ke sekeliling, ia terbangun di atas sebuah matras di dalam
ruangan yang di bangun dari bambu dan kayu, penerangan di dalam ruangan itu pun hanya sebatas
lampu pijar dengan gerakan hati-hati Sugik mencoba melangkah turun saat dari jauh terlihat
seorang pemuda tengah menatap dirinya dari jauh, pemuda itu lalu mendekat ke tempat Sugik,
membantunya agar dirinya bisa duduk.

“nang ndi aku mas?” (di mana saya ini mas?) tanya Sugik. ia menatap Anak muda di hadapannya
dengan wajah bingung, menanggapi pertanyaan Sugik pemuda itu hanya bisa tersenyuman sebelum
akhirnya ia mengatakan dengan suara lembut. “njenengan ada di rumah saya, sebelumnya
njenengan sempat tak sadarkan diri selama 3 hari 3 malam dan selama itu pula njenengan terus
mengigau berteriak-teriak minta tolong. Maaf bila saya lancang tapi apa yang njenengan lihat
sampai berteriak seperti itu?”

Sugik menunduk membuang muka dari pandangan pemuda misterius yang ada di hadapannya
dengan perasaan sedikit ragu Sugik menimbang keputusan, apakah ia harus menceritakan apa yang
ia lihat di dalam mimpinya kepada pemuda yang bahkan tak ia ketahui siapa namanya namun
melihat ekspresi pemuda itu yang tampak bersahabat, Sugik memutuskan untuk bercerita kepadanya
meski sebelumnya Sugik bertanya terlebih dahulu perihal siapa yang ada di hadapannya,
“ngapunten, saya boleh tahu nama njenengan?”..
pemuda itu mengangguk lalu berucap dengan nada suara lembut. “saya Bayu Sasono”.

** selama mendengarkan cerita Sugik, pemuda bernama Bayu itu hanya mengangguk sesekali
terkadang ia menggeleng seakan tak percaya, namun sejujurnya Sugik bisa menilai ia adalah
pendengar yang baik terlihat bagaimana ia menanggapi cerita Sugik karena apa yang Sugik lihat di
dalam mimpi bukanlah sesuatu hal yang biasa karena itu semua adalah bentuk dari sesuatu yang
konon tengah mengikat Sugik namun Bayu menahan diri, ia tak bisa menceritakan semuan kepada
Sugik karena jika ia melakukan hal tersebut sama saja dia telah memutus benang “Kaulo” dengan
keluarga besar yang saat ini sudah menjamin kehidupannya, salah satu dari keluarga yang bahkan
Bayu harus hormati, keluarga Kuncoro.
Bayu memberikan segelas jamu yang ia racik sendiri sebelum meminumkannya kepada Sugik,
benar kata Bayu; jamu yang ia minum setidaknya mampu menenangkan dirinya. Kini Sugik bisa
lebih tenang dibandingkan sebelumnya ia sekarang jauh lebih bisa menerima semua yang ia lihat
salah satu yang kini akan terus menghantui dirinya. “mas Sugik” kata Bayu, “sebentar lagi yang
jemput jenengan akan datang saya hanya bisa membantu sampai sini berikutnya semua keputusan
ada di tangan mas Sugik” kata Bayu sebelum meninggalkan ruangan tempat Sugik duduk.

Menceritakan semua yang Sugik lihat pada Bayu tentang mimpinya adalah keputusan di luar nalar
karena ia belum lama mengenal Bayu dan tentu saja mengandung resiko yang besar namun sekali
lagi melihat ekspresi wajah Bayu yang tampak tenang saat mendengarkan Sugik bercerita membuat

18
dirinya yakin bahwa pemuda yang ada di depannya itu tidak akan mengatakan kepada siapapun
tentang mimpi yang Sugik lihat, mimpi di mana Sugik menyaksikan dengan mata kepala sendiri
sebuah tragedi di mana terjadi peristiwa sinting di dalam kediaman Kuncoro dimana terbujur
gelimangan mayat manusia yang ke’semuanya tewas dalam kondisi mata melotot dengan di akhiri
sosok Arjo Kuncoro menggorok leher sendiri, memenggal kepalanya sebelum menari-nari di taman
rumah tepat di depan mata Sugik.

Suara klakson Mobil terdengar, Sugik melangkah turun dari dipan lalu mengintip kearah jendela di
sana ia melihat sebuah mobil hitam yang ia kenal berhenti tepat di depan rumah, salah satu mobil
milik keluarga Kuncoro yang biasa di kemudikan oleh mas Sugeng, Sugik terdiam memandanginya,
tak beberapa lama terlihat mas Sugeng melangkah turun sebelum membukakan pintu tempat di
mana Sugik bisa melihat tuan Arjo Kuncoro melangkah keluar.

Sugik membungkuk, berusaha agar dirinya tak terlihat oleh tuan Arjo dan mas Sugeng yang kini
berjalan menuju ke dalam rumah, tubuh Sugik mendadak gemetar hebat, bayangan di dalam
mimpinya seakan menguap melemparkan dirinya kembali di detik saat melihat Arjo menari-nari
dengan kepala yang sudah ia penggal dengan tangan sendiri, namun Sugik tiba-tiba teringat alasan
kenapa dirinya ada di sini yang tak lain karena darah kental dari seekor kambing hitam yang di
berikan oleh tuan Arjo sendiri, jadi apa sebenarnya yang di lakukan oleh tuan Arjo kepada dirinya.

“Mas Sugik” panggil seseorang, Sugik menoleh melihat Bayu berdiri di depan pintu kamar “tuan
Arjo sudah datang, beliau mau menjemput njenengan mas”. Sugik terdiam sebelum mengambil
pakaian yang di letakkan di samping dipan mengenakannya, terpikir dalam benak Sugik entah apa
yang sebenarnya terjadi kepada dirinya, tubuh Sugik tak henti-henti’nya gemetar yang membuat
dirinya merasa ragu apakah sanggup menatap mata tuan Arjo dengan pengelihatan mimpi yang
seperti itu namun Bayu mencoba menenangkan Sugik, ia menyentuh bahu Sugik sembari
mengatakan. “Mimpi iku mek kembang turu mas, gak usah wedi” (mimpi hanyalah penghantar
bunga tidur, jangan takut).

Sugik mengangguk.

Arjo Kuncoro tengah duduk di atas kursi kayu, matanya tajam dengan perawakan tubuh tinggi besar
untuk ukuran seseorang. ia jauh lebih tinggi dibandingkan mas Sugeng yang padahal adalah pemuda
tertinggi di kampung tempat Sugik berasal.

Sugik di dampingi Bayu, “nuwun sewu tuan, mas Sugik gak papa. Hanya belum siap nompo getih
gombel” (permisi tuan, mas Sugik gak papa, hanya belum siap menanggung beban darah kambing
hitam)

Arjo menatap Sugik dengan pandangan mata yang jauh lebih tajam, seolah menegaskan tak ada
keramahan di balik wajahnya yang memang terkenal keras.

“aku pancen sengojo nguji anak iki soale awakmu yo eroh dewe, musuhku iku akeh, aku mek
masti’no cah iki guk Kudro sing kudu tak lawan mene” (aku memang sengaja menguji anak ini
karena kamu tahu sendiri, musuhku banyak, aku hanya ingin memastikan saja dia bukan salah satu
Kudro yang nanti harus saya hadapi)

Bayu mengangguk.

Sugik tak mengira rupannya Bayu terlihat begitu tunduk di hadapan Arjo, suaranya juga terdengar
berbeda seakan gentar dengan seorang lelaki yang benar-benar tak bisa Sugik terka jalan
pikirannya.

19
“sak iki ceritak’no opo sing mek delok gok jero’ne ngimpi’mu le” (sekarang ceritakan apa yang
kamu lihat di dalam mimpimu, nak)

Seketika itu Sugik langsung diam mematung, ia bingung apakah harus menceritakannya, bila ia
mengatakan apa yang ia lihat apakah tidak membuat tuan Arjo melakukan hal-hal gila lain, sungguh
Sugik tak pernah tahu di balik nama Kuncoro tersimpan sesuatu yang benar-benar hitam.

Sugik bersiap berbicara saat Bayu tiba-tiba memotong dan mengatakannya.

“selama 3 hari 3 malam saya menemani mas Sugik, dia tak bermimpi apa-apa” Sugik terdiam,
dirinya bingung mendengar penuturan Bayu, namun ada hal yang membuat Sugik baru sadar
rupanya tuan Arjo bertanya bukan pada dirinya melainkan pada Bayu.

“opo awakmu yakin le..” (apa kamu yakin nak..)

“njenengan meragukan kemampuan saya?” sahut Bayu dengan wajah tampak lebih serius.

“koen ilingo, sing gowo awakmu sampe nang kene iku aku.. aku percoyo ambek omonganmu, tapi
nek sampek aku ambu batang awakmu ngerti resikone yo le..” (kamu ingat, yang bawa kamu ke
tempat ini adalah saya.. aku percaya sama ucapanmu tapi bila sampai aku mencium bau busuk
kamu mengerti resikonya bukan..)

Hening. Tuan Arjo memandang Bayu yang sama-sama saling melempar tatapan serius, tak ada yang
mundur dari tempatnya namun Bayu dan mas Sugeng yang berdiri di samping tuan Arjo merasakan
nyeri yang teramat sangat, tubuh terasa begitu berat, hingga akhirnya tuan Arjo berdiri.

“Bayu Sasono. Koen di anugerahi isok nerawang ngimpi menungso, ojok khianati aku—ilingo
awakmu sampe sak iki jek di ceng karo SOBO!!” ” ayok nak Sugik, sak iki kowe wes dadi
Abdi’ku” (Bayu Sasono, kamu sudah di angerahi bisa melihat mimpi seseorang, jangan pernah
khianati aku—ingat dirimu sampai saat ini masih di incar oleh keluarga SOBO!!”

Bayu mengangguk.

Sugik menatap Bayu, ia sempat terdiam mendengar ucapan tuan Arjo, “dapat menerawang mimpi”
ucap Sugik, benarkah hal itu memang ada lalu bila itu benar-benar bisa di lakukan oleh Bayu untuk
apa ia bertanya tentang.. namun sebelum Sugik menyelesaikan pemikiran di dalam kepalanya Bayu
mengatakan kepada Sugik. “njenengan iku jujur mas, tak ilingno maneh, keputusan onok nang
tangan sampean, sopo sing mati engkok njenengan sing mutusno” (anda adalah orang yang jujur
hanya itu yang bisa saya katakan, aku ingatkan sekali lagi.. keputusan ada pada diri anda, siapa
nanti yang akan mati semua ada di tangan anda)

Sugik tak mengerti maksud Bayu. “mati—siapa” “siapa memangnya yang akan mati” pertanyaan
itu terngiang-ngiang di kepala Sugik bahkan saat meninggalkan rumah Bayu, Sugik menatap Bayu
untuk terakhir kali-nya karena Sugik merasa mengerti ia tak akan melihat pemuda itu lagi, pemuda
yang memiliki sesuatu yang begitu hebat di dalam’ dirinya.

“Bayu Sasono” nama itu tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.

20
Mobil meninggalkan rumah gubuk menuju kediaman Kuncoro.

“itu lah yang terjadi kepadaku, aku hanya bertemu dengan pemuda misterius itu sekali dan mungkin
untuk terakhir kalinya juga karena setelahnya pemuda itu lenyap secara misterius bahkan tuan Arjo
tidak tahu kemana pemuda bernama Bayu Sasono itu pergi, ia hanya meninggalkan sepotong cincin
berbatu merah” kata Sugik , “setelah dari tempat itu aku jadi mengenal siapa tuan Arjo Kuncoro dan
betapa berkuasanya beliau sampai tak ada satupun orang yang berani menyentuhnya” Sugik tertawa
namun cara Sugik tertawa terlihat seperti ia tengah menertawakan dirinya sendiri “tuan Arjo
memiliki 3 orang anak, dua anak lelaki dan satu anak perempuan” kata Sugik seraya menelusuri
taman yang sudah di penuhi tanaman liar, Sri masih mendengarkan meski di dalam hati Sri, ia
bertanya-tanya perihal informasi yang baru ia dengar, “Bayu Sasono” entah kenapa nama itu
seakan-akan membuat dadanya terasa sakit padahal ia baru pertama kali mendengarnya, Sri tahu
Bayu Sasono bukanlah nama sembarang orang.

Di bawah gerimis saat hujan turun, Sri dan Sugik berjalan menapaki tanah yang berlumpur akibat
hujan yang tengah turun “nama anak Sulung tuan Arjo adalah Pras Anum lalu anak kedua bernama
Batra dan anak terakhir beliau adalah satu-satunya anak perempuan dari pernikahan tuan Arjo
Kuncoro dan Lasmini Kuncoro namanya adalah Intan Kuncoro” dleg, bagai petir di siang bolong
Sri sejenak menghentikan langkahnya, ia menatap Sugik yang juga menatap kearah dirinya tengah
berdiri diam. ada yang aneh perihal nama-nama yang Sugik sebut namun nampaknya Sugik juga
menyadari mimik wajah Sri yang kini berubah bingung.

“aku tahu Sri apa yang kau pikirkan, kau pasti bertanya perihal siapa Sabdo Kuncoro bukan? Kita
belum sampai di sana karena kau harus tahu aku membawamu kesini dengan maksud tujuan yang
sudah menjadi hutangku pada seseorang”

“seseorang” ulang Sri, Seperti yang di duga oleh Sri sebelumnya, Sugik tak memberikan informasi
–informasi ini dengan gratis, wajah mereka sama-sama menegang terlebih tubuh Sugik tampak
gemetar hebat namun tampaknya bukan karena suhu yang kini tiba-tiba turun, bukan juga karena
langit yang mulai menggelap lantas apa yang membuat tubuh Sugik gemetar hebat seperti itu
layaknya seseorang yang tengah menggigil karena sesuatu. Apakah karena ketakutan, Ketakutan
macam apa yang membuat Sugik menunjukkan reaksi seperti itu.

Tak jauh dari tempat mereka berdiri, di belakang terlihat pemandangan bermacam-macam
bangunan yang sudah lama tak terawat, gazebo-gazebo yang di buat dari bahan kayu tampak tak
berpenghuni, gelap, riskan dan begitu mencekam, lain halnya dengan bangunan-bangunan lain yang
sama tak terurusnya tempat ini benar-benar seperti layaknya pemakaman di mana Sri bisa mencium
aroma kematian di setiap langkah kakinya ketika berjalan. “di sana Sri, di sana aku harus
menunjukkan kepadamu bahwakita tidak dalam keadaaan baik -baik saja pasalnya cepat atau lambat
kita pun akan menjadi korban dari tumbal -tumbal berikutnya” .

Sugik menunjuk satu bangunan besar di balik pohon-pohon rindang yang di penuhi semak belukar
saat secara tidak sengaja Sugik melihat seorang perempuan tengah berdiri di bawah rintik hujan,
rambutnya pendek seperti di potong serampangan, ia mengenakan daster lusuh dengan kain longgar
hingga menyentuh lumpur, ia tengah berdiri sendirian dengan sebilah pisau di tangannya, awalnya
ia menatap Sugik sebelum beralih menatap Sri dengan tatapan mata penuh amarah.

21
Sri tercekat sama seperti Sugik, saat perempuan asing itu tiba-tiba berteriak dengan suara parau. ia
berlari menuju tempat Sri tengah berdiri mematung, bertanya apa yang tengah terjadi dan siapa
perempuan misterius itu saat Sri mendengarnya berbicara dengan suara paraunya “dadi koen sing
wes mateni tuan Sabdo, koen pantes mati pisan koyok anak-anakku!!!!!” (jadi kau rupannya yang
sudah membunuh tuan Sabdo, kau pantas mati juga seperti anak-anakku!!)

Terjadi pergulatan hebat antara perempuan misterius itu yang berteriak-teriak histeris seperti
kesetanan, ia mendorong Sri berjibaku di atas lumpur sembari berusaha menancapkan pisau itu
kearah wajah Sri, Sugik yang awalnya tertegun karena semua terjadi begitu cepat tanpa membuang
waktu Sugik segera menarik tubuh perempuan misterius itu membawanya menjauh dari tempat Sri
yang masih tersaruk di atas lumpur meski begitu perempuan misterius itu masih berteriak-teriak
memberontak , meminta agar Sugik melepaskannya sehingga ia bisa membalaskan dendam yang Sri
tidak mengerti maksudnya, kini sembari menatap Sri yang berusaha berdiri di atas lumpur, Sri
melihat Sugik berteriak kepada perempuan itu.

“Hentikan!! Tolong Hentikan Lina!!” teriak Sugik, Sri terhenyak saat melihat Sugik rupanya
mengenal siapa perempuan misterius itu. Setelah terjadi kekacauan yang tak pernah Sugik ketahui
itu kini Sugik mencoba menenangkannya, Sugik menatap Sri dimana Sri melihat sesuatu di bola
mata Sugik, emosi yang sama seperti perempuan itu meskipun samar Sugik tak bisa
menyembunyikannya dan Sri bisa melihatnya meski hanya setitik emosi itu. “Maafkan isteriku Sri,
dia dan aku baru saja kehilangan dua anak kami karena..” Sugik terdiam sejenak.

Sri merasa aneh, seperti ada yang salah di sini, entah tubuhnya atau apa Sri bisa merasakan suasana
di tempat ini kini terasa semakin mencekam seakan perasaan ini tiba-tiba muncul begitu saja.

“karena apa mas?” tanya Sri dengan wajah penasaran sementara wajah perempuan itu menunduk di
dalam tangisan yang suaranya terpecah oleh suara hujan yang tengah turun saat Sugik tiba-tiba
menyebut namanya. “Bokolono, ingon milik Kuncoro yang sekarang mengincar nyawa semua
orang yang terlibat karena kematian majikannya tuan Sabdo yang adalah seorang Kuncoro terakhir,
sekarang hanya tinggal menunggu giliran kapan dia datang dan menuntut nyawa kita”

“Bokolono”

** Sri tak mengerti. “Bokolono” apakah ia makhluk yang sama seperti layaknya “Sengarturih dan
Bonorogo” iblis hitam yang hampir merengut nyawanya.

Sri berjalan tepat di samping Sugik bersama dengan perempuan bernama Lina yang adalah isteri
dari Sugik. banyak pertanyaan yang kini muncul di kepala Sri, salah satunya apakah semua rentetan
kejadian sinting itu belum berakhir, Sri menoleh melirik mata Lina. ia tengah menatap Sri dengan
tatapan penuh kebencian, meski Sugik sudah menceritakan semua tentang ingon milik Kuncoro Sri
masih belum mengerti semuanya. namun setidaknya Sri sudah tahu bahwa hidupnya masih jauh dari
kata baik-baik saja.

“Bokolono adalah wujud dari manusia setengah kambing, ia mengikuti keluarga Kuncoro bahkan
sejak sebelum aku bekerja untuk keluarga ini, naif aku tak menyangka bila makhuk itu telah
mengambil kedua anak kami”

Sri hanya diam ia tak tahu harus berkata apa sementara suasana terasa semakin canggung membuat
Sri merasa semakin tersiksa dengan semua ini, apakah memang dirinya lah yang menjadi penyebab

22
utama dari rentetan semua mata rantai ini. Sugik menyingkirkan angsel berkarat dengan sebuah
linggis besi sebelum mendorong pintu yang lebih terlihat seperti pintu gudang tua, dengan satu
dorongan kuat pintu terbuka di mana aroma kotoran binatang langsung tercium.

tempat itu begitu gelap dengan rumput kering dan bebauan yang semakin lama semakin busuk.
“tempat apa ini mas” tanya Sri,

Sri mengawasi isi ruangan yang lebih terlihat seperti kandang kambing saat Sri mendapati sesuatu
yang aneh di atas dinding kayu gudang tua itu di mana tepat di hadapan Sri, ia melihat sesuatu yang
membuatnya tak dapat berkata apa-apa.

Sri terperanjat, mematung saat melihat apa yang ada di depannya tak dapat di percaya oleh logika di
mana tepat di dinding kayu bangunan ini terlihat dua anak lelaki bertelanjang dada dengan seperca
kain yang menutupi kemaluan tengah di gantung, tertempel di sudut dinding kayu dengan tangan
dan kaki di pasak menggunakan pasak kayu runcing yang membuat dua anak lelaki itu seperti
hiasan dalam dinding. Darah hitam keluar di antara luka membentuk siluet kengerian dari sayap
makhluk hina dina. Tanpa sadar Sri berjalan perlahan mendekati 2 anak lelaki yang tergantung itu,
memastikan apakah yang ia lihat benar-benar seperti yang ia pikirkan. wujud kepala anak itu seperti
kepala seekor kambing yang di jahit di antara leher dan kepala begitu aneh dan mengerikan. Sri
menatap Sugik dan Lina yang juga menatap ke arah dirinya sebelum Sugik mendekat dan
mengangkat linggis sebelum menusukkannya tepat di tubuh Sri.

“itu memang anakku—kau yang sudah membuatnya menjadi seperti ini, maaf Sri, hutangku adalah
nyawamu. Lihatlah dengan mata kepalamu sendiri, lihatlah, siapa Atmojo yang sebenarnya, siapa
Kuncoro dan bagaimana Janur ireng itu terjadi”

Sri terdiam, ia bingung dengan maksud ucapan Sugik sementara perlahan rasa nyeri di tubuh kini
mulai menyebar dari perut hingga ujung rongga mulut Sri terkatup kesakitan sementara ia
tersungkur jatuh, linggis yang menembus tubuh Sri benar-benar terasa menyakitkan, rasa ingin
meronta namun tubuh Sri tak mampu bergerak apalagi menggelinjang, Sri hanya bisa merasakan
bahwa ujung kakinya sudah mulai mati rasa dan perlahan semua itu akan menyebar menghantarkan
Sri pada kematiannya.

Sri memandang dua anak laki-laki dengan kepala kambing itu seperti tengah menatapnya,
tersenyum kepadanya lalu perlahan-lahan semua mulai menghitam saat—Sri mati ia mendengar
Sabdo Kuncoro memanggil dirinya.

Apakah neraka sedang menunggunya.

Sugik mengangkat tubuh Sri dengan linggis masih tertancap di tubuhnya ia hantamkan pada
sebatang pohon pisang yang sudah di ikat di atas ranting-ranting pohon seakan Sugik dan isterinya
akan membakar ranting tersebut.

tak beberapa, seekor kambing hitam mendekat, Sugik mengambil pisau lalu menggores lengan
milik Sri yang sudah lemas dengan sebilah pisau kecil. darah dari Sri ia teteskan ke mulut kambing
hitam itu dan dengan gerakan yang cepat Sugik menggorok binatang itu dan semuanya terjadi.
sesuatu yang akan membayar lunas hutang Sugik pada Sabdo Kuncoro.

23
SABDO KUNCORO

Mobil berjalan melewati pagar, Arjo duduk di belakang ia memperhatikan dengan seksama
pemandangan itu. sebuah pemandangan yang nyaris berbeda dengan pemandangan yang pernah
Sabdo lihat di tempat tinggalnya dulu. Rumah ini tak seperti rumah biasa dan ia bisa merasakannya.

Dari jauh, Sabdo melihat ada beberapa orang tengah berdiri seperti sedang menunggu kedatangan
mereka.

“mereka adalah anak isteriku, keluarga barumu le” kata Arjo tanpa menoleh pada Sabdo.

Mobil berhenti, mas Sugeng bergegas turun lalu membukakan pintu, di sana Sabdo terlihat ragu-
ragu keluar dari dalam mobil, “ayok mas, sudah di tunggu loh” kata mas Sugeng ramah. Di
hadapannya kini berdiri beberapa orang asing yang tak pernah Sabdo lihat sebelumnya, terdiri dari
seorang perempuan dewasa dengan satu anak perempuan, di samping mereka ada dua anak lelaki.
Dua anak lelaki yang bila di lihat dari mata Sabdo tampak terlihat lebih tua di bandingkan dirinya
sendiri hal itu jelas terlihat dari garis wajah dan tinggi mereka, mungkin usia mereka tak terpaut
jauh dengan dirinya dua atau mungkin tiga tahun lebih tua, sedangkan satu perempuan tampak
terlihat lebih muda dan bila benar Sabdo yakin ia seusia dengan dirinya. Dua anak lelaki itu berdiri
berdampingan mereka mengenakan pakaian yang sama seperti milik tuan Arjo, hanya saja warna
pakaian mereka berbeda. Sedangkan dua perempuan mengenakan gaun jawa dengan bahan yang
sama. Kedua rambutnya sama-sama di sanggul ke belakang menyerupai seorang ningrat dari jawa
kuno. Itu yang Sabdo tahu.

Sabdo melangkah turun, tak ada yang berubah dari ekspresi wajah mereka saat Sabdo melangkah
keluar dari dalam mobil, hanya tuan Arjo yang mendampingi Sabdo berjalan menuju ke tempat
mereka tengah berdiri tepat di depan Rumah besar tersebut.

Sabdo hanya diam tak kala ia melihat mereka satu persatu, keluarga ayah lain ibu. tak ada
percakapan di antara mereka sampai tiba-tiba seseorang menepuk bahu miliknya. “kau yang
bernama Sabdo” katanya dengan nada ramah, “bapak pernah menceritakanmu, aku Intan—Intan
Kuncoro”

Sabdo menatap perempuan di hadapannya ia menatap dirinya dengan senyuman yang membuat
Sabdo tak tahu harus bereaksi seperti apa. rambut di sanggul dengan hidung mancung, tinggi
mereka nyaris sama, dan bila tebakan Sabdo tadi benar pasti usia mereka tak terpaut jauh lebih
dekat di bandingkan dua anak lelaki yang masih menatapnya sengit. Perempuan yang sedang
berbicara dengan Arjo beberapa kali mencuri pandang melihat Sabdo entah apa yang ia katakan
dengan tuan Arjo namun sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan dan hal itu sesungguhnya
menganggu pikiran Sabdo.

“kenapa ia di bawa kesini, apakah hanya untuk bertemu dengan ister dan ketiga anaknya saja. Tidak
pasti ada sesuatu yang lain” batin Sabdo.

“ini adalah Isteriku Lasmini” kata Arjo tersenyum.

Lasmini adalah sosok keibuan terlihat bagaimana ia tersenyum dan membelai rambut Sabdo.

“dan ketiga anakku” kata Arjo. “Pras anum anak pertamaku, Batra dan terakhir anak perempuan
satu-satunya, Intan”

24
Arjo kini beralih menatap rumah besar di belakangnya. “Sabdo anakku, mulai detik ini kau pantas
mendapatkan namaku. Sabdo Kuncoro itu namamu”

** Di atas meja kayu besar dan panjang itu, Sabdo duduk di samping Intan Kuncoro di hadapan
mereka dua anak lelaki Pras dan Batra melihat Sabdo dengan tatapan yang tak tertebak, entah apa
yang mereka pikirkan Sabdo merasa mereka tak pernah menyukai dirinya semenjak menginjakkan
kaki di tempat ini namun Intan, Sabdo menatap perempuan itu, hanya dia yang menerima dirinya
lebih dari Arjo yang bahkan belum mendapatkan kepercayaan dari Sabdo sendiri.

Lasmini duduk di ujung meja, menatap lurus ke wajah Arjo yang juga duduk di ujung meja lain.
Makanan berlimpah di depan mereka tersaji begitu nikmat, daging rusa, sapi, kambing dengan
balutan buah-buahan, hidangan yang luar biasa dan Sabdo tak pernah merasakan kenikmatan seperti
ini saat ia masih tinggal bersama ibu handanya.

“dino iki, rayakno. Keluarga iki bakal dadi keluarga sing luweh kuat. Sabdo anakku, Kuncoro sing
tak enggal enteni.” (hari ini. Rayakan. Keluarga ini akan menjadi keluarga yang jauh lebih kuat.
Sabdo anakku, Kuncoro yang selalu di tungg). Ada ekspresi ganjil saat Sabdo melihat Arjo menatap
dirinya dengan senyuman tersungging di bibirnya sedang yang lain tak menunjukkan ekspresi yang
sama. Ada apa sebenarnya. Apa maksud kedatangan dirinya di rumah ini.

** “Den Sabdo. Tuan Arjo memanggil—” kata mas Sugeng mengetuk pintu, Sabdo melangkah
keluar di lihatnya di teras dua orang tengah duduk, Arjo menatap Sabdo memanggilnya agar ia
mendekat setelahnya dia menepuk bahu mengatakan kepada dua orang tua asing bahwa ia adalah
anak yang mewarisi “Canguksono”.

Dua orang tua itu menatap Sabdo, tak ada gelagat aneh kecuali satu di antara mereka menunduk
seakan memberikan hormat. “Canguksono” apa maksud kalimat itu.

Setelah percakapan di mana Sabdo tak tahu apa yang sedang mereka bahas, dua orang tua itu berdiri
satu dari mereka membawa tongkat panjang sepertinya terbuat dari kayu jati yang di pilin dengan
halus, hanya satu orang batin Sabdo, hanya satu orang dari mereka yang memberikan salam kepada
Sabdo.

Setelah dua orang itu pergi. Arjo menatap Sabdo. “kau melihatnya, dari dua orang itu bila aku
bertanya mana yang harus mati terlebih dahulu kau pilih yang mana?”

Kaget. Sabdo menatap Arjo, “saya tidak tau”

“Sabdo, aku yakin kau tahu. Kau melihatnya satu dari dua orang itu memang harus mati—”

“kenapa?” tanya Arjo.

“kau akan tahu kenapa? Katakan saja”.

25
Sabdo terdiam, ia memikirkan dua orang tua tersebut. Satu dari mereka begitu baik ia bisa melihat
dirinya menunduk memberikan rasa hormat kepada dirinya, namun yang satu lagi tak memandang
dirinya sama sekali maka bila tuan Arjo bertanya siapa yang pantas untuk mati tentu adalah orang
tua dengan kayu jati di pilin tersebut, entah apa maksud pertanyaan tuan Arjo kini Sabdo menatap
wajah tuan Arjo mengatakan dengan suara tegas. “lelaki tanpa tongkat dia harus mati”.

Tuan Arjo tersenyum ia berdiri dari tempatnya duduk mengulurkan tangan pada Arjo “ikut
denganku, akan ku tunjukkan sesuatu”.

Di sebuah ruangan kecil jauh dari rumah utama Arjo membuka sebuah pintu, di dalamnya ada anak
tangga kecil menurun ke bawah di sana ia melihat sesuatu yang aneh, lembar kain hitam di
sepanjang tembok yang di bangun dari kayu tak hanya itu di sana-sini Sabdo melihat banyak sekali
benda-benda unik seperti patung kerbau dengan dua ekor kambing tengah kawin, aroma bau bunga-
dan bau kemenyan begitu menyengat tak jauh dari tempat Sabdo menelisik keseluruhan ruang itu ia
melihat sebuah cawan berisikan abu dengan lembar-lembar foto setengahnya terbakar.

“buka bajumu nak” kata Arjo yang membuat Sabdo terkesiap kaget.

Arjo melepaskan pakaian miliknya menggantungkan di atas paku di tembok kayu tersebut, kini ia
tengah berdiri dengan sebilah pisau kecil di tangannya. “apalagi yang kau tunggu, buka bajumu”
perintah Arjo, tanpa bertanya Sabdo menuruti perintah Arjo, ia buka baju miliknya sementara Arjo
melangkah masuk ke dalam ruangan lain.
.
Sabdo tak tau apa yang akan di lakukan oleh Arjo karena setelahnya dia kembali dengan membawa
dua ekor kambing, yang satu berwarna kecokelatan dan yang satu berwarna putih bersih. Ia
mengikat temali yang melingkar di leher kambing tepat di tengah-tengah ruangan itu, sembari
masih mengasah pisau Arjo mengatakan kepada Sabdo, “lihatlah dua foto yang ada di tiang dinding
ambil satu orang yang kau bilang pantas untuk mati berikan foto itu pada kambing yang kau
kehendaki”

Sabdo tak mengerti maksud dari Arjo, lantas ia kemudian melihat bahwa benar adanya dua lembar
foto tengah di gantung pada tiang kayu, Sabdo bisa melihat nama-nama di bawah foto, “Menur
Arya” dan “Sekti jarok”.

“ambil—lalu berikan pada kambing yang kau pilih”

Di lihatnya lagi kedua lembar foto tersebut, Sabdo mengambil nama Sekti Jarok di lihatnya sekilas
sebelum mengambil foto itu, Sabdo bisa melihat Arjo tengah memandangi dirinya, ia tahu bahwa
tak hanya memandangi Sabdo, Arjo juga seperti menatap dirinya penuh kebanggaan sesuatu yang
tak pernah ia rasakan dari sosok seorang bapak.

Sabdo memberikan foto itu pada kambing berbulu putih bersih dan saat itu juga si kambing
melahap habis. Kini, Arjo mendekati Sabdo, ia menepuk tubuh anak lelaki itu yang bertelanjang
dada di lihatnya tubuh gempal tegap mengingatkan dirinya pada saat ayahnya Monokolo Kuncoro
mewariskan ilmu ini kepada dirinya.

Dengan gerakan cepat Arjo mengiris dada Sabdo, membuat pisau kecil di tangannya berlumuran
darah, aneh Sabdo merasakan sentakan yang begitu kuat, ia nyaris tumbang namun kakinya kokok
menopang dan sesuatu terbayang di kepalanya.

26
Ia melihat seseorang tengah mengendarai mobil di bangku Sopir, ia mengatakan sesuatu yang
terdengar seperti. “sudah—diam saja. Tugas kita memang begini, kita hanya perlu memberikan ini
atas perintah tuan Arjo, setelah kita memberikan ini kepada dia, kita balik”

Sabdo tak mengerti maksud pengelihatannya namun ia masih merasa terhuyung saat menyaksikan
Arjo meneteskan darah pada mulut si kambing putih dan setelahnya Sabdo tumbang.

SUGIK BAKHIR

dua minggu sudah Sugik bekerja di tempat ini dan selama itu juga kadangkala Sugik melihat hal-hal
ganjil, ia tak bisa menjelaskan semua dengan kata-kata karena setiap kali ia mau bercerita pada
Sugeng, Sugik tiba-tiba merasa dirinya di awasi.

Di rumah ini pula Sugik tahu bahwa ada lima orang besar, majikan yang harus dia turuti apapun
kemauannya namun siapa sangka satu persatu dari mereka memiliki rahasia sendiri-sendiri dan
Sugik cukup pintar untuk tahu apa yang mereka sembunyikan.

Suatu malam, Sugik tak bisa tidur, ia memutuskan untuk pergi keluar mencari angin saat dari
jendela pintu kamarnya ia melihat seseorang tengah berjalan pelan. Dari bayangan dan bagaimana
ia berjalan Sugik merasa familiar seperti ia tahu siapa orang tersebut maka dengan hati-hati Sugik
mengikuti dari belakang.

Melihat sosok itu masih berjalan pelan Sugik sadar bahwa di balik identitas orang yang menyusuri
taman menuju ke bangunan kecil di sisi utara Rumah adalah Nyonya besar Lasmini, ia tampak
begitu cantik dengan balutan kain kejawen, ia berhenti sejenak sebelum menoleh dan memastikan
tak ada orang yang tengah melihatnya tak beberapa lama kemudian ia membuka pintu lalu
melangkah masuk ke dalam pintu tersebut.

Sugik tak bisa melihat dari luar namun ia penasaran apa yang di lakukan nyonya besar Lasmini di
tempat seperti ini, tak kehilangan akal Sugik mencoba mendengar dengan seksama dari luar namun
sayup-sayup ia hanya bisa mendengar suara nyonya Lasmini, ia mengerang beberapa kali, dengan
perasaan campur aduk Sugik mencari-cari cara lain namun tak juga ia temui saat terdengar suara
lain yang Sugik kenal.

Suara itu adalah suara dari kambing yang mengembik.rasa penasaran semakin membuat Sugik
menjadi gila namun di lain hal ketakutan tiba-tiba menyesap ke dalam tubuhnya seperti ada sesuatu
yang akan terjadi bila ia melihat ini.

.Dengan langkah hati-hati Sugik mencoba membuka pintu dan benar pintu terbuka setelah Sugik
mendorongnya perlahan, ia melihat anak tangga turun, di dalam ruangan Sugik mendengar lebih
jelas suara Lasmini mengerang dengan di ikuti suara kambing yang semakin terdengar jelas, namun
tak kala Sugik melangkah hati-hati ia berjengit saat di hadapannya seekor kambing cokelat menatap
dirinya.

Sugik terdiam untuk beberapa saat, jantung berdegup lebih kencang, ketakutan dan kengerian bila
sampai ia ketahuan pastilah akan menjadi akhir riwayatnya, kambing cokelat itu lalu pergi
membiarkan Sugik melangkah lebih jauh, bila ia tahu apa yang akan ia lihat setelah ini mungkin
seharusnya Sugik tak perlu melangkah terlalu jauh hanya untuk menuruti nafsu akan rasa penasaran
yang begitu besar di mana di dalam ruangan itu banyak di temui sajen dan benda-benda yang tak

27
dapat ia terima dengan logika, patung kerbau dengan dua kambing sedang kawin begitu juga
kembang dan aroma kemenyan yang menyengat hidung, di sana ada satu pintu lagi dan dari sana
pula suara itu terdengar.

Sugik menatap pintu tersebut ia mencoba mendengarkan dengan seksama apakah yang ia dengar ini
benar saat dari balik pintu yang terbuka sedikit itu Sugik melihat kaki perempuan tangah berbaring
di atas ranjang ia menggelanjang dan mengerang bersamaan, di depan ranjang yang tak jauh dari
tempat kaki itu terbaring ada seekor kambing putih bersih mengamati ranjang, Sugik tak mengerti
apa yang terjadi sebenarnya kala tiba-tiba kambing putih itu menoleh menatap ke tempat Sugik
tengah mengintip dan mengembek sampai perempuan itu terbangun dari tempatnya berbaring, saat
itu juga Sugik berlari tunggang langgang ia harus cepat dan keluar dari dalam ruangan ini dan
untunglah ia mampu melakukannya dengan perasaan campur aduk Sugik mengunci pintu kamar
sembari sesekali ia mengintip keadaan di luar.

Keringat membasahi keningnya dan Sugik tak mengerti apa yang baru ia lakukan, lebih tepatnya
apa yang sebenarnya di lakukan oleh Lasmini di tempat seperti itu, hening. Tak ada suara dan
pergerakan dari luar kamar membuat Sugik sedikit bernafas lega saat dari arah belakang tempat ia
melihat jendela terdengar suara mengembik, Sugik menoleh perlahan saat wujud kepala kambing
dengan rambut gimbal tengah menatap dirinya dengan bola mata merah menyala.

** Sugik terhenyak dari tidurnya. Ia menoleh melihat Sugeng tengah menyetir mobil, “lapo to gik?
Mambengi gak isok turu tah?” (kamu itu kenapa gik? Memang semalam kamu gak tidur)

Sugik hanya diam ia tak menggubris perkataan Sugeng. Pagi ini tiba-tiba ia terbangun di atas
ranjang dan ia berdiam diri karena bingung apakah yang ia lihat itu nyata atau sekedar mimpi
belaka apapun itu karena pagi hari ia melihat Lasmini duduk di kursi kayu di atas gazebo tempat ia
biasa menjahit dan beberapa kali Sugik melirik saat wanita itu seperti tengah mengamatinya. Sugik
hanya membersihkan rumput liar dan cara Lasmini menatap dirinya benar-benar membuat dirinya
merasa tidak nyaman.

“mimpi” “pasti Cuma mimpi” kata Sugik berusaha meyakinkan dirinya lagi.

Tak beberapa lama Sugeng datang, ia menawari Sugik apakah berkenan menemaninya
mengantarkan pesan dari tuan Arjo kepada seseorang yang namanya terdengar asing di telinga
Sugik tanpa membuang-buang waktu Sugik mengangguk, menyanggupi permintaan Sugeng dan
detik itu mereka meninggalkan tempat itu, tempat di mana Lasmini masih tersenyum kecil
memandangi dirinya.

** Mobil sudah melaju, Sugik sempat terlelap dalam tidur saat bayangan itu kembali, bayangan
tentang Lasmini yang ada di dalam ruangan tersebut. Entah kenapa hal itu tak berhenti menganggu
dirinya, “koen ojok mikir aneh-aneh ta lah, kerjo gok kene iku enak sing penting jogo sikap?”
(kamu itu makanya jangan suka mikir aneh-ane, kerja di sini itu enak yang terpenting menjaga
sikap)

Sugik seperti ingin bercerita, sudah dua kali ia melihat makhluk ini tapi kenapa seperti ada sesuatu
yang menganggu dirinya ketika Sugik akhirnya bertanya perihal kemana dan pada siapa pesan ini

28
akan di sampaikan di situ Sugeng tak langsung menjawab, ia hanya berkata pesan ini untuk
mengakhiri sebuah lamaran.

“lamaran” tanya Sugik.

Sugeng mengangguk berkata seperti ini lah bagaimana orang jawa terhormat ketika mengakhiri
lamaran, ada ekspresi yang ganjil dan Sugik tahu, ia mengenal Sugeng lebih dari sepuluh tahun
sebelum ia merantau dan bila ekspresi ini muncul maka itu artinya Sugeng telah memberi pesan
kepada sugik bahwasanya ada sesuatu yang akan terjadi.

Lama berkendara Sugeng lalu mengatakan sesuatu hanya agar Sugik tak bertanya-tanya lagi.
“sudah—diam saja. Tugas kita memang begini, kita hanya perlu memberikan ini atas perintah tuan
Arjo, setelah kita memberikan ini kepada dia, kita balik”

“hanya memberikan ini lalu pulang” batin Sugik masih tidak puas dengan jawaban Sugeng.

Dari kejauhan terlihat sebuah rumah besar dengan halaman yang luas, pintu gerbang terbuka dan
Sugeng membawa mobil hitam milik Kuncoro masuk dan terparkir di depan teras.

Sugeng dan Sugik melangkah turun, di teras yang luas itu terlihat seorang lelaki tua tengah duduk
sedangkan seorang wanita tua baru saja berdiri dan bersiap akan pergi.

Sugik menatap wanita tua itu, ia mengenakan batik putih dengan sewek cokelat khas dengan rambut
di sanggul, ia berhenti sejenak ketika berpapasan dengan Sugeng untuk beberapa saat Sugik
merasakan perasaan yang aneh, seperti perasaan saat melihat tuan Arjo Kuncoro di dalam diri
wanita tua ini.

“Mas Sugeng” kata si wanita. Alih-alih menyapa balik, Sugeng langsung mencium tangan wanita
itu.

“ngapunten, nuwun sewu kulo mboten enten niat maganipun ganggu njenengan” (maafkan saya,
salam saya tidak bermaksud menganggu anda)

“halah. Wes, aku ancen kate muleh, urusanku wes mari, sak iki urusanmu ndang di marino pisan yo
nak Sugeng” (halah, sudah. Aku memang mau pulang, urusanku sudah selesai, sekarang urusanmu
cepat di selesaikan ya nak Sugeng)

Sugik menatap wanita tua itu. Begitu anggun, begitu terhormat ia menoleh melihat Sugik lalu
menunduk, tak pernah Sugk melihat yang seperti ini, manakala wanita tua itu melangkah masuk ke
dalam mobil Sugik bertanya siapa gerangan wanita itu, dengan menunjukkan ekspresi wajah datar
Sugeng menyebut sebuah nama. “Karsa Atmojo”.

** “begitu—jadi ini jawaban dari Arjo kepadaku”

“nggih tuan Jarok, nikinipun pesan kangge njenengan” (iya tuan Jarok, inilah pesan untuk anda)

Lelaki tua bernama Jarok itu adalah pemilik ribuan hektar tanah ia sudah lama mendambakan mantu
dari Kuncoro namun entah apa yang belum di ketahui Sugik karena sedari tadi setelah surat dengan
amplop putih itu di terima berkali-kali ia berkata “aku wes siap—aku wes siap mati bahkan sak

29
duurnge aku nerimo Unduh mantu ambek getihku dadi jaminane” (aku sudah siap—aku siap mati
bahkan sebelum aku menerima permintaan mantu dengan darahku sebagai jaminannya)

Sugeng hanya mengangguk, sementara Sugik tak mengerti maksud ucapan tuan Jarok. Apakah usia
tua yang membuatnya suka berbicara tanpa arah seperti ini ataukah kalimatnya mengandung
filosofis lain yang sama sekali ia tak ketahui.

“jek onok piro kandidate—” (masih ada berapa kandidatnya?)

“kale tuan.” (dua tuan)

“baiklah, sebelumnya ini ku serahkan cincinku tapi sebagai gantinya katakan pada Arjo Kuncoro
bahwa keluarga Jarok selalu memenuhi janji lalu sebagai imbalan dari pengampunanku aku
berharap akan sebanding”

Sugeng mengangguk ia menerima cincin dengan batu merah delima. “akan saya sampaikan pesan
anda kepada tuan Arjo Kuncoro”

“baiklah” tuan Jarok mengangguk, ia lantas berdiri meminta Sugeng mengikuti, ketika Sugik berdiri
tuan Jarok menoleh menatapnya tajam. “tuan Jarok, Sugik kelak akan menjadi abdi sula seperti saya
jadi biarkan dia melihatnya untuk belajar tentang dunia kita ini”

“baiklah kalau begitu”.

Di dalam sebuah ruangan pribadi milik tuan Jarok, Sugik melihat banyak sekali benda-benda yang
tak jauh berbeda dari ruangan yang pernah ia lihat saat mengikuti Lasmini dulu, apakah semua
orang-orang dengan nama besar ini memiliki ruangan pribadi seperti ini dana apa kegunaan ruangan
ini karena entah kenapa suasana ruangan ini begitu mencekam.

Tuan Jarok duduk bersila di mana di depannya ada sebilah keris yang sudah di mandikan oleh
kembang sementara Sugeng dan Sugik duduk bersila jauh di depan mereka dengan bertelanjang
dada, tuan Jarok mengambil keris dan mengangkatnya tinggi-tinggi sebelum dengan cepat ia gorok
separuh dari lehernya, ekspresi gila itu bisa di saksikan oleh Sugik bagaimana tuan Jarok
memuntahkan darah kehitaman sebelum akhirnya separuh lehernya terbuka dan membuat lelaki tua
itu tersungkur tak bergerak lagi.

Sugik terdiam mematung, ia tak bergerak dari tempatnya duduk karena setelahnya Sugeng
mendekati tuan Jarok menyiraminya dengan sesuatu seperti aroma bensin ia membakar lelaki tua
sebelum mengambil keris dan mengusapnya dengan kain putih, hari itu adalah hari di mana Sugik
tahu akan sesuatu, kontrak Unduh mantu dengan nyawa sebagai taruhannya.

30
SABDO KUNCORO

Di dalam ruangan itu, Sabdo bersila di hadapan seekor kambing berbulu putih tersebut, tak lama
sesuatu yang aneh terjadi di mana kambing putih itu mengembek terus menerus sementara Arjo
Kuncoro menatap tepat di belakang Sabdo dan membisikinya sesuatu.

“lihatlah, sejak lama aku ingin pusaka keris miliknya dan setelah ini aku akan mendapatkannya
sebagai gantianya jaminan keluarganya akan tetap hidup” bisik Arjo, “lancang ketika keluarga
bedebah tak tau di untung mencoba meminta anak-perempuanku satu-satunya maka ini lah yang
akan terjadi, masih ada dua lagi dan aku ingin kau melihat—melihat bagaimana mereka nanti mati
agar aku tak salah pilih dan bisa menghindari takdirku”

Sabdo melihat sesuatu, leher kambing putih itu tiba-tiba robek dengan sendirinya, membuat
kepalanya terlepas sebelum Sabdo memungut kepala itu, di lihatnya lagi wajah kepala kambing
putih itu menyerupai wajah dari lelaki tua yang pernah ia temui. Wajah milik Sekti Jarok”

Sugik berniat untuk tidur, hari ini iya banyak menghabiskan tenaga di kebun meski seringkali
wanita itu, Lasmini masih suka mencuri pandang kepada dirinya. Ia tak pernah suka dengan wanita
itu, meski mimik wajahnya tenang namun Sugik merasa Ia memiliki sesuatu yang lain, sesuatu yang
sewaktu-waktu bisa menghabisi dirinya.

Sugeng mengatakan mobil untuk dirinya mengantar tuan Sabdo akan datang esok hari, hal yang
masih sulit Sugik percaya bahwa tuan Arjo mempercayakan anak bungsu-kepadanya. Setelah
mengabdi sebagai tukang kebun biasa kini Sugik patut berbangga diri akan menjadi sopir pribadi
untuk tuan Sabdo, bagaimanapun mereka sudah menuruti tuan Arjo untuk melakukan “nggado
dajer” sebuah ritual sumpah darah yang sudah mereka lakukan saat melahap otak kambing mentah-
mentah bersamaan dengan jeroan perut kambing bersama dengan tuan Sabdo sendiri, dengan ini
mereka telah mengikat sumpah sebagai saudara meski tak pernah terikat dengan ikatan darah.

Di tengah tidur tiba-tiba Sugik merasa sesuatu perasaan yang tidak enak, perasaan yang
membuatnya tidak tenang, ia terbangun dari tidurnya lalu melangkah keluar kamar.

Sugik merasa dadanya menjadi panas seperti ada sesuatu yang mengganjal dirinya, dengan perasaan
tak nyaman Sugik bergegas keluar berkeliling hingga di sudut halaman taman ia melihat tuan Sabdo
tengah berdiri di muka pintu kamar paviliun sebelah barat, aneh pikir Sugik melihat hal ganjil ini,
waktu sudah larut dan tidak biasanya tuan Sabdo masih terjaga seperti ini manakala Sugik mendekat
untuk bertanya kenapa tuan Sabdo belum juga tidur tiba-tiba Sugik mengurungkan niat saat melihat
di depan matanya ada dua anak Kuncoro yang berdiri menahan pintu kamar, Pras anum dan Batra
berdiri tepat di muka pintu seakan menunggu Sabdo, Sugik terdiam mengintip dari balik pohon
dekat dengan tanaman beluntas menyembunyikan dirinya dari mata-anak-anak Kuncoro lain.

Apa yang mau mereka lakukan kepada tuan Sabdo. Batin Sugik.

Dengan tetap berdiam mengamati Sugik melihat Pras Anum yang paling tinggi sekaligus paling
kekar memegang kedua tangan Sabdo sebelum membiarkan saudaranya Batra memukul wajah
Sabdo berulang-ulang kali, Sugik ingin bergerak menolong tuan Sabdo namun ia ingat pesan dari
Sugeng, tak sepatutnya bagi Abdi untuk ikut campur dalam urusan keluarga. Sugeng pernah

31
menegurnya, semenjak kejadian itu Sugik tak lagi berani mendekati keluarga-keluarga Kuncoro
yang misterius, ia memilih untuk berdiam diri dan melihat tuan Sabdo di pukuli.

Sugik merasakan gejolak dan amarah, mungkin hal itu yang juga tuan Sabdo rasakan tak kala ia
melihat bagaimana perlakuan dua saudara Kuncoro ini terhadap tuan Sabdo. tak lama setelah
pemukulan itu simbah darah dari wajah tuan Sabdo menetes keluar dari mulut dan hidung anehnya
tuan Sabdo hanya diam saja tak melawan padahal Sugik yakin bila tuan Sabdo melawan ia pasti
bisa lolos setidaknya pergi kabur dari tempat itu, geram Sugik melihat dua Kuncoro itu membawa
Sabdo masuk ke dalam kamar, Batra Kuncoro menutup pintu setelah memastikan tak ada yang
melihat perlakuan mereka.

Sugik mendekat, penasaran apa yang dua saudara Kuncoro itu lakukan pada tuan Sabdo, namun sial
betul Sugik tak bisa melihat karena pintu di kunci, tak ada jalan lain bagi Sugik ia terpaksa melintas
kebun ke seberang untuk mengambil anak tangga, hanya ada satu cara untuk bisa melihat apa yang
terjadi di dalam sana, mengintip dari celah langit-langit tempat di mana udara bisa keluar.

Sugik beruntung, menjadi tukang kebun membuatnya tahu seluk beluk bangunan-ini di bangun.

Sugik sudah menenteng anak tangga, di pasangnya se-pelan mungkin agar dua Kuncoro tak melihat
dirinya, manakala anak tangga sudah di pasang Sugik memanjat dengan gesit dan di lihatnya dua
Kuncoro menyiksa tuan Sabdo sudah entah keberapa kali Batra memukul wajah Sabdo Kuncoro,
tak henti mereka tertawa kadang mendorong lalu menahan kedua tangannya lagi membenturkannya
ke tembok hingga dengan mata kepala sendiri Sugik melihatnya, melihat bagaimana Pras Anum
menelanjangi Sabdo.

Batra menahan tubuh Sabdo, membuatnya terpelungkup tak dapat bergerak untuk kali pertama
akhirnya tuan Sabdo melawan, Batra masih menahan kedua tangan yang mulai merangsak mencoba
melepaskan diri, Pras Anum tertawa melihat Sabdo menggeliat, ia melepas celana yang ia kenakan
sementara Batra tertawa-tawa sambil berkata pada Pras Anum, “lakukan mas, lakukan saja biar
anak bangsat ini tahu di mana posisi dia berada di keluarga ini!!”

Sugik menahan diri, ia tak tahu apa yang akan di lakukan oleh Pras Anum yang kini melepas celana
milik Sabdo, mereka sama-sama bertelanjang”Bangsat” batin Sugik, ia sudah tak sanggup menahan
gejolak amarah melihat tuan Sabdo di perlakukan layaknya binatang, namun tetap saja Sugik tak
bisa melakukan apa-apa, dan malam itu Sugik tak dapat menolak bahwa ia menjadi saksi bejat
perlakukan dua saudara Kuncoro terhadap saudara bungsu mereka, terpikir di kepala Sugik apakah
dua bangsat itu tahu bahwasanya mereka sama seperti Sabdo, tak ada satu-pun di keluarga Kuncoro
yang murni berdarah Kuncoro kecuali tuan besar Arjo sendiri, namun perlakukan dua saudara ini
benar-benar membawa Sugik pada kemarahan paling besar, Sabdo hanya diam saja, ia tak sanggup
lagi melawan nampak dari tubuhnya ia sudah pasrah saat Pras Anum melecehkannya bersama
dengan Batra, hal itu membuat Sugik akhirnya melepaskan umpatan yang menahan dirinya sejak
tadi, ia berteriak dengan keras kepada mereka “ASU-” (Anjing) katanya seraya berjalan menuruni
anak tangga, Sugik berlari sekencang mungkin meninggalkan tempat itu, ia tahu setelah mendengar
teriakan Sugik, Pras dan Batra cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya hanya tinggal menunggu
waktu melihat mereka meninggalkan kamar Sabdo namun Sugik tak tahu lagi-kelamnya keluarga
Kuncoro benar-benar tak dapat menyelamatkan akal sehat dirinya saat ketika dirinya membuka
pintu kamar Sugik di kejutkan oleh kehadiran seekor kambing hitam legam milik tuan Arjo tengah
menatap dirinya dari atas dipan. “Bokolono” kata Sugik.

Kambing hitam itu melompat turun mendekati Sugik membuat dirinya tak mengerti bagaimana
binatang kesayangan milik tuan Arjo bisa ada di tempat ini.

32
Kambing hitam itu menatap Sugik, mendekatinya seraya menatap dalam posisi tak bergeming
sementara Sugik masih di buat bingung saat secara tiba-tiba kambing itu mengembek menatap
sebilah pisau yang Sugik gantungkan di tembok kayu tepat di atas meja.

Binatang itu terus mengembek seakan menyuruh Sugik untuk mengambil pisau itu dan entah
darimana datangnya pikiran itu karena Sugik tiba-tiba tahu apa yang harus ia lakukan.

Sugik melihat ke sekeliling memastikan tak ada orang yang melihat dirinya, Ia segera mengunci
pintu dan jendela sebelum meraih sebilah pisau tajam itu, Sugik melihat leher kambing itu.

Malam itu suara mengembek terdengar untuk pertama dan terakhir kalinya dari arah dalam kamar
milik Sugik.

** Pagi itu Sugik terbangun seperti biasa, di kedua tangannya masih terlihat warna merah darah
namun nampak sudah mengering, Sugik melihat bulu kambing itu menumpuk di lantai sementara
kambing hitam itu sudah lenyap entah kemana, butuh waktu lama untuk melakukan hal itu,
kesiapan mental Sugik benar-benar di uji saat ia harus menggorok membuat kepala kambing itu
nyaris terputus dari lehernya, Sugik memotong dan menguliti kambing hitam itu membuatnya
seperti tumpukan daging membiarkannya menggeliat di atas lantai sebelum akhirnya Sugik tertidur
karena terlalu lelah melampiaskan segala kemarahannya pada seekor kambing misterius milik tuan
Arjo.

Sugik memegang kening, merasakan denyutan yang teramat sakit, entah darimana datangnya saat
melihat bola mata hitam kambing misterius itu Sugik mendengar bisikan bahwasanya dia harus
menggorok lehernya membiarkan binatang itu mati di atas kedua tangannya.

Sugik merasa sinting. Ia sudah tak bisa membedakan hal nyata dan hal gila selama tinggal di
lingkungan kediaman Kuncoro. Bila suatu hari ia harus gila mungkin Sugik akan menerima dan
mungkin lebih baik bila dirinya gila saja, rahasia-rahasia anggota keluarga Kuncoro benar-benar tak
dapat di cerna oleh jalan pikiran, mulai dari Intan yang melakukan hal sinting itu, Lasmini yang
juga tak kalah sinting di tambah apa yang ia lihat semalam, kejadian itu masih teringat jelas di
kepalanya di tengah-tengah pikiran carut marut Sugik mencoba menenangkan diri ia sudah tak
perduli kemana kambing itu pergi, seharusnya binatang sial itu sudah mati tapi nyatanya ia lenyap
dari kamar miliknya persis seperti saat pertama kali saat tuan Arjo menggorok leher kambing itu
memotong arteri di leher hanya untuk mendapat tetesan darah dan meminumkan cairan merah itu ke
dalam tenggorokannya.

Kambing itu seharusnya mati namun faktanya leher kambing yang sudah di iris oleh pisau milik
tuan Arjo justru kembali normal jadi melihat kambing itu lenyap dari sini sepertinya hal itu tak
membuat Sugik terkejut namun tetap saja, kenapa bisikan itu memberitahu bahwa ia harus
menggorok kambing itu, tiba-tiba terdengar teriakan menjerit dari seseorang yang membuat Sugik
terkesiap lalu melangkah keluar.

Subuh masih gelap namun banyak orang berkerumun di depan sebuah pohon beringin dekat dengan
kediaman milik tuan Arjo Kuncoro, Sugik segera mendekati tempat itu bersama dengan abdi-abdi
lain yang semua mengadah melihat ke atas pohon.

33
Sugik menembus kerumunan untuk melihat pemandangan apa yang di lihat oleh orang-orang saat
mata-Sugik terbelalak menyaksikan di depan matanya tergantung Pras Anum dengan kondisi yang
mengenaskan.

** Sugik mematung diam, menyaksikan dengan jantung berdebar-debar tepat di depan matanya
tergantung Pras Anum Kuncoro dengan kondisi telanjang bulat, lehernya tergorok membuat
kepalanya nyaris putus selain itu tubuhnya di kuliti dan terus menerus meneteskan darah.
Para abdi perempuan menutup mata mereka, ia tak sanggup melihat anak paling tua Kuncoro mati
dengan cara seperti itu.

Tak lama berselang, muncul tuan Arjo bersama Lasmini yang menatap mayat itu dengan ekspresi
wajah datar, Sugik tak bisa membaca ekspresi mereka, kedatangan tuan Arjo dan Lasmini di susul
kemudian dengan Intan yang terhenyak kaget menutup mulut di ikuti oleh Batra yang termangu
dalam diam, Sugik melihat kedua telapak tangan yang di penuhi oleh darah saat menyaksikan hal
itu Sugik tersadar dengan binatang itu, apakah dirinya-tidak pikir Sugik namun sepertinya ia
merasakan firasat yang teramat buruk saat melihat tuan Arjo dan Lasmini tengah menatap ke tempat
dia berdiri, mata mereka tertuju pada darah kering di tangan Sugik.

** Di dalam ruangan itu, Sugik berlutut dengan telanjang badan ia menatap tuan Arjo di atas kursi
kayu bersamaan dengan Batra dan Intan Kuncoro menatap dari sisi jauh, Lasmini memperhatikan
dari kursi lain, sementara di hadapan Sugik berdiri seekor kambing hitam yang sama yang ia lihat.

Tuan Arjo membelai kepala kambing itu menciumi seakan kambing itu berbisik kepada dirinya,
lantas menatap Sugik dengan tatapan tajam, tuan Arjo bertanya dengan nada yang keras. “KOEN
SING MATENI ANAKKU?” (apa kau yang sudah membunuh anakku??)

Sugik tak menjawab karena ia tak tahu apakah benar-benar ia yang melakukannya.

Arjo lantas mengambil keris yang ada di atas meja, keris milik tuan Jarok yang pernah Sugik lihat,
keris itu berbeda dengan keris lain ia memiliki 6 tekukkan yang membuatnya terlihat lebih panjang
saat secara tiba-tiba tuan Arjo menyayat punggung kambing hitam itu membuat punggung kambing
meneteskan darah bersamaan itu rasa sakit yang teramat sangat bisa Sugik rasakan di mana dari
punggungnya ia melihat luka mengangah dan terus menerus mengalirkan darah menetes jatuh ke
lantai.

“aku penasaran yo opo caramu mateni anakku, opo koen gawe Sambung aruh gawe mateni anakku”
(aku penasaran bagaimana caramu membunuh anakku, apa kau menggunakan santet menyambung
raga untuk membunuh anakku)

Sugik hanya diam, namun nafasnya terasa berat, rasa sakit di punggungnya benar-benar tak bisa di
sepelekan.

“gak mungkin pak” teriak Intan Kuncoro tiba-tiba, “bagaimana bisa mas Sugik melakukan itu
sedangkan bahkan Batra saja tak bisa serta merta melakukan santet seperti itu”

34
Lasmini menoleh pada Intan ia mengangguk, meski dirinya tak pernah suka dengan kehadiran
Sugik di keluarga ini tetapi apa yang Intan katakan ada benarnya. Hanya keturunan Kuncoro yang
dapat melakukannya dan itu pun pengecualian karena tak sembarang keturunan Kuncoro bisa
melakukan hal itu kecuali, Lasmini berdiri lantas membisik ke telinga Arjo saat Sugik menatap
wajah tuan Arjo menolak akan bisikan yang baru ia dengar.

“PANGGILKAN SABDO, BAWA DIA KESINI”

Tak beberapa lama, tuan Sabdo melangkah masuk ke dalam ruangan ini, ia melihat Sugik lalu
beralih pada tuan Arjo.

“Koen wes eroh le, mas mu subuh mau di temokno mati-di kuliti ambek menungso sing gorong tak
temokno” (kau sudah tahu nak, kakakmu subuh tadi di temukan tewas-dia di kuliti oleh entah siapa
yang belum ku temukan)

Sabdo menoleh melihat Intan Kuncoro yang menatapnya sayu, sementara wajah Batra tampak
menahan amarah dan gejolak murka, namun Sabdo tampak begitu tenang. Ia mengangguk berkata
bahwa ia tak tahu apa-apa sampai berita itu sampai di telinganya itu pun dari kesaksian dari abdi
perempuan yang datang membersihkan ruangannya.

Bukan takut melainkan Sabdo justru membalikkan pertanyaan itu kepada tuan Arjo, hal yang tak
pernah Sugik lihat di mana tuan Sabdo yang begitu tenang menunjukkan gelagat bahwa ia memiliki
karisma yang sama dengan tuan Arjo.

“apakah bapak menuduh saya yang membunuh mas Pras Anum?” katanya sembari menoleh melihat
Batra yang semakin geram di buatnya.

“aku tak menuduhmu tapi kita semua tahu kau bisa melakukannya”

“dan kau pun juga bisa melakukannya pak” kata Sabdo yang membuat ruangan itu menjadi hening,

“LANTAS KAU TUDUH AKU YANG MEMBUNUH ANAKKU SENDIRI, BAGAIMANA


KAU BISA BERPIKIR SEPERTI ITU SABDO-” sembur tuan Arjo dengan suara membentak
namun Sabdo masih begitu tenang, ia tak langsung menjawab melainkan bertanya kepada tuan
Arjo, “lalu apakah saya juga pantas mendapatkan tuduhan yang sama hanya karena aku bisa
melakukan hal itu yang kau ajarkan sendiri dengan kedua tanganmu”

Arjo hanya diam namun nafasnya memburu sementara Lasmini menyeringai, ia tak menyangka
Sabdo mengatakan hal seperti itu kepada kepala keluarga Kuncoro yang juga adalah bapaknya
sendiri.

Lasmini kembali berbisik pada tuan Arjo, lantas dengan senyuman mengembang di wajahnya tuan
Arjo berbicara, “aku melihat darah di telapak tangan abdi milikmu, jadi karena tak ada yang tahu
pasti siapa yang membunuh Pras Anum biar saja ku bunuh abdi-mu ini, tentu saja kau tak menolak
bukan?”

Kaget. Sugik menatap tuan Arjo sebelum beralih menoleh pada Sabdo Kuncoro, “tuan” kata Sugik,

Sayangnya tuan Sabdo hanya diam saja membiarkan tuan Arjo menghunuskan keris itu tepat di
batas leher kambing hitam itu sebelum tuan Sabdo berlutut di hadapan tuan Arjo dan yang lain.

35
“bila memang aku yang melakukannya lantas apakah kau juga akan membunuhku-”

Semua orang menatap pada Sabdo, tak ada yang bersuara.

Jawaban Sabdo cukup membuat tuan Arjo menyarungkan kembali kerisnya, Lasmini yang pertama
mendekati Sabdo yang masih duduk berlutut.

Sugik tahu Lasmini tak pernah suka dengan Sabdo bahkan sejak kedatangannya di rumah ini jadi
tak mengejutkan bila melihat wanita ini akan menghabisi Sabdo di depan semua orang yang ada di
sini.

Intan Kuncoro hanya berdiri dalam diam, ia tak lagi bicara setelah mendengar pengakuan dari mulut
Sabdo sebaliknya Batra tersenyum menyeringai, ia yang paling berharap bahwa Sabdo mendapat
imbalan yang setimpal atas nyawa kakaknya yang mati secara mengenaskan.

“berdirilah nak,” ucap Lasmini yang membuat semua orang semakin tak mengerti, Batra tampak
bingung, “kini kau layak mendapat pengakuanku sebagai Kuncoro murni”

Tuan Arjo kemudian duduk, menatap Sabdo dengan ekspresi yang berbeda, kebanggaan, semua
mengesampingkan kematian Pras Anum sementara Lasmini tersenyum memberi gestur yang
membuat semua orang yang ada di dalam ruangan tak berkomentar. “Canguksono wes mateng, wes
wayahe Kuncoro mimpin trah pitu-musnahno keluarga iku ben Kuncoro tambah di segani”
(Canguksono milikmu sudah matang, sudah saatnya Kuncoro memimpin trah tujuh-musnahkan
keluarga itu biar Kuncoro semakin di hormati)

** Sugik beralih, tangannya memegang setir mobil. Ia tak pernah menduga bahwa tuan Sabdo akan
membela dirinya mengatakan bahwa dirinya yang melakukannya meski yang sebenarnya terjadi ia
lah pelaku yang mengirimkan kutukan itu kepada Pras Anum saat tiba-tiba tuan Sabdo berbicara.

“bukan kau Gik-bukan kau yang menghabisi dia tapi aku”

Sugik terdiam mencoba mencerna ucapan tuan Sabdo, ia tak pernah menduga apakah mungkin tuan
Sabdo mampu membaca pikirannya.

“iya aku bisa membaca pikiranmu”

Bingung. Sugik semakin bingung di buatnya.

“tak perlu bingung, kau adalah Abdiku jadi kau yang paling tahu bahwasanya kau adalah milikku-
aku yang membisikimu, aku pula yang mengirim Bokolono ke tempatmu”

“kenapa tuan?”

“aku hanya ingin melihat apakah aku bisa melakukannya”

Sugik tak bicara, ia kini merasa ngeri, tuan Sabdo yang pendiam dan malu-malu menjelma menjadi
orang yang mengerikan.

36
“tak perlu takut, nyawamu sudah ku jamin” katanya sembari menatap pemandangan di luar mobil,
Sugik tak bicara ia benar-benar takjub sekaligus takut dengan tuannya sendiri,

“terimakasih kau sudah menolongku-”

“menolong?”

Sabdo kini menoleh menatap Sugik, “kau yang membuat Pras dan Batra menghentikan
perlakukannya”

Sebelum Sugik menjawab kalimat dari Sabdo tiba-tiba sesuatu bergerak sangat cepat dari arah
depan di mana Sugik terlambat untuk membanting setir saat ia melihat di depan mata kepalanya
sendiri sebuah Truk tronton menuju tepat ke jalur mobil miliknya dengan kecepatan tinggi sebelum
menggilas mobil milik Sugik.

** Sugik terbangun dari tempatnya. Di hadapannya berdiri seorang wanita tua yang pernah ia lihat.
Wanita itu menatap dirinya dengan senyuman simpul.

“nami kulo Karsa Atmojo, aku nduwe penawaran karo njenengan” (nama saya Karsa Atmojo, saya
punya penawaran dengan anda)

“penawaran untuk satu kepala dari setiap anggota Kuncoro”

Sugik tak tahu apa yang terjadi karena ketika pertama kali dirinya membuka mata yang ia lihat
adalah seorang wanita tua dengan rambut di sanggul tengah duduk tak jauh dari tempat dirinya
berbaring.

Ia duduk dengan anggun menatap ke tempat Sugik dengan ekspresi wajah yang tenang, tak lama
kemudian ia berdiri berjalan mendekati Sugik yang kini mengedarkan pandangan meraba-raba di
mana dirinya sekarang berada. Sebuah ruangan asing yang tak pernah ia lihat, ruangan dengan
tembok batu bata solid di mana di sana –sini tak ada apapun kecuali dipan meja dan satu kursi,
tempat ini layaknya seperti sebuah ruang penjara yang di buat dengan kedap suara.

“Saya Karsa Atmojo, saya punya penawaran untuk anda”

Sugik tak langsung menjawab, ia mencoba memikirkan kembali rentetan bagaimana bisa dirinya
tiba-tiba berada di tempat ini saat bayangan wajah tuan Sabdo melintas di kepalanya Sugik menatap
wanita itu bertanya perihal apa yang terjadi dengan dirinya.

“tenang mas Sugik kalian berdua tidak apa-apa”

“berdua” Sugik mengulang kalimat tersebut menyiratkan maksud dari si wanita bahwa tuan Sabdo
mungkin baik-baik saja dan ia bisa saja juga berada di tempat ini, lalu apa yang beliau inginkan dari
dirinya, Sugik menatap tajam wanita bernama Karsa Atmojo itu di mana Ia sekarang mengangguk
menunjukkan sikap dan suara yang menenangkan.

“saya hanya ingin berbicara denganmu terlebih dahulu sebelum berbicara dengan tuanmu”

37
“apa yang anda inginkan?”

“tak banyak mas Sugik” katanya lembut, tak lama kemudian terdengar suara ketukan dari pintu
Sugik menoleh melihat seseorang melangkah masuk, seorang lelaki tua yang mungkin seumuran
dengan Karsa Atmojo, ia mengenakan pakaian putih longgar dengan celana kain hitam sederhana,
di tangan lelaki asing ini ada sebuah kotak tua yang tak terlalu besar, Sugik menatap kotak itu lama
sebelum kembali menoleh pada Karsa Atmojo meski terkadang pandangan mata Sugik tertuju pada
wajah si lelaki asing ini, berbeda dengan Karsa Atmojo, wajah lelaki tua ini tak menunjukkan
persahabatan, ia hanya berdiri di belakang Karsa sembari merengkuk kotak tua tersebut, Ia
memandang Sugik dengan pandangan meremehkan hal yang membuat Sugik merasa tidak nyaman.

“mbah Tamin, dia adalah abdiku seperti dirimu dengan Kuncoro muda itu” senyum, mbah Karsa
menunjukkan gejolak yang membuat Sugik bisa merasakan intimidasi dari intonasi suara yang
menenangkan. Aneh. Pikir Sugik, bagaimana hal seperti ini mempengaruhi dirinya.

“bukalah kotak itu dan tunjukkan pada tamu kita tentang penawaran yang kita miliki”

Seseorang bernama Tamin itu lalu meletakkan kotak tersebut di meja dengan berbekal kunci dari
kantung celananya Ia membuka perlahan penutup kotak mengeluarkan isinya tempat di mana Sugik
bisa melihat jelas sesuatu yang menyerupai boneka jerami di ikat dengan janur kering, tak lama si
lelaki menyerahkan benda itu kepada Sugik yang sama sekali tak mengerti maksud pemberian itu.

“maukah anda membawa ini masuk ke dalam kediaman Kuncoro”

Sugik hanya diam, termangu, Ia merasakan firasat yang tidak enak ketika memegang boneka jerami
itu.

“apa maksud anda sebenarnya?” tanya Sugik “lantas benda apa ini dan kenapa saya harus
membawanya kedalam kediaman Kuncoro?”

Mbah Tamin berdiri ia bergerak mundur sementara mbah Karsa mendekati Sugik untuk mengambil
boneka itu dari tangannya.

“boneka ini akan ku gunakan untuk menghabisi Arjo Kuncoro”

Bagai di sambar petir Sugik tak tahu harus menjawab seperti apa, tanpa berbelit-belit wanita ini
langsung mengatakan maksudnya hal yang sama sekali tak pernah Sugik duga sebelumnya.

Ia tersenyum kepada Sugik menatap mata’nya lekat-lekat, Sugik bisa merasakan persona di dalam
diri Karsa Atmojo nyaris menyerupai persona milik Arjo Kuncoro yang pernah ditunjukkan saat ia
memanggil Bokolono hanya untuk menghabisi abdi perempuan yang tak mau melayaninya.

Ketakutan itu hanya beberapa saat karena setelahnya Karsa Atmojo tersenyum seakan menarik
kengerian itu membiarkan intimidasi yang ia tunjukkan pada Sugik lenyap, menguap begitu saja.

“aku yakin kau akan melakukan perintahku—karena bila kau tak melakukannya terpaksa kami
harus melakukan sesuatu terhadapmu”

“sesuatu apa maksud anda nyonya?”

38
“perempuan yang cantik, di dalam kandungan isterimu hidup seorang anak perempuan yang cantik,
aku tak bisa membayangkan bila malam ini sesuatu menimpa mereka berdua, sesuatu yang pernah
kau lihat—sesuatu yang gemar memenggal kepala manusia hanya untuk nafsuku saat melihat ajal
manusia”

“apa maksudmu yang sebenarnya?”

“isterimu tengah mengandung anak perempuan” ucap Karsa “apakah kau tidak tahu?”

Sugik tak menjawab, Ia hanya diam sembari memikirkan apakah benar berita yang baru ia dengar.
“bagaimana kau tahu?”

“aku tahu juga bahwasannya kau begitu mencintai dirinya bahkan saat kau terpaksa harus
meninggalkannya hanya karena hutang-hutang yang kau miliki” Karsa mendekati Sugik, “aku bisa
melunasi semuanya”

“Kuncoro juga dapat melakukan itu” kata Sugik menantang wanita yang ada di depannya.

“benar, tapi aku bisa menjamin nyawamu”

“menjamin nyawaku—”

“kau tahu seperti apa Kuncoro hidup, kau pikir sampai kapan mereka membiarkan kau hidup, hanya
tinggal menunggu giliran”

“aku masih tak mengerti kearah mana pembicaraan ini” tutup Sugik, mbah Karsa kini mengadahkan
kepalanya ia tahu pembicaraan ini tak akan pernah ada ujungnya karena di hadapannya hanya
seorang pemuda yang tak tahu apa-apa tentang dunia yang ada di sekelilingnya, Karsa menatap
lelaki bernama Tamin tersebut mengangguk memberi tanda dan seperti yang Sugik bisa lihat lelaki
itu mengerti, Ia mengangguk lalu meninggalkan mbah Karsa seorang diri bersama dengan Sugik,
tepat ketika pintu di tutup Sugik merasakan perasaan ganjil itu lagi yang kali ini jauh lebih gila dari
apa yang pernah ia rasakan sebelumnya.

“wong tuoku tau ngomong ojok sampe sanggulku di uculno nang ngarepe wong lanang amergo
Bonorogo ambek Sengarturih iku seneng ndelok ndas menungso pedot tekan gulu nggelinding nang
ngisor sikilku”

(orang tuaku pernah mengatakan jangan sampai sanggulku di lepas di depan seorang lelaki karena
Bonorogo dan Sengarturih itu suka melihat kepala yang lepas dari leher menggelinding di bawah
kakiku)

Denting suara tusuk konde yang terjatuh terpelanting di atas lantai membuat Sugik tak dapat
berbicara, dalam waktu sesaat Ia melihat semuanya, semua saat-saat dirinya menatap kematian-
kematian itu Sugik tak pernah mengerti, kepingan-kepingan yang pernah ia lihat sebelumnya seperti
tergenapi oleh mata Karsa Atmojo kini Sugik terduduk sebelum bersimpuh tunduk di bawah kaki
Karsa Atmojo.

“apa yang ku tunjukkan kepadamu adalah jawaban yang kau cari—Bayu Saseno melindungimu
karena dia ada di pihakku lebih tepatnya pihak kami dan sekarang bagaimana denganmu? pihak
mana yang akan kau pilih”

39
Sugik tak menjawab, ia masih diam mematung di bawah kaki Karsa Atmojo memikirkan segala
konsekuensi pilihan, mana yang harus ia pilih—ini bukan tentang dendam atau nafsu melainkan
skenario besar di mana apapun yang ia pilih akan berujung pada maut. hanya saja seberapa cepat
maut itu akan datang menjemput dirinya.

“tak inginkah kau melihat wajah anakmu?”

Benar. Sugik tak tahu isterinya tengah mengandung, ia sudah lama tak menjenguk dirinya jadi
apakah bijak pilihannya kali ini.

“ku taruh uang itu di bawah dipan isterimu, pergunakan untuk membayar semua hutangmu tak
hanya itu aku bersumpah kepadamu selama aku masih hidup akan ku jamin semuanya—tak akan
ada yang bisa menyentuhmu”

Gemetar. Sugik bisa merasakan seluruh bedannya gemetar hebat, air mata itu keluar di ikuti
tangisan sesenggukan waktu di mana Sugik menatap wajah Karsa Atmojo lalu berkata dengan suara
bergetar “KULO ABDI NJENENGAN MULAI SAK NIKI” (AKU ADALAH ABDIMU MULAI
SAAT INI)

Karsa tersenyum, ia melihat Tamin yang baru saja melangkah masuk, kedua orang itu mengangguk
seakan satu hal yang mereka inginkan sudah ada di dalam genggaman tangan.

“sekarang akan ku bawa kau ke hadapan tuan-mu yang lama, Sabdo Kuncoro”

Seperti yang Sugik duga sebelumnya, tuan Sabdo ada di tempat ini lantas apa yang mereka lakukan
kepada beliau.

“tapi sebelum itu” Karsa menatap Tamin “keluarkan darah makhluk jahanam itu dari tubuhnya—
aku ingin ia menjadi bersih lagi karena sekarang dia milik’kita” kata Karsa sembari melangkah
keluar.

** Di atas dipan kayu kedua tangan dan kaki Sugik di ikat dengan daun ranjat, tubuh Sugik
terlentang tanpa sehelai benang pun saat lelaki bernama Tamin itu melihat dirinya dengan
pandangan yang sama—pandangan menggelikan.

Ia menyiram tubuh Sugik dengan air berisi kembang, tak tahu apa yang dia lakukan setelahnya
karena ia terlihat seperti memantrai Sugik dengan bahasa-bahasa yang tak pernah ia dengar
sebelumnya saat tiba-tiba ia melompat ke atas dipan lalu mencekik leher Sugik, memijat-mijat
pangkal leher saat tiba-tiba dari dalam tubuh Sugik menggeliat sesuatu yang membuat tubuh-nya
mengejang tanpa alasan, Sugik merasakan sentakan yang awalnya tak terasa tiba-tiba mengerjap
begitu menyakitkan saat ia perlahan-lahan memuntahkan isi perutnya, cairan hitam itu keluar dari
dalam mulut.

Sugik terus menerus memuntahkan cairan hitam itu saat sesuatu yang menggumpal menyeruak
keluar, daging hitam yang di cengkram oleh Tamin terhempas keluar cepat-cepat mbah Tamin
mengambil gumpalan hitam itu menghempaskannya ke atas lantai. Sugik tak pernah tahu bahwa di
dalam tubunya ia memiliki hal-gila seperti itu.

40
Tamin menatap Sugik kali ini pandangannya berubah, ia tak lagi memandang Sugik dengan
ekspresi geli sebaliknya ia bisa melihat lengkungan senyum di bibirnya. “maaf bila aku melihatmu
seperti tadi—sebenarnya aku hanya merasa jijik dengan apa yang kau telan”

“apa maksudmu—”

“darah kambing hitam itu benar-benar busuk membuatmu menjadi abdi paksa dari Kuncoro sinting
itu tapi lupakan kau sudah bebas dari cengkraman lelaki bejad itu” Tamin melemparkan pakaian
Sugik melepaskan satu persatu ikatan tersebut sebelum melangkah keluar menuju pintu, Ia berhenti
sejenak menoleh pada Sugik lalu berkata “tuan-mu Sabdo sudah menunggu-mu”

** di balik sebuah pintu Sugik melangkah perlahan-lahan saat di hadapannya ia melihat sebuah
ruangan yang begitu megah dengan meja panjang dan kursi berjejer di sampingnya, Sugik tak
pernah melihat ini sebelumnya, benar-benar pertama kali dalam hidupnya ia melihat semua ini,
siapa sebenarnya pemilik rumah ini, bila Kuncoro memiliki rumah besar dan megah maka tempat
ini mungkin dua kali-nya.

Di antara kursi-kursi yang ada di balik meja panjang itu Sugik bisa melihat tuan Sabdo tengah
duduk memandang seorang lelaki tua plontos yang ada di hadapannya, tak tahu siapa dan apa yang
tengah mereka bicarakan Sugik mendekati tuan Sabdo, Sugik juga baru tersadar bahwa di belakang
lelaki tua plontos itu berdiri seorang wanita bersanggul tengah memegang parang.

“Abdi-mu sudah datang” kata si lelaki tua plontos itu.

Sugik mendekati tuan Sabdo berniat bertanya ada apa sebenarnya di sini namun nampaknya tuan
Sabdo sedang terlibat pembicaraan serius, di atas meja tersaji berbagai makanan yang melimpah
ruah namun tak ada satu-pun dari semua orang yang ada di sini menyentuhnya.

“Anggodo- kau tak seharusnya membawa Gundikmu ke tempat ini” kata Karsa Atmojo melangkah
masuk, ia berbicara sembari menatap si lelaki plontos itu sebelum beralih menatap tuan Sabdo
dengan Sugik yang mana ia terlihat tersenyum.

“maafkan ketidaksopananku kepada tamu-tamu-ku” kata mbah Karsa di ikuti mbah Tamin di
belakang, mbah Karsa memilih kursi tepat di samping lelaki tua plontos itu yang baru saja di
panggil Anggodo tersebut.

“bagaimana apakah sudah di putuskan?” tanya mbah Karsa kepada Anggodo.

“masih terlalu cepat untuk mengambil keputusan bukankah begitu Kuncoro kecil” katanya seraya
menatap tuan Sabdo yang tak menjawab.

Sugik melirik tuan Sabdo, ia tak pernah menunjukkan wajah seserius ini, hal yang aneh untuk
seorang tuan Sabdo yang tenang. dalam diam tuan Sabdo hanya menatap datar lelaki itu, tak ada
pergerakan apapun begitupula dengan Sugik yang masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya
terjadi di tempat ini.

41
“begitukah—jadi kau belum mengambil keputusan, dengar Sabdo sudah waktunya Kuncoro yang
sebenarnya mengambil alih kepala keluarga, itu tempatmu—bukan tempat Arjo yang sudah mencuri
kedudukanmu”

Sugik tak mengerti maksud mbah Karsa, ia melihat tuan Sabdo yang sama sekali tak terpancing,
“dia memang bapakmu tapi tetap saja tak ada Canguksono dalam dirinya, Bokolono tak menuruti
dirinya, ia hanya mendengarkanmu dan lewat dirimu ia bisa memerintahkan Bokolono itu”

tuan Sabdo masih diam sebelum akhirnya ia menatap Karsa Atmojo, pandangan matanya begitu
sengit “bagaimana bila aku menolak” kata Sabdo tegas, Sugik bisa melihat pandangan wajah Karsa
dan Anggodo, mereka tampak tak senang mendengarnya.

“baiklah—terlalu cepat mengambil keputusan, aku sependapat denganmu Anggodo” kata mbah
Karsa, “biarkan Kuncoro kecil kita tahu di mana seharusnya ia duduk”

Senyuman di wajah mbah Karsa seperti menyiratkan sesuatu yang membuat Sugik begidik ngeri ia
bisa merasakan gejolak perasaan tak menyenangkan itu, tak lama tiba -tiba sesuatu terjadi sesuatu
saat di mana Sabdo menoleh melihat mata Sugik.

“cicipilah makanan kami, setidaknya kalian datang sebagai tamu-ku” kata Karsa Atmojo.

Sugik terdiam sesaat, ia merasakan sesuatu yang aneh karena entah bagaimana caranya tiba-tiba
kedua tangannya bergerak dengan sendirinya mecengkram beberapa makanan dengan tangannya
sendiri lalu melahap paksa makanan-makanan itu memasukkannya ke dalam mulut.

Sugik terlihat bingung, seluruh tubuhnya seperti di kendalikan, ia mencoba melawan namun
nampak sia-sia, Sugik terus menerus memasukkan makanan-makanan itu memaksanya masuk ke
dalam mulut yang sudah penuh.

“HENTIKAN!!” kata Sabdo melihat Sugik yang tak menggubris, ia masih berusaha melahap habis
makanan di atas meja, sekali dua kali Sugik terus mencoba menghentikan tubuhnya namun tetap
saja Sugik tak bisa melawan hingga Sugik melihat tuan Sabdo berdiri sebelum menggebrak di atas
meja.

“AKU BILANG HENTIKAN BANGSAT, APA KAU MENANTANGKU” teriak Sabdo membuat
ruangan itu menjadi hening, Sugik tak mengerti apa yang baru saja terjadi, ia melihat satu persatu
wajah orang yang ada di dalam ruangan ini.

Wanita dengan parang di tangannya tampak memandang dirinya kosong, Tamin juga, tak ada
satupun di antara mereka yang bergerak saat dari jauh terdengar suara langkah kaki seseorang
mendekat.

“MAAFKAN AKU TUAN KUNCORO” katanya, Sugik menoleh menatap seorang lelaki paruh
baya, busana yang ia pakai sama seperti Anggodo dengan rambut panjang dan kumis tipis di
wajahnya ia berjalan memandang kearah Sugik dan tuan Sabdo tersenyum menyebalkan sebelum
memilih tempat duduk di samping kiri Anggodo, kini tepat di hadapan tuan Sabdo duduk orang-
orang yang beberapa di antaranya baru pertama kali Sugik lihat.

“aku hanya coba-coba, ngerogo sukmo iku nyenengno” (aku hanya coba-coba, merasuki sukma
seseorang itu menyenangkan) “kenalken nami kulo Codro-” (perkenalkan nama saya Codro)

42
Sugik kini mengerti, ia ingat sesaat sebelum kecelakaan itu terjadi di mana Truk menggilas badan
mobil yang ia kendarai Sugik merasakan tubuhnya seperti di rasuki oleh seseorang saat ia dengan
tanpa sadar berhasil membanting setir menyelamatkan tuan Sabdo dari kecelakaan fatal tersebut—
Sugik sadar bahwa apa yang baru saja ia lakukan sama persis dengan kejadian tersebut, apakah
mungkin lelaki ini yang melakukan itu kepadanya.

“Baiklah karena semuanya sudah berkumpul—mari kita mulai perjaniannya” ucap Karsa,

Sugik menoleh menatap tuan Sabdo, “perjanjian” perjanjian apa.

tuan Sabdo memandang ke tempat duduk semua orang sebelum mengatakan kepada mereka semua
“bukankah masih ada satu orang lagi yang seharusnya duduk di tengah-tengah sana”

semua orang tampak tersenyum Tuan Sabdo sepertinya tahu kepada siapa dirinya sedang
berhadapan.

Sabdo melangkah turun dari dalam mobil di ikuti oleh Sugik, bersama-sama mereka menapaki pilar
anak tangga rumah utama. Saat-saat di mana ketika Sabdo membuka pintu dan hampir saja dirinya
menabrak seseorang, Sugik termangu diam melihat Intan Kuncoro berdiri di hadapan Sabdo, sorot
mata’nya sayu, terjadi jeda panjang diantara mereka, tanpa sadar mereka saling memandang satu
sama lain dalam diam, sebelum, Intan menunduk memberi hormat lalu melangkah pergi berlalu dari
hadapan Sabdo yang tak henti-hentinya—memandang kepergian Intan, tak jauh dari tempat Sabdo
menatap nanar kepergian Intan, Sugik tersadar melihat Sugeng berdiri, bersandar di tembok di
samping kursi tempat di mana tuan Arjo bersama Lasmini tengah duduk menatap kearah mereka.

Sugik tak berani menatap mata Sugeng yang sedari tadi seperti memperhatikannya. Ia sempat
melihat ekspresi wajah Sabdo, begitu datar begitu tenang, dengan langkah kaki tegas ia
menghampiri tuan Arjo bersama dengan Lasmini, entah perasaan macam apa yang Sugik rasakan
namun dirinya melihat ruangan ini terasa lebih dingin dari biasanya, tak pernah Sugik melihat tuan
Arjo sedingin ini bahkan di hadapan Sabdo yang bagi-nya begitu istimewa.

“bawakan benda itu ke-sini”

Sugeng mengangguk, sebelum berlalu pergi dari hadapan mereka. Sabdo masih diam tak berbicara
sepatah kata’pun saat Sugeng kembali dengan membawa sesuatu di kedua tangannya. Sesuatu yang
di bungkus dengan selembar kain putih yang terlihat lusuh dengan bercak berawarna merah. Sugeng
meletakkan benda itu di lantai tepat di hadapan Arjo, ada yang aneh di sini, pikir Sugik saat
melihatnya, Lasmini membuang muka menutup hidung dengan satu tangannya saat Sugeng
perlahan-lahan membuka lembar kain tersebut saat Sugik menatap kaget setelah melihat isi dari
lembaran kain itu yang rupanya adalah sepotong kepala seorang lelaki tua yang tak ia kenali.

Arjo tersenyum menyeringai namun ekspresi menyeringai-nya terlihat getir, senyum yang
menunjukkan kemarahan, apakah ada hubungannya dengan sepotong kepala ini.

“namanya Whijojo, satu dari orang-orang bawahanku yang hidupnya sudah ku jamin dalam
sumpahku, kau tahu apa artinya ini nak?”

43
Sabdo menatap sepotong kepala itu dengan pandangan mata kosong, “seseorang mengirimkan
pesan kepadamu” kata Sabdo lembut, Arjo berdiri dari tempatnya duduk lalu menatap kearah lain ia
membelakangi Sabdo sembari tertawa Arjo mengutuk keras pesan ini.

“DIA TELAH MENGHINAKU—MENGHINA SEORANG KUNCORO, TUJUH


KETURUNANNYA AKAN MEMBAYAR SEMUANYA, KUNCORO TAK BOLEH DI HINA”

Sabdo hanya tersenyum mencemooh, senyuman yang membuat Arjo menatap dirinya dengan
pandangan mata curiga, begitu juga dengan Lasmini yang tak menyangka melihat Sabdo berdeham
dalam senyum yang misterius.

“lalu apa yang akan kau lakukan, kau mau mencari siapa yang menghabisi bawahanmu?” kata
Sabdo, suaranya terdengar lebih tenang.

“tentu saja, tapi sebelumnya aku memutuskan untuk memulai’nya malam ini”

“memulai” Sugik tak tahu apa maksud kalimat tuan Arjo, apa yang akan dia mulai. Ada apa
sebenarnya, apakah semua ini memiliki hubungan dengan pertemuan Sabdo dengan. Tidak
mungkin. Batin Sugik, tidak mungkin Arjo tahu pertemuan itu karena wanita itu, Karsa Atmojo
berkata Arjo tak akan bisa melihat. Mereka tidak bisa melihat satu sama lain.

Tuan Arjo mulai meninggalkan altar, di ikuti Sabdo bersama-sama mereka menuju ke suatu tempat,
sementara Sugeng membungkus kembali sepotong kepala itu lalu berjalan kearah lain tempat di
mana Sugik berjalan mengikutinya.

** Sugik masih mengikuti Sugeng, mereka berjalan menuju lahan kosong di tepi timur rumah
tempat di mana dia akan menguburkan sepotong kepala itu, di sela—antara langkah kaki mereka
tiba-tiba Sugeng berkata, “kau pasti ingin bertanya kepadaku apa yang akan di lakukan oleh tuan
Arjo kepada tuan Sabdo bukan?”

Sugik hanya diam. Ia memilih tak menjawab pertanyaan Sugeng.

Sugeng berhenti menoleh memandang ke tempat Sugik. “kau—” kata Sugeng seraya menahan
senyum, “kau dan tuan Sabdo benar-benar sinting”

“sinting”

“kau, entahlah apa yang lebih pantas dari kata sinting” kata Sugeng seraya kembali melanjutkan
langkahnya, “kau tahu bila permainan yang kalian mainkan ini cukup beresiko, bertemu dengan
mereka dalam waktu seperti ini itu berbahaya, kau pikir ini semacam apa”

“apa maksudmu geng, tak usah banyak bicara—katakan saja dengan jelas kemana arah
pembicaraanmu”

Sugeng hanya diam “kau bertemu dengan mereka bukan, tiga dari trah pitu”

Sugik kini yang tak sanggup bicara “bagaimana kau bisa tahu!!”

“di mana-mana selalu ada mata yang mengawasi”

44
“bila seperti itu lantas kenapa kau membawaku masuk ke dalam tempat ini, bangsat!!”

“bukan aku yang membawamu” Sugeng menoleh menatap Sugik, “ada orang lain yang ingin aku
membawamu ke tempat ini, alasan yang sebenarnya yang belum dapat aku katakan”

“alasan macam apa”

“sebentar lagi, tunggu sebentar lagi dan kau akan melihat bahwa permainan kucing-kucingan di
antara mereka akan segera menemui babak akhir” Sugeng melemparkan sepotong kepala itu ke
dalam lubang yang entah kapan di gali, “kau akan tahu bahwa sebenarnya kita tidak lebih dari
sebidak pion kecil yang di mainkan oleh mereka yang saat ini bersembunyi di balik layar” Sugeng
menutup lubang galian itu sebelum menancapkan sebatang pohon randu, ia kini menatap Sugik
mendekatinya seraya berbisik, “malam ini tuan Sabdo akan menjadi Canguksono satu dari bidak
utama dalam permainan ini, kemana dia memilih akan menentukan garis takdir semuanya”

“semua”

“semua dari akar bunga Wijayakusuma, sekuntum bunga harus gugur bahkan sebelum mekar”
Sugeng berlalu pergi, “besok ikutlah denganku, sudah seharusnya kau buka matamu di mana
sebenarnya kita sedang berada saat ini”

** Sabdo mengekor di belakang tuan Arjo, mereka melangkah di antara altar rumah utama menuju
ke suatu tempat yang bahkan tak pernah Sabdo ketahui sebelumnya, di balik puluhan pintu yang
mereka lewati Sabdo merasa bahwa akan terjadi sesuatu dengan dirinya.

“peringatan dari mereka tak seharusnya menggoyahkan aku” batin Sabdo seraya memandang
punggung Arjo, bapaknya.

“ibu’mu dulu seorang penari yang hebat” kata Arjo tiba-tiba membuka percakapan, “dia selalu
datang bila di undang dalam hajatan di kediaman ini”

Sabdo tak berbicara, ia hanya terus mengikuti kemana Arjo melangkah, “walaupun aku sudah
beristeri tapi tetap saja terlalu di sayangkan bila melewatkan tubuh ibu’mu ini”

Sabdo mendengus, dalam diam ia meremas tangannya rapat-rapat, saat tiba-tiba Arjo berhenti dan
memandang kearah Sabdo, “kau tidak sedang marah kan, walaupun aku bukan bapak yang baik
untukmu—aku lah satu-satunya sekutumu”

Sabdo tersenyum, mengangguk.

“baguslah” kata Arjo, pandangan mata’nya kini beralih pada sebuah pintu. “di balik pintu ini aku
melihat Canguksono sebelumnya mati tapi aku yakin Canguksono yang baru akan lahir” Arjo
menatap Sabdo, tatapan yang sama, tatapan penuh dengan kemunafikan yang kali ini bisa Sabdo
lihat.

45
** “Monokolo mati dengan cara yang misterius, dia adalah Canguksono bertepatan dengan dua
bulan setelahnya Kondoto Kuncoro adik kandung dari Arjo Kuncoro juga menyusul” kata Karsa
Atmojo, Sabdo hanya diam mendengarkan wanita tua itu terus berbicara, Priyugo Anggodo tiba-tiba
ikut berkata, “ku pikir kematian Kondoto juga bukan hal yang biasa, aku berpendapat kemungkinan
Canguksono di wariskan ke Kondoto bukan ke Arjo”

“hal yang tidak bisa di prediksi dari ilmu keluarga Kuncoro adalah bagaimana perewangannya
memilih siapa yang pantas menjadi tuannya” ucap Codro.

“perewangan—” Sabdo memandang ke tiga orang yang memandang dirinya dalam-dalam.

“Bokolono adalah satu dari beberapa yang di berikan oleh..” Karsa menahan diri, ia memandang ke
tempat Priyugo Anggodo dan Codro, mereka menggelengkan kepala namun Sabdo bisa melihat
dengan jelas apa yang coba mereka tidak katakan.

“lalu kau ingin aku melakukan apa?” kata Sabdo “aku benci dengan sesuatu yang bertele-tele
seperti ini”Tawa pecah Codro terdengar menggema di dalam ruangan, berbeda dengan Codro,
Priyugo Anggodo dan Karsa Atmojo memilih diam memandang ke tempat Sabdo tengah duduk.

“bantu aku untuk menuntaskan Janur ireng maka akan aku jamin nyawamu” ucap Karsa Atmojo,

Sabdo tak menjawab pertanyaan itu hingga detik ini.

** Arjo membuka pintu, menunggu Sabdo melangkah masuk terlebih dahulu di mana kini di
hadapannya ia melihat potongan dari tubuh kambing yang sudah di kuliti tergantung di sepanjang
lorong.

Tubuh kering binatang itu berwarna merah kehitaman—seakan-akan tak ada lagi darah segar di
dalam daging-daging yang di gantung secara terbalik tersebut. Tak jauh dari sana Sabdo melihat
sebuah kolam kecil dengan warna merah darah, Arjo berjalan mendahului Sabdo sebelum meraih
sebilah parang yang ada di atas meja di sudut-sudut ruang.

“kita akan membuktikannya sekarang, Canguksono”

** Pagi itu, Sugik tak melihat Sabdo sama sekali, semenjak malam itu saat tuan Arjo mengajaknya
untuk pergi ia tak menemui batang hidung dari tuannya lagi, sejujurnya di dalam hati Sugik ia mulai
khawatir saat datang sebuah mobil mendekat kearahnya.

“masuk gik”

Sugik melangkah masuk ke dalam mobil, bersama-sama, mereka berkendara menelusuri jalan,
Sugik tak bertanya kemana mereka akan pergi. Setelah menempuh perjalanan jauh mereka berhenti
di sebuah area lahan kebun teh di mana Sugeng melangkah keluar terlebih dahulu setelah
memarkirkan mobil di bahu jalan, ia berjalan menuju ke jalan setapak di ikuti oleh Sugik, bersama-

46
sama mereka menelusuri area perkebunan itu sebelum di jemput oleh seorang lelaki tua dengan
kereta kuda menuju masuk ke area yang lebih dalam.

Sugik hanya diam saja di atas kereta kuda, sesekali dirinya melihat Sugeng yang menatap kearah
pepohonan terlihat hamparan tumbuhan hijau sejauh mata memandang, ia ingin bertanya namun
nampaknya Sugeng tak ingin menjawab pertanyaan apapun ia pasti ingin dirinya tahu dengan
sendirinya apa yang dia maksud di malam itu bahwa semua ini hanya permainan kecil bagi mereka.

Kereta kuda berhenti di sebuah rumah gubuk reot di balik pohon-pohon tinggi, asap mengepul dari
api yang berkobar di atas tungku, Sugeng bersama Sugik melangkah masuk melewati pagar bambu
menuju ke teras rumah tempat seseorang yang tak pernah Sugik ketahui tinggal. Tak lama lelaki
yang menarik kereta kuda tadi terlihat berjalan masuk kemudian mendekati mereka, Sugeng
bersama Sugik mengikuti si lelaki tua yang kemudian duduk bersila di teras belakang rumah
menikmati pemandangan alam dari asap tungku yang berkobar-kobar, si lelaki tua lalu berkata.

“pagi ini aku mendengar kabar bahwa seluruh anggota keluarga Menur Arya mati di bantai oleh
Bokolono, sudah lama sejak Bokolono tak mewujudkan santetnya, apakah Kuncoro sudah
menemukan Canguksono’ yang baru?”

Sugeng mengangguk memberi hormat pada si lelaki tua. “nggih romo” “anak’ dari Kondoto’lah
yang mewarisi ilmu tersebut”

“siapa namanya?”

“Sabdo—namanya adalah Sabdo Kuncoro”

Sugik memekik terkejut mendengarnya.

** duduk bersila di depan meja dengan seorang lelaki yang tak di kenal membuat Sugik hanya
menunduk diam, ia merasakan perasaan yang sama seperti saat melihat tuan Arjo atau melihat
orang-orang besar lain, terpikir pertanyaan siapa lelaki tua ini dan kenapa Sugeng menemuinya.

“seperti yang sudah ku ramalkan—semua mulai menata posisi mereka, termasuk aku, sungguh aku
tak pernah sesenang ini melihat apa yang akan terjadi”

Sugeng hanya mengangguk mengikuti ucapan si lelaki tua tersebut,

“lantas di mana keberadaan bocah tengik itu”

“Bayu Saseno masih tinggal di dalam perlindungan milik tuan Arjo”

“begitu rupanya” kata si lelaki tua terkekeh sembari menghisap cerutu di mulutnya.

“Arjo tak seperti bapaknya, dia terlalu kasar dalam bermain, seperti besi yang kuat tapi patah
sebelum berhasil di tempa, seandainya saja dia lebih tenang sedikit mungkin arah dari permainan ini
bisa berubah” katanya seraya menghembuskan asap, “kau tahu aku tak memihak mereka tapi aku
juga tak bisa berada di bagian yang sama dengan Kuncoro, hanya tinggal dua lagi yang belum
memutuskan—aku tak boleh gegabah karena semua pasti saling mempersiapkan diri”

47
Dari belakang seseorang mendekati si lelaki tua, ia berbisik namun si lelaki tua berkata dengan nada
suara tinggi seolah-olah dia dengan sengaja memperdengarkan bisikan itu kepada mereka.

“ada lima jenazah baru datang kau bilang!!” katanya seraya memandang orang itu yang berjengit
menatap Sugeng dan Sugik canggung. “apa ada perempuan dari lima jenazah yang kau bawa itu?”

Orang itu berbisik kembali di telinga si lelaki tua namun si lelaki tua itu kembali berbicara dengan
nada yang keras, “dua perempuan, baiklah, buang saja dua jenazah perempuan itu aku hanya ingin
jenazah laki-laki, antarkan ke kamarku”

Sugik hanya diam, ia tak tau harus bereaksi seperti apa setelah mendengarnya, saat si lelaki
kemudian berbicara kepadanya “apakah kau sudah mengikat darah dengan Sabdo si Canguksono—
Sugik bakhir, jangan lagi kau salahkan Sugeng temanmu karena aku lah yang menyuruh dia agar
mengajukan dirimu untuk masuk ke dalam lingkaran keluarga Kuncoro sebab kau adalah Kudro
bagi keberlangsungan akhir dari riwayat Kuncoro”

“perkenalkan namaku adalah SOBO”

“Ikutlah denganku akan ku jamu kalian karena sudah datang jauh-jauh untuk menemuiku”

Sugik menoleh melihat Sugeng yang mengangguk memberi gestur bahwa sebaiknya mereka tak
menolak tawaran dari SOBO karena orang seperti beliau tak pernah mau mendengar kata tidak dari
siapapun.

Sugik akhirnya mengangguk mengikuti setapak demi setapak jalan tempat SOBO sedang berjalan,
rupanya di belakang gubuk reot itu terdat sebuah jalan yang mengarah semakin dalam melewati
pohon-pohon tinggi yang terlihat muram, tanah yang mereka injak terasa lembab berwarna
kehitaman serta beraroma sedikit busuk, bebauah yang membuat Sugik merasa tidak nyaman,
beberapa kali dirinya harus menutup hidung saat mengikuti lelaki berperut buncit bernama SOBO
itu yang entah kenapa bisa berajalan lebih cepat di bandingkan mereka yang jauh lebih muda.

“kau tadi dengar kan apa yang dia katakan” kata Sugik yang terdengar seperti berbisik,

“soal apa?” tanya Sugeng sembari berjalan menendang batu kerikil kecil yang di hadapannya.

“dia bilang mayat perempuan serta mayat laki-laki, kau pikir untuk apa dia menyimpannya di dalam
kamarnya”

Sugeng hanya diam, ia tak mau menjawab pertanyaan Sugik, sesekali dirinya mendapati Sugeng
melihat keatas, di mana terbantang pemandangan dari ranting-ranting pohon dengan dedaunan
rimbun berwarna hijau tua, tak sedikitpun Sugeng tertarik dengan keingintahuan Sugik, bagi dirinya
yang sudah lama menyaksikan hal-hal sinting seperti ini, ia hanya berusaha menyampaikan hal itu
kepada Sugik bahwa terkadang keingintahuan itu bisa membunuh.

“kadang lebih baik bila kau tidak tahu apa yang mereka sembunyikan”

“apa” Sugik bertanya, tak mengerti maksud dari kalimat Sugeng.

Sugeng menghembuskan nafas panjang, kemudian berkata sekali lagi kepad Sugik agar ia lebih
mengerti apa yang coba ia katakan kepadanya “orang-orang seperti mereka memiliki sesuatu yang
tak ingin sembarang orang ketahui,” Sugeng berhenti sejenak memandang tajam tepat ke dalam

48
mata Sugik, “lebih baik menjadi anak polos yang tak tahu apa-apa tapi memiliki umur yang panjang
daripada menjadi seekor kucing penguping, yang mana kita tidak pernah tahu kapan kepala kita di
tabas, apa yang bisa di lakukan oleh orang seperti mereka kau tak akan ingin tahu lebih jauh”

“Geng, sebenarnya apa yang sedang kau rencakan dengan dia”

“semua orang pasti mencari jalan yang paling aman, hal itu yang ku lakukan selama ini untuk
bertahan, sebentar lagi gik, sebentar lagi kau akan tahu apa yang selama ini ku sembunyikan”

Sugeng berjalan lebih cepat mengejar Sobo sementara Sugik kini diam termangu mencerna setiap
kalimat Sugeng hingga tanpa sadar dirinya memandang punggung sahabatnya. ia seperti tak
mengenali siapa Sugeng yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri. Apa yang sebenarnya kau
inginkan geng.

Sugik sempat melihat ke atas langit. Cuaca sedang Mendung. batin Sugik yang kini memandang
dedaunan mulai berjatuhan, “malam ini hujan deras akan turun”

** Siapa sangka di balik jalan setapak yang di penuhi pohon-pohon rindang tinggi tersembunyi
sebuah rumah besar yang menyerupai sebuah Vila yang bersembunyi di antara kaki gunung.
Tempat di mana tak sembarang orang pasti tahu. Sugik terlihat takjub, belum pernah ia melihat
tempat seperti ini selain kediaman milik Kuncoro yang juga megah, namun di sini semua terasa
berbeda, begitu asing, seakan tempat ini menunjukkan sisi lain dari kediaman milik Kuncoro.

Kediaman milik Kuncoro memiliki Abdi yang tersebar di segala penjuru, merawat setiap sisi tempat
sementara kediaman milik SOBO memiliki sisi unik kebalikannya, di mana tak banyak abdi yang
bisa Sugik temui, hal itu terlihat begitu mencolok membuat Sugik merasa bahwa SOBO mungkin
juga memiliki sifat yang berlawanan dengan Arjo, dia terlihat lebih tenang juga lebih banyak
memperhitungkan terasa dari pemilihan kosakata saat dia berbicara.

Vila besar ini terlihat layaknya permata yang bersembunyi di antara batu bara, meski bangunan ini
terlihat kosong layaknya rumah hantu, namun Sugik merasakan ketenangan berdiri di atas tanah ini,
semua terasa begitu sepi, begitu hening sampai-sampai Sugik bisa mendengar dengan jelas
gemeresak angin yang berhembus menyapu dedaunan yang mulai berguguran.

SOBO menyukai patung, begitu kata Sugeng. hal ini bisa di nilai di sepanjang taman setelah
melewati gerbang di mana Sugik mendapati berbagai bentuk astetik dari bongkahan batu yang di
pahat dalam segala proposi serta posisi yang aneh, beberapa patung di buat menyerupai manusia
modern dengan kecacatan fatal di anggota tubuh seperti separuh kepala dari patung-patung itu
seakan-akan di buat menyerupai sosok lain yang tak dapat ia mengerti, hanya saja, Sugik merasa
ngeri melihat—sorot mata dari setiap patung yang dia temui, terasa begitu hidup, seakan-akan
mereka sedang mengawasi, Sugik tersadar bahwa Sugeng sudah jauh dari dirinya, ia berlari
mengejar langkah Sugeng yang kini berjalan menyusuri salazar kemudian menapaki pilar-pilar anak
tangga yang di buat dari marmer sebelum sebuah pintu besar ada di hadapan mereka, SOBO
membuka pintu tersebut sehingga mereka dapat melihat pemandangan ruang yang begitu megah
tempat di mana Sugik menemukan benda-benda unik dan mewah di segala sudut yang memenuhi
ruang.

Sekarang dirinya mengerti bahwa mereka memang bukan sembarang orang dalam hal kekayaan,
Kuncoro, SOBO tak dapat di remehkan.

49
** Sugik duduk di samping Sugeng di mana di hadapannya terbentang sebuah meja yang panjang di
mana banyak sekali terlihat makanan lezat tersaji di hadapan mereka dengan Sobo sedang duduk di
seberang meja melihat kearah mereka dengan senyum ramah.

Ia mempersilahkan Sugeng bersama Sugik untuk menyantap hidangan yang baru saja di sajikan
oleh abdi’nya. Sebuah daging panggang dengan warna kemerahan.

Sugik melirik Sugeng, di mana mereka tampak ragu dengan hidangan daging kemerahan yang
tersaji di atas piring—ada sesuatu yang mengganjal mereka untuk mencicipi sajian dari makanan
itu.

“Onok opo to, monggo, gak apik nolak suguhan’e sing nduwe omah” (ada apa tah, silahkan, gak
bagus menolak pemberian yang punya rumah)

Setelah mendengar itu, Sugeng meraih garpu dan pisau di samping piring lalu perlahan mulai
memotong daging panggang yang ada di hadapannya, sebelum melahap sepotong demi-sepotong ke
dalam mulutnya, Sugik masih diam, ragu, sampai akhirnya SOBO berkata kepada dirinya.

“Mas Sugik, tenang saja, ini daging sapi terbaik yang langsung di ambil dari peternakan milik saya,
ini bukan daging manusia seperti yang kau pikirkan, setidaknya—bukan saya di antara mereka yang
gemar menyantap daging seperti itu”

SOBO tersenyum, meski gemetar Sugik akhirnya meraih pisau dan garpu yang ada di hadapannya
lalu perlahan-lahan mulai memotong sepotong-demi sepotong daging di hadapannya sebelum
memasukkan potongan itu ke dalam mulutnya.

Ia tak akan pernah melupakan rasa gurih kenikmatan itu, setidaknya untuk waktu yang lama. Ia tak
akan merasakan sensasi senyum dari seorang SOBO.

** SOBO membuka sebuah pilar pintu di mana dirinya memasang tirai berwarna kemerahan,
SOBO melihat Sugeng bersama Sugik mengikuti di belakangnya ia lalu berkata kepada mereka,
“akan ku katakan sampai di mana pengetahuanku bahwa sebentar lagi permainan ini akan mencapai
klimaksnya”

“Klimaks”

Sobo menarik seutas tali membuka tirai merah di mana di dalam ruang itu, terbentang ruang lain
dengan lantai yang di bangun secara berbeda, lantai marmer tersebut di buat terpisah dengan
ruangan yang di ciptakan dari susunan kayu jati kokoh tempat di mana Sugik dapat melihat jelas
dipan-tempat tidur dengan kain putih yang menutupi sesuatu terbentang di hadapan mereka, SOBO
berjalan perlahan-lahan melewati rentetan tempat tidur yang terisi tersebut, dari sudut pandang mata
Sugik dia menemukan beberapa pasang kaki yang berwarna putih pucat di ujung setiap dipan,
sembari berjalan SOBO berkata dengan nada bergurau, “Jangan bilang kalian ingin melihat apa
yang ada di dalam kain-kain ini bukan?”

50
Sugeng dan Sugik tak menjawab pertanyaan itu, hal ini membuat SOBO tersenyum puas,
sebenarnya tak perlu bagi mereka untuk tahu apa yang ada di dalam kain-kain ini, karena mereka
sudah bisa menebaknya.

Sugik merasakan tubuhnya merinding setiap kali melewati dipan-dipan di samping kana kiri, ia tak
pernah tahu bahwa ada yang lebih sinting dari seorang KUNCORO, bahkan hal ini membuat
dirinya kini percaya apa yang pernah dia dengar dari petuah orang-orang dahulu tentang mereka,
tentang para manusia yang di juluki SONGKOR ini…
SOBO akhirnya berhenti di sebuah lantai panggung tempat di mana dirinya menutupi sebuah papan
kayu dengan sepotong kain berwarna merah, SOBO menoleh melihat Sugeng tersenyum lalu
berkata kepada dirinya, “ambilkan sebilah pisau yang ada di sana”

Sugeng mengangguk, ia berjalan menyusuri lantai kayu sebelum meraih sebilah pisau tajam di atas
meja, sedangkan SOBO sendiri yang sekarang berdiri di atas panggung merentangkan kedua
tangannya layaknya seseorang yang ingin menunjukkan kuasa dirinya di hadapan Sugik, Sobo
perlahan-lahan mulai menanggalkan pakaian yang ia kenakan hingga bertelanjang dengan hanya
menggunakan kancut yang menutupi kemaluannya.

Sugik cukup terkejut menyaksikan lelaki tua sinting itu yang kini bertelanjang seperti orang gila
namun Sugik menahan diri karena sepertinya hal ini tak menganggu Sugeng, seakan-akan dirinya
sudah seringkali melihat hal-hal seperti ini. benar-benar orang sinting. umpat Sugik berkali-kali.

Pemandangan itu membuat beberapa kali Sugik harus memalingkan wajahnya karena merasa tidka
nyaman dengan apa yang dia saksikan. Sugeng memberikan pisau itu ke tangan SOBO saat tiba-tiba
Sugik melihat sesuatu yang mengejutkan di mana SOBO secara langsung mengiris-iris ujung jari-
jemarinya, membuat setengah daging di ujung jarinya terpotong begitu saja, membuat darah
menetes terus menerus ke lantai, hal yang sulit di percaya karena SOBO mengiris kesepuluh jari-
jari di tangannya.

SOBO lalu berbalik menoleh melihat papan kayu yang masih di tutup oleh selembar kain berwarna
merah, entah apa yang di lakukan oleh orang tua itu, Sugik mendengar ia bergumam seperti
berbicara dengan sosok lain, setelahnya SOBO mulai menarik kain merah di papan kayu tempat di
mana Sugik dapat melihat pemandangan mencengangkan itu di mana dirinya melihat sebuah
tulisan-tulisan aneh—di ikuti oleh simbol simbol tak di kenal yang di tulis dengan warna merah tua
seperti darah yang sudah mengering.

“Aku melihatnya—malam ini pembantaian seluruh keluarga Menur Arya akan di mulai” SOBO
berkata seraya mencoret salah satu simbol dengan darah yang keluar dari jari-jemarinya, ia
kemudian menggores panjang seperti menarik garis lurus pada simbol lain, “Menur Arya adalah
salah satu keluarga yang langsung berada di bawah kepemimpinan ATMOJO, hal ini akan
menimbulkan konflik besar di mana SEWU DINO bisa di kirim tetapi..”

Sugik mendengar SOBO berbicara sendiri, ia berkata terus menerus namun suaranya terdengar aneh
seperti bukan diri-nya yang sedang berbicara, suaranya terdenger feminim menyerupai suara
seorang perempuan, ia seperti sedang bercerita, “jangan remehkan siapa Canguksono, dua iblis itu
tak akan berani menyentuh KUNCORO karena BOKOLONO ada di belakang mereka, iblis sialan
ini sudah di ambil alih oleh bocah kecil itu tapi semua ini akan berbeda bila Anggodo serta CODRO
mau ikut andil dalam pertikaian ini—tapi dua pengecut itu tak akan mau mengambil resiko besar
seperti ini jadai arah rojot akan mengarah pada sisi lain dari bunga Wijayakusuma yang sedang
mekar” katanya, Sugeng mencatat setiap apa yang di katakan oleh SOBO di dalam sebuah buku tua,
kali ini SOBO menarik garis panjang ke simbol lain yang lebih jauh, “sesuatu—sesuatu di butuhkan
untuk membalas perlakuan Kuncoro ini, satu darah dari penerus Menur Arya, SANTET JANUR

51
IRENG sepertinya akan di tunaikan di malam sebuah pernikahan berdarah-darah, aku mencium
aroma amis darah yang akan tumpah, tetesan ini tak akan pernah bisa kering, Arjo harus
memutuskan pilihan bila sampai ia tak menyadari satu kesalahan ini maka akhir dari riwayatnya
terlihat jelas di mataku—katakan kepada SOBO untuk menahan diri, menunggu apakah JANUR
IRENG bisa di tunaikan oleh Atmojo seorang diri ataukah ada satu lagi yang sedang menunggu
momen, semua harus bersiap sampaikan pesanku ini kepada dia—jangan sampai detail ini tidak kau
tulis, mengerti”

“mengerti kanjeng puteri lalu apa maksud anda siapa yang sudah menunggu?” Sugeng bertanya,

“Aku tak boleh melihat lebih jauh dari ini, Ratu akan menghabisiku bila mencuri momen ini
bagaimanapun semua harus terlihat adil”

Sugeng mengangguk, sementara Sugik melihat bingung coretan-coretan itu membantuk sebuah
pola, di mana dirinya melihat sebuah nama, “SRI—SABDO”

Di dalam kepala Sugik yang berkecambuk tiba-tiba ia tersentak mendengar SOBO melihat dirinya,
ia menyeringai dalam bola mata kehitam-hitaman.

“Kau— akan ikut andil dalam peristiwa besar ini tapi kau juga yang akan mengakhirinya”

Sugik menatap papan tempat nama-nya di tulis dengan darah di bawah nama seseorang yang ia
kenal, INTAN KUNCORO, apa maksud dari garis ramalan ini.

** Malam itu hujan deras turun, suara gemuruh badai terdengar menggelegar, Menur Arya sedang
duduk bersama isterinya di atas sebuah kursi panjang, menikmati malam di ruang perapian bdengan
kedua anak dan cucu-cucunya, ia tertawa bersama-sama, sembari menatap dalam kobaran api
Menur Arya berkata di dalam hati, sebentar lagi, sebentar lagi tujuannya akan tercapai, dirinya
dapat mengubah status keluarganya pernikahan yang di ambil dengan resiko nyawanya untuk anak
sulung yang telah ia ajukan sebagai menantu Kuncoro, Arjo harus memilih dirinya setelah ia
menuntaskan tugas yang Arjo berikan kepadanya. Ia harus menepati janjinya.

Angin berhembus lebih kencang dari biasanya, tanpa mereka sadari satu cucu Menur Arya berjalan
gontai menuju ke pintu kaca di belakang kursi tempat mereka bersantai, saat Menur Arya bersama
yang lain menyadari ia melihat cucunya berdiri sembari melihat kearah kaca yang ada di
hadapannya di mana ia seperti melihat sesuatu.

Sadar ada yang salah, Menur Arya berkata kepada cucu kecilnya, “adek lihat apa—”

Anak kecil yang usianya tak lebih dari lima tahun itu menunjuk sesuatu di luar rumah dengan
senyuman lucu yang menggemaskan, ia seperti mengatakan sesuatu yang membuat Menur Arya
semakin penasaran, ia bangkit dari tempat dia duduk lalu berjalan mendekati salah satu cucunya
yang kini menggebrak-gebrak kaca pada pintu, saat Menur Arya berada di belakang anak kecil itu
dirinya melihat apa yang sedang cucunya lihat, saat dirinya tersdar, Menur Arya terdiam dalam
sorot mata melotot menyaksikan tak jauh dari tempatnya sedang berdiri terlihat sesuatu yang dia
kenal tengah memandang kearah rumahnya, di bawah hujan deras itu Menur Arya melihatnya,
seekor kambing hitam tengah menatap lurus di bawah guyur hujan yang sedang turun.

52
Sadar apa yang tengah mengintai keluarganya, Menur Arya segera mengangkat tubuh cucunya
membawanya menjauh kemudian ia berteriak memperingatkan seluruh anggota keluarganya untuk
berkumpul dalam satu ruang yang sama, lampu—di dalam rumah tiba-tiba saja berkedap-kedip
membuat seisi keluarga Menur Arya panik, merasakan sesuatu sedang mengancam keluarganya ia
berlari menyongsong gagang telephone sayangnya tak ada jawaban yang dapat ia terima saat tiba-
tiba seseorang menyentuh bahunya, ia menoleh mendapati salah satu anaknya menatap dirinya
dengan sorot mata kosong, “pak—bapak” katanya dengan suara parau, Menur Arya melihat di pipi
kanan anak-nya terdapat sebuah lubang misterius berwarna kehitaman, kepanikan mulai terasa
semakin instens saat satu persatu keluarga Menur Arya menemukan lubang-lubang misterius
tumbuh di seluruh tubuh mereka.

Masih tak ada jawaban, Menur Arya membanting telephone itu, sekarang semua sudah terlambat, ia
telah di khianati oleh orang itu.

Tidak. Tidak mungkin. Batin Menur Arya, masih tak percaya apa yang terjadi, ia mulai menyadari
bahwa di telapak tangannya muncul lubang misterius yang sama, perlahan-lahan seiring waktu
berjalan lubang-lubang itu bermunculan semakin banyak memenuhi tubuh satu persatu anggota
keluarga Menur Arya termasuk cucu-cucu Menur Arya yang kini mulai berteriak—menangis
merintih menahan sakit saat dari lubang-lubang itu mengalir darah terus menerus, sekarang, tak ada
yang dapat mereka lakukan saat—satu persatu dari mereka jatuh tumbang, teriakan keras dengan
jeritan memekikkan telinga terdengar bersahut-sahutan lalu di ikuti suara mengembek di segala sisi
di mana tubuh satu persatu anggota keluarga Menur Arya di seret menggesek lantai kayu—di mana
mereka mencoba bertahan sembari mencakar-cakar lantai kayu—hingga kuku-kuku jari mereka
patah, mereka di serat sampai tergantung di atas langit-langit rumah dengan lubang-lubang yang
terus bermunculan di tubuh mereka yang kini meneteskan darah kehitaman.

“Bapaaaaak—tolong pak”

Menur Arya hanya diam saja melihat ketiga cucunya pasti sudah tewas menempel di langit-langit
rumah tak ada lagi tangisan hanya jeritan kesakitan dari beberapa orang yang masih bertahan,
Menur Arya berteriak memaki seakan ada yang mendengar suaranya. “BAJINGAN KAU
KUNCORO, AKU SUDAH MENGIKUTI PERINTAHMU TAPI KAU—KAU!!” di dalam suara
yang semakin lama semakin parau Menur Arya baru saja menyadari sosok hitam dengan tanduk
seekor kambing tengah berdiri di belakangnya menatap dirinya dengan sorot bola mata merah saat
ia mulai merobek wajah Menur Arya dari mulutnya yang mengangah menyisahkan segumpal
daging yang terkoyak-koyak di lantai, saat seluruh anggota Menur Arya akhirnya terbantai di
malam dengan hujan yang tak henti-hantinya.

** SOBO berkata kepada Sugeng, “Kuncoro itu istimewa hal inilah kenapa Canguksono seharusnya
di miliki oleh mereka yang bijaksana, karena sejak dulu BOKOLONO adalah satu-satunya
pemberian yang mewakili rasa rakus dari manusia”

53
*** Sabdo di ikat di atas tiang, dengan linggis yang berkali-kali menghujami tubuhnya, darah terus
mengalir sepanjang Sabdo berteriak—meminta ampun kepada Arjo yang tak henti-henti terus
menancapkan linggis tepat di tubuhnya.

Sabdo melihat semuanya. Ia bisa melihat saat dirinya menghabisi anak-anak tak bersalah, Sabdo
bersumpah dalam suara paling getir, ia bersumpah akan melihat Arjo mati dengan cara paling keji,

Arjo tertawa sebelum akhirnya menghunuskan linggis terakhir tepat di perutnya. Mngakhiri semua
malam ini sembari berkata, “masih ada beberapa yang ingin ku habisi, kau tak akan mati semudah
ini—keponakanku”

Hening. Kali ini, tak terdengar suara Sri yang sebelumnya meraung meminta ini semua di akhiri,
Sugik melihat perempuan itu dalam kondisi paling mengenaskan, tubuhnya bermandikan darah,
dengan rambut acak-acakan yang menutupi sebagian dari wajahnya, Sri tampak putus asa, tak
pernah Sugik duga sebelumnya semua ini akan menjadi lebih kacau dari apa yang Sugik bayangkan
sebelumnya.

Sugik melihat Sri, ada keinginan untuk melepaskan perempuan itu dari jeratan yang menyiksa
tubuhnya di tiang kayu di dalam aula utama keluarga Kuncoro, Sugik tahu bahwa apa yang dia
lakukan ini adalah bagian dari perintah bila ingin mengakhiri segala tragedi busuk di dalam rojot
yang pernah dia dengar dari mulut pemuda itu, setidaknya perasaan yang sudah lama menggumpal
di dalam hatinya akan terbalaskan, pemuda itu berkata kepada Sugik, semua akan mendapat
pembalasan setimpal dari apa yang sudah mereka tuai selama hidup, satu persatu kutukan akan
datang menemui mereka.

Sugik mendekati Sri, ia melihat perempuan itu yang sudah dalam kondisi di ujung maut, nafasnya
tersenggal, bola matanya sudah terlalu lemah untuk melihat Sugik, sebelum Sugik melangkah pergi
dari tempat ini dan mengakhiri semua tragedi ini ia mengatakan kepada Sri untuk terakhir kalinya,
sebuah pesan perpisahan “aku harus pergi Sri, aku benar-benar minta maaf sudah melibatkanmu
sampai sejauh ini, tapi percayalah kelak kau akan mengerti bahwa ini adalah bagian yang harus aku
mainkan”.

Sugik mengakhiri pekerjaannya hari ini, ia mulai mengguyur seluruh tempat ini dengan bensin yang
sudah ia persiapkan sebelumnya, Sri mengerang, memohon namun kata-katanya tak sampai di
telinga Sugik namun Sri berusaha lebih keras, ia berusaha memberitahu Sugik tentang sesuatu,
sesuatu yang teramat sangat penting, Sugik melihat Sri untuk terakhir kali sebelum melemparkan
korek api dari dalam kantong celana miliknya, kobaran api menjalar memenuhi tempat ini, lidah api
mulai membakar lantai kayu yang berlumurkan genangan darah, Sugik pergi meninggalkan Sri
seorang diri di tempat ini. Sayup-sayup dari pandangan Sri, ia melihat seekor kambing hitam
mengawasi dirinya dari balik bara api yang menyala—nyala Bokolono datang menemui dirinya.

** Terdengar suara langkah kaki di lorong kayu, seorang wanita yang menutupi dirinya dengan
sehelai kain tengah menyusuri anak tangga, di sana ia berhenti sejenak sebelum mengetuk pintu
dengan plat besi yang tergantung di pintu, “tok tok tok” sayangnya tak ada jawaban yang ia terima,
namun wanita itu tahu bahwa yang sedang dia cari ada di balik pintu ini, entah bagaimana caranya
wanita itu mendorong pintu kayu yang terlihat sangat tua, lebih tua dari pintu-pintu kayu yang
pernah dia lihat sebelumnya.

54
Suara Krieeek dari pintu kayu terdengar, Ia melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan gelap gulita
yang tersembunyi di dalam pondasi sebuah rumah megah di salah satu tempat terasing, pintu tiba-
tiba tertutup dengan sendirinya menimbulkan suara berdebam yang akan membuat orang terkejut
bila mendengarnya namun si wanita misterius ini tampak tak bergeming dari tempatnya berdiri, ia
melanjutkan langkah kakinya menyusuri lantai kayu di mana bisikan-bisikan ghaib mulai terdengar
di telinganya.

Beberapa kali terlihat rupa dari boneka-boneka yang menyerupai Rangda, Celuluk, sampai Barong
berdiri di hadapannya, boneka-boneka itu terlihat seakan-akan hidup namun tak mengendurkan
keberanian dari wanita ini yang terus menerus berjalan mengesampingkan kengerian yang
menyelimuti dirinya saat dari jauh mulai terdengar suara sesuatu yang saling menggesek satu sama
lain, menyerupai suara dari seseorang yang sedang menenun.

Semakin lama, suara itu semakin terdengar jelas di telinganya, bayangan hitam yang selama ini
terbentang di hadapannya perlahan mulai menghilang di mana di satu titik di ruang paling dalam
mulai terlihat sosok wanita lain berambut panjang tengah bersila sembari menenun, ia mengenakan
gaun panjang berwarna putih bersih, tangannya elok memainkan jarum-jarum yang terlihat seperti
sumpit, ia memintal benang berwarna kehitaman menyerupai rambut tersulur yang warnanya nyaris
sama hitamnya di telan ruangan gelap ini saat wanita itu mendekati sosok misterius yang kini ada di
hadapannya, ia mendengar dia berbicara.

“suatu kehormatan bagiku menemui tamu terhormat seorang Atmojo trah Anom yang mengenggam
Sadoso Padur yang datang jauh-jauh hanya untuk menemuiku” katanya, suaranya terdengar seperti
suara seseorang yang sedang berbisik,

Wanita yang berdiri itu perlahan membuka kain yang menutupi kepalanya, rupanya itu adalah mbah
Karsa Atmojo, salah satu dari tujuh nama yang bersekutu satu sama lain dan menjalin ikatan darah,
bersumpah menjadi saudara dalam mengabdikan diri untuk sang maha Ratu.

“lama sekali sejak terakhir aku melihat dirimu, Gayatri yang di peragungkan dengan nama Trah
Pengiwa” balas mbah Karsa sembari menunduk di hadapan wanita yang menutupi wajahnya dengan
rambut yang teramat sangat panjang.

“apa yang bisa ku bantu untukmu?”

Mbah Karsa melihat wanita itu, tatapannya terlihat bersimpati, kondisi wanita ini masih sama
seperti 5 tahun yang lalu, tak ada yang berubah dari fisiknya “aku hanya datang berkunjung,
menyapa dirimu sebelum ajalku tiba”

Wanita itu berdeham tertawa kecil, “sepertinya begitu, sangat di sayangkan bila Atmojo kehilangan
orang seperti dirimu”

Mbah Karsa melihat tempat lain, ruangan ini benar-benar terlihat seperti penjara namun mbah Karsa
tahu alasan kenapa Gayatri satu dari nama yang paling tua setelah Kuncoro memilih untuk
mengasingkan dirinya di tempat ini, pandangan mbah Karsa tertuju pada mangkuk kosong berisikan
darah yang mulai mengering, mbah Karsa tahu mangkuk apa sebenarnya itu, “sepertinya fisikmu
tak banyak berubah, masih terlihat sangat muda seperti saat aku melihatmu dulu, apakah keabadian
benar-benar sudah mengutuk dirimu”

Wanita itu untuk pertama kalinya mengangkat wajahnya melihat mbah Karsa, “bila saja aku di
ijinkan menua dan mati seperti dirimu maka aku akan menyambutnya dengan senang hati, kau tahu
sendiri bagaimana aku menderita karena hal ini”

55
“aku tahu, ku sampaikan simpatiku kepada dirimu”

“jadi—langsung saja katakan apa yang sebenarnya kau inginkan hingga datang jauh-jauh untuk
menemuiku”

Mbah Karsa mengangguk tersenyum, “kau pasti tahu, aku masih bertanya-tanya sampai saat ini
kenapa di saat-saat terakhir sebelum santet janur ireng di lepas kau memutuskan untuk bergabung
bersama kami, jelas-jelas kami semua tahu kau begitu dekat dengan keluarga Kuncoro bahkan kau
mengenal Arjo saat dia masih anak-anak, apa yang membuatmu berubah pikiran”

Wanita itu terdiam lama. Mematung sebelum menjawab pertanyaan mbah Karsa, “banyak hal yang
harus aku pertimbangan hal ini bukan hanya serta merta menghapus satu nama di antara kita
bertujuh namun aku sadar bahwa hari di saat satu persatu dari kita akan menebus segala dosa yang
selama ini sudah kita perbuat, hari itu akan segera tiba jadi ku putuskan untuk mempercepat
semuanya”

“hanya itu?”

“Arjo Kuncoro adalah anak yang baik, setidaknya itu yang ku ketahui, dia hanya menginginkan
nama Kuncoro tak di injak-injak oleh dia, tapi Arjo 5 tahun yang lalu benar-benar berbeda dari Arjo
yang dulu aku kenal, ia hanya tidak tahu bagaimana harus bersikap ketika nama Kuncoro
sebenarnya sudah di ujung tanduk saat Monkolo memutuskan untuk melepaskan posisinya dan
memberikannya kepada dia—”

“dia?” mbah Karsa berdeham,

“sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku berikan kepadamu”

Mbah Karsa melihat wanita itu, ia mengambil sesuatu dari dalam pakaiannya, sebuah kertas yang di
lipat dengan tali rambut, “ini menyangkut tentang penerusmu, kau harus tahu siapa Kudro dari
Atmojo”

Mbah Karsa tampak terkejut mendengarnya, ia merasa aneh, bukan hal yang biasa bagi sesama trah
pitu untuk saling bertukar informasi tentang Kudro mereka tanpa adanya transaksi, namun ada apa
dengan Gayatri, kenapa ia terlalu baik kepada dirinya? Apakah ada maksud lain dia melakukan ini?

“kenapa kau melakukan ini?”

Wanita itu memandang Karsa dengan sorot mata tajam lalu berujar “apakah kau tahu ROGOT
NYOWO di mulai dari penerusmu”

** Mbah Karsa mengangguk, sebelum bersiap untuk pergi saat tiba-tiba ia berhenti lalu
mengatakan, “sudah berapa lama kau tidak tidur?”

Wanita itu tersenyum lalu berkata, “sejak kematian para Kuncoro aku bersumpah tidak akan lagi
pernah tidur untuk menghukum diriku sendiri”

Mbah Karsa mengangguk mencoba untuk mengerti, “kau masih menyantap janin-janin yang di
bawakan kepadamu?”

56
Wanita itu melihat mangkuk bersimbah darah yang ada di sampingnya, ia lalu berkata “apakah aku
harus menjawab semua pertanyaanmu”

“tidak perlu, fisikmu yang tidak pernah berubah sudah cukup untuk menjawabnya, sekali lagi ku
ucapkan terimakasih” mbah Karsa melangkah pergi meninggalkan wanita itu.

Pastika Gayatri, mbah Karsa tidak akan pernah melupakan nama keluarga itu di dalam sisa
hidupnya, saudari kembar dari seorang Rinjani yang pernah hampir menaklukan Trah pitu bila saja
Codro saat itu tidak sigap untuk menangkapnya.

Trah Pitu Lakon.

57

You might also like