Dziyaullami@students - Undip.ac - Id: Dziyaul Lami'

Download as pdf or txt
Download as pdf or txt
You are on page 1of 27

Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol.

6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

MANAJEMEN BADAN USAHA MILIK PESANTREN (BUMP)


MASLAKUL HUDA KAJEN PATI
Dziyaul Lami’, S.E
Magister Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Diponegoro
[email protected]

ABSTRACT
The pesantren’s potential includes economic assets, religious teachings and ties between Kiai,
santri, santri families, alumni, and the surrounding community to be important social capital in
economic activities. This economic potential was realized by the Maslakul Huda Kajen Pati
Islamic Boarding School, giving birth to several business units under the auspices of Islamic
Boarding Schools. Then the pesantren business unit management is deemed necessary to be
applied in order to create a pesantren sustainability.
The study uses qualitative research method (qualitative research). The object of this study is
BUMP Maslakul Huda with several business units, those are: BPRS Artha Mas Abadi, BPR Artha
Huda Abadi, CV Mabadi Sejahtera and Agribusiness.
The implementation of management functions at BUMP Maslakul Huda is planning, organizing,
actuating and controlling, have gone well. With the implementation of management in BUMP and
business units, what is produced is: the mechanism of the organization is running well, identifying
problems and finding solutions and strategies to minimize failure and maximize the success of the
program. Thus, the steps taken by BUMP and business units will encourage the economic
independence of pesantren.

Keywords: Management, Pesantren-Owned Enterprises, Maslakul Huda

PENDAHULUAN

Semula pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang


dipergunakan sebagai tempat untuk menyebarkan agama Islam dan mendalami
ajaran-ajarannya, yang tumbuh di masyarakat dengan sistem asrama, sekaligus
bersifat independent dalam segala hal.1 Kendati kabanyakan pesantren
memposisikan dirinya hanya sebagai lembaga pendidikan dan keagamaan.
Namun sejak tahun 1970-an beberapa pesantren telah berupaya untuk melakukan
reposisi dalam menyikapi berbagai persoalan sosial, ekonomi dan politik.

1
M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta: Bumi Aksara, 1991,
h. 240
197 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

Pesantren merupakan lembaga pendidikan non formal yang menjadi


kampung peradaban yang didambakan sekaligus dicerca. Ia dipandang sebagai
pusat dari kehidupan fatalis yang didalamnya lebih banyak mengurusi soal
ukhrawi ketimbang duniawi. Selain itu didalamnya juga memproduksi kehidupan
zuhud yang mengesampingkan aspek material. Padahal, orang pesantren
menikmati kehidupan yang sederhana berdasarkan panggilan moral keagamaan.
Bagi mereka, dunia merupakan alat untuk menggapai kehidupan akhirat.

Dalam kehidupan sosial, kebanyakan pesantren sangat jarang hadir dalam


pembahasan persoalan ekonomi. Bahkan seringkali pesantren seolah menjadi
beban ekonomi tersendiri menyangkut hubungan antara penyediaan lapangan
kerja dengan tenaga santri.2 Hal tersebut dapat dilihat dari arus globalisasi dan
kapitalisme pasar yang menerjang seluruh sendi kehidupan sehingga minat
masyarakat untuk masuk ke dalam lembaga pendidikan pesantren semakin
berkurang.

Meski demikian, sesungguhnya Pesantren bukan hanya sekadar pusat


pendalaman ilmu agama saja. Pesantren juga memiliki potensi pengembangan
ekonomi.3 Potensi yang ada didalam pesantren meliputi asset-asset ekonomi,
ajaran agama dan ikatan antara Kiai, santri, keluarga santri, alumni, dan
masyarakat sekitar menjadi modal sosial yang penting dalam sebuah kegiatan
perekonomian.

Sejarah mencatat bahwa sejarah awal berdirinya pesantren adalah bicara


mengenai kemandirian ekonomi. Mereka memanfaatkan potensi ekonomi yang
ada dalam pesantren untuk memenuhi kebutuhan penghuni pesantren. Bahkan
belakangan ini, beberapa pesantren telah membuktikan mampu menjadi pelaku
ekonomi dan memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar. Mampu memainkan

2
Amin Haedari (ed), Khazanah Intelektual Pesantren, Jakarta: CV. Maloho Jaya Abadi,
2008, h. 182
3
Asrori S. Karni, Etos Studi Kaum Santri; Wajah Baru Pendidikan Islam, Bandung: PT
Mizan Pustaka, 2009, h.221.
198 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

peran dalam kegiatan perekonomian dalam rangka mengembangkan dan


memajukan pesantren agar dapat bersaing dengan lembaga pendidikan lain.

Berbicara mengenai pesantren, tentu tidak akan lepas dari figur kiai
sebagai pemimpin pesantren. Kepemimpinan kiai di pesantren sangat unik,
dimana relasi sosial antara kiai dan santri dibangun atas landasan kepercayaan.4
Disamping itu kharisma kiai sebagai pemimpin pesantren turut menyumbangkan
daya tarik dan pencitraan sebuah pesantren ditengah-tengah masyarakat. Karena
kiai merupakan pemimpin yang menjalankan manajemen pesantren yang
memiliki visi jauh ke depan dan menginternalisasikannya dalam bentuk
kebijakan-kebijakan yang jelas dan bermanfaat bagi pesantren. Pemimpin
pesantren harus mampu menerjemahkan perubahan-perubahan sosial yang ada
agar pesantren mampu berjalan sesuai perkembangan zaman tanpa meninggalkan
nilai dan tradisi pesantren.

Sejalan dengan penyelenggaraan pendidikan formal, memang beberapa


pesantren mengalami perkembangan pada aspek manajemen, organisasi dan
adiministrasi pengelolaan keuangan. Dari beberapa kasus, perkembangan ini
dimulai dari perubahan gaya kepemimpinan pesantren; dari kharismatik ke
rasionalistik, dari otoriter-paternalistik ke diplomatic-partisipatif, atau dari laissez
faire ke demokratik. Kasus lain beberapa pesantren sudah membentuk badan
pengurus harian sebagai lembaga payung yang khusus mengelola dan menangani
kegiatan-kegiatan pesantren. Namun, sayangnya perkembangan tersebut tidak
merata disemua pesantren.

Secara umum, pesantren masih menghadapi kendala serius menyangkut


ketersediaan sumberdaya manusia profesional dan penerapan manajemen yang
masih tradisional, misalnya tiadanya pemisahan yang jelas antara yayasan,
pimpinan madrasah, guru dan staf administrasi; tidak adanya transparansi
pengelolaan sumber-sumber keuangan, belum terdistribusinya peran pengelolaan

4
Irwan Abdullah, Muhammad Zain, Hasse J, Agama, Pendidikan Islam dan Tanggung
Jawab Sosial Pesantren, Yogyakarta: Sekolah Pasca Sarjana UGM, 2008, h. 79.
199 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

pendidikan dan banyaknya penyelenggaraan administrasi yang tidak sesuai


standar, serta unit-unit kerja tidak berjalan sesuai aturan baku organisasi.5

Salah satu pesantren yang mempunyai semangat kemandirian ekonomi


yaitu Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati yang telah memiliki beberapa unit
usaha dalam kendali yayasan milik pesantren. Ponpes Maslakul Huda merupakan
salah satu pesantren yang mampu menghidupkan perekonomian pesantren dan
masyarakat sekitar yang semula lesu. Sejak tahun 1963 Kyai MA. Sahal Mahfudh
mulai mendorong kemandirian tersebut melalui pengembangan ekonomi,
pendidikan dan kesehatan. Atas inisiatif Kiai Sahal lah dibentuk Biro
Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BPPM).

Dalam pandangan Kyai Sahal, melalui BPPM merupakan


pengejawantahan dari amar ma’ruf nahi munkar (Al Imron (3): 10) sekaligus
bagian dari dakwah bil hal atau dakwah melalui amal perbuatan nyata. Melalui
aksi pengembangan masyarakat, maka pesantren mampu menerjemahkan nilai-
nilai agama dalam rangka memberikan solusi dari permasalahan yang dihadapi
oleh masyarakat.

Sebelum berdirinya Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP), BPPM telah


lahir dengan membawa misi pemberdayaan masyarakat sekitar. Dalam
perjalanannya, BPPM mulai melakukan kerja sama dengan beberapa lembaga
untuk merintis usaha dengan menggunakan biaya dari pesantren. Usaha-usaha
tersebut dibangun untuk keberlangsungan program sosial pesantren. Dari usaha
yang dirintis oleh BPPM tersebut pesantren mampu mendirikan beberapa unit
usaha yakni, BPR Artha Huda Abadi, BPRS Artha Mas Abadi, CV. Mabadi
Sejahtera (percetakan OffSet Masda Grafika dan Masda Digital Printing),
Agrobisnis, dan Koperasi ESA.

Selama beberapa tahun belakangan ini BPPM dihentikan mengingat misi


pemberdayaan masyarakat sudah cukup berhasil. Terbukti dengan perekonomian

5
M. Sulthon Masyhud dan Moh. Khusnurdilo, Manajemen Pondok Pesantren, Jakarta:
Diva Press, 2004, h.16.
200 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

masyarakat sekitar (Kajen) sudah mulai membaik. Sementara itu pengurus BPPM
sudah melebur pada masing-masing unit usaha sehingga BPPM tidak berfungsi
lagi. Sehingga masing-masing unit usaha telah memiliki manajemen sendiri.

Penelitian mengenai BPPM telah banyak dilakukan. Namun belum ada


penelitian yang fokus pada manajemen BUMP Maslakul Huda. Hasil keuntungan
yang didapatkan oleh unit usaha yang disetorkan oleh BUMP telah menyumbang
50% lebih untuk keberlangsungan pesantren. Maka manajemen perekonomian
pesantren dipandang perlu diaplikasikan demi terciptanya keberlangsungan
pesantren. Manajemen merupakan serangkaian kegiatan meliputi perencanaan,
penggerakan, pengorganisasian, dan pengawasan organisasi dengan mengerahkan
sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Sehingga masa
depan pesantren ditentukan oleh manajerialnya, karena manajemen merupakan
ruh sebuah organisasi (pesantren) yang akan mengantarkan pada tujuan dan cita-
cita pesantren.

Berangkat dari sinilah penulis merasa perlu untuk mengangkat penelitian


mengenai pelaksanaan manajemen unit usaha yang dimiliki oleh pesantren
mengingat banyak pesantren yang tidak berkembang dikarenakan faktor
manajerialnya yang masih buruk. Pada penelitian ini, penulis membatasi untuk
membahas mengenai BPRS Artha Mas Abadi yang merupakan salah satu unit di
bawah naungan BUMP.

Berdasarkan latar belakang diatas, permasalahan yang akan dibahas


adalah:

1. Bagaimana implementasi manajemen badan usaha milik pesantren


Maslakul Huda Kajen Pati?

201 Dziyaul Lami’


Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

LANDASAN TEORI

Manajemen
Banyak literasi yang menjelaskan mengenai manajemen baik
secara etimologis maupun bahasa. Secara etimologi, manajemen berasal
dari bahasa latin manus berarti tangan sedangkan dalam bahasa Inggris to
manage artinya mengatur.6 Jadi manajemen merupakan suatu proses
untuk mewujudkan keinginan yang hendak dicapai atau diinginkan oleh
sebuah organisasi.7

George R. Terry mendefiniskan manajemen sebagai proses yang


khas terdiri dari tindakan-tindakan seperti perencanaan, pengaktifan, dan
pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta untuk mencapai
sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui sumber daya manusia dan
sumber-sumber daya lainnya.8

Manajemen mulai muncul pada pertengahan abad ke 19 pada


negara industri. Mereka mulai menyadari bahwa perlunya pengaturan
dalam bisnis meliputi kegiatan produksi, marketing dan lain-lain. Pada
perkembangannya, manajemen (red: konvensional) mulai melalui tahap
perbaikan dan penyempurnaan. Sedangkan, dalam Islam manajemen
muncul sejak Allah menurunkan perintah kepada Nabi Muhammad SAW
melalui nash-nash Al-Qur’an dan hadits. Manajemen dalam Islam
memiliki asas kemanusiaan sebagai pembawa mandat sebagai agama
pembawa rahmat bagi semua makhluk di muka bumi (rahmatan lil
alamin).

Manajemen Islam (syariah) adalam manajemen yang tidak bebas


nilai, karena manajemen syariah tidak hanya berorientasi pada kehidupan
dunia, tetapi juga berorientasi di akhirat nanti (nanti disana), yang hanya

6
John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta: Gramedia.
7
Usman Effendi, Asas Manajemen, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2014, h. 1.
8
Rosady Ruslan, Manajemen Public Relation dan Media Komunikasi, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, h. 1.
202 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

bisa dipahami dalam sistem kepercayaan agama Islam.9 Sebagaimana ayat


Al Qur’an yang menjadi landasan kegiatan manajemen adalah QS. Ash-
Shaff: 4, yang artinya:

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berjuang dijalan-Nya


dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu
bangunan yang tersusun kokoh. (QS. Ash-Shaff: 4)10

Kokoh yang disebutkan dalam ayat Al Qur’an diatas menunjukkan


bahwa harus adanya sinergisitas antara komponen satu dengan yang
lainnya sehingga dapat mencapai tujuan sesuai dengan rencana.
Sedangkan dalam sebuah hadits Nabi Muhammad mengatakan:

Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melakukan


sesuatu pekerjaan dilakukan secara itqan (tepat, terarah, jelas, dan
teratur) (HR. Thabrani).

Itqan diatas maksudnya arah/tujuan pekerjaan itu jelas,


landasannya mantap, dan cara mendapatkannya transparan. Itu merupakan
amal perbuatan yang dicintai Allah SWT.11

Dalam manajemen Islam terdapat dua unsur penting, yakni subjek


dan objek. Subjek adalah pelaku/manajer dan objek merupakan tindakan
manajamen yang didalamnya memuat organisasi, sumber daya manusia,
operasi/produksi, pemasaran dan lain-lain.

Berbicara mengenai manajemen Islam tidak terlepas dari perilaku


yang sesuai dengan nilai-nilai religiusitas. Keimanan dan ketauhidan
seseorang akan memvisualisasikan berbagai tindakan yang akan
dilakukan. Jika seseorang memiliki iman yang kuat maka tidak akan

9
Ma’ruf Abdullah, Manajemen Berbasis Syariah, Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2012,
h. 2.
10
Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan terjemahannya.
11
Ibid, h. 14
203 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

terjadi perilaku Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang menjangkit


oleh para pemimpin di Indonesia saat ini.

Manajemen setiap lembaga atau organisasi (termasuk ponpes)


selalu berkaian dengan usaha-usaha mengembangkan suatu tim kerjasama
atau kelompok orang dalam satu kesatuan, dengan memanfaatkan sumber
daya yang ada. Hal tersebut untuk mencapai tujuan tertentu dalam
organisasi yang ditetapkan sebelumnya (pre determine objective). Dengan
demikian pengertian manajemen dapat diartikan sebagai sebuah proses
khas yang terdiri dari tindakan-tindakan; perencanaan, pengorganisasian,
penggiatan dan juga pengawasan.12

Dari pengertian tersebut, dapat diketahui bahwa manajemen


adalah applied science dimana jika dijabarkan menjadi sebuah proses
tindakan meliputi beberapa hal:

a. Perencanaan (Planning)
Fungsi perencanaan mencakup penetapan tujuan, standar, penentuan
prosedur dan pembuatan rencana serta ramalan (prediksi) apa yang
diperkirakan terjadi.

b. Pengorganisasian (Organizing)
Fungsi pengorganisasian ini meliputi pemberian tugas yang terpisah
pada masing-masing pihak, membentuk bagian, mendelegasikan atau
menetapkan jalur wewenang atau tanggungjawab dan sistem
komunikasi serta mengkoordinir kerja setiap bawahan dalam suatu tim
kerja yang solid dan terorganisir.

c. Penggerakan (Actuating)
Proses penggerakan yang dilakukan secara efektif dan efisien dengan
menggunakan pelbagai sarana yakni: komunikasi, kepemimpinan,
perundingan-perundingan, pemberian intruksi dan lain-lain. Dengan

12
A. Halim (eds), Manajemen Pesantren, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2009 , h. 71
204 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

actuating ini, pimpinan berusaha menjadikan organisasi bergerak aktif


dan dinamis.

d. Pengawasan (Controlling)
Ketika organisasi telah bergerak dan berjalan maka pimpinan
harus selalu melakukan pengawasan dan pengendalian agar gerakan dan
jalannya organisasi benar-benar sesuai dengan rencana yang ditetapkan.13

Dalam Islam, manajemen dipandang sebagai pengejawantahan


dari amal salih yang harus bertitik tolak dari niat yang baik. Niat baik
tersebut akan memunculkan motivasi aktivitas untuk mencapai hasil yang
baik demi kesejahteraan bersama. Ada empat landasan untuk
mengembangkan manajemen dalam pandangan Islam yaitu kebenaran,
kejujuran, keterbukaan dan keahlian.14 Dalam proses manajemen terdapat
beberapa indikator meliputi, rapi, tertib, benar, teratur dan sistematik.

Ragam masalah ekonomi yang luas pada dasarnya telah tertuang


dalam konsepsi ekonomi Islam, termasuk ajaran tentang tata nilai,
pembagian kerja, sistem harga, hukum penawaran dan permintaan,
konsumsi dan produksi dan masih banyak lagi. Gambaran kemajuan dan
berkembangnya ekonomi Islam pada masa lampau ternyata tidak
berdampak bagi perekonomian umat Islam masa kini. Ajaran-ajaran
Islam tentang ekonomi ditelantarkan dan diabaikan oleh kaum muslim
akibat ranah berfikir yang telah terpolarisasi bahwa ekonomi tergabung
dalam produk sekuler dan berlawanan dengan agama. Akibatnya
perekonomian kaum muslim menjadi stagnan, tertinggal bahkan terpuruk
dibandingkan dengan yang lainnya.15

13
Ibid. h. 72.
14
Veitzal, et al, Islamic Manajemen: Meraih Sukses Melalui Praktik Manajemen Gaya
Rosulullah Secara Istiqomah, Yogyakarta: BPFE, 2013, h. 47.
15
Sukamdani Sahid Gitosardjono, Wirausaha Berbasis Islam dan Kebudayaan, Jakarta:
Pustaka Bisnis Indonesia, 2013, h. 215.
205 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

Pesantren dan Ruang Lingkupnya

Pesantren sebagai sebuah institusi budaya yang lahir atas prakarsa


dan inisiatif (tokoh) masyarakat yang bersifat otonom, sejak awal
berdirinya merupakan potensi strategis yang ada ditengah kehidupan
sosial masyarakat. Kendati kebanyakan pesantren memposisikan dirinya
sebagai institusi pendidikan dan keagamaan saja, namun sejak tahun
1970-an pesantren melakukan reposisi dalam menyikapi pelbagai
persoalan sosial masyarakat.16

Sejarah sudah mencatat bahwa pondok pesantren merupakan


lembaga pendidikan, keagamaan dan kemasyarakatan yang sejak lama
dikenal sebagai wahana pengembangan masyarakat (community
development). Memasuki orde baru yang dikenal dengan marginalisasi
pendidikan agama, tugas pokok pesantren dalam mendidik dan
memberdayakan masyarakat tetap dijalankan. Independensi pesantren
merupakan faktor penting bagi eksistensinya sebagai media komunikasi
efektif dalam jaringan masyarakat tradisional pedesaan.

Disamping sebagai lembaga pendidikan dan pemberdayaan


masyarakat, pesantren berhasil membuka jaringan dan melakukan aliansi
strategis dengan berbagai pihak diluar pesantren, seperti pemerintah,
LSM, maupun lembaga asing guna merealisasikan program
pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.17 Dalam dimensi yang
lebih luas, pesantren juga berperan sebagai benteng pengawal moral,
khususnya berkenaan dengan terjaganya tradisi kepesantrenan yang luhur
dengan nilai-nilai keteladanan.

Hampir dapat dipastikan bahwa lahirnya suat pesantren berawal


dari beberapa elemen dasar di dalamnya. Terdapat lima elemen pesantren
yang memiliki keterkaitan yang sangat erat meliputi, Kiai, santri, pondok,

16
Veitzal, et al, Islami, h. 209.
17
Amin Haedari, et al. Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernitas dan
Kompleksitas Global, Jakarta: IRD Press, 2004, h. 12.
206 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

masjid dan pengajaran kitab–kitab Islam klasik atau sering disebut dengan
kitab kuning.

Dalam konteks ekonomi, pesantren harus mampu berbicara


banyak tentang konsep-konsepnya yang cenderung bersifat muamalah
(ibadah ritual) untuk menjadi konsep iqtishadiyyah (ekonomi).
Kedudukan semacam ini membawa akibat untuk memanfaatkan sebesar-
besarnya potensi pesantren yang begitu besar. Pada zaman perkembangan
awal Islam, di era kerajaan Islam Indonesia, di masa perjuangan melawan
kolonialisme sampai pada fase revolusi kemerdekaan, pesantren sangat
jelas menunjukkan sebagai agen perubahan sosial berdasarkan tentangan
zamannya.18

Potensi dan peran pesantren sebenarnya mempunyai nilai yang


cukup strategis dan signifikan dalam memberikan sumbangsih dan
perannya bagi peningkatan keswadayaan, kemandirian dan partisipasi
masyarakat. Maka pesantren dengan semangat pemberdayaan merupakan
salah satu contoh konkret dari upaya pesantren yang tidak hanya
konsentrasi dalam pengembangan keilmuan Islam akan tetapi pesantren
juga merupakan lembaga yang mempunyai kepedulian terhadap kondisi
ekonomi masyarakat. Pesantren ditantang bukan hanya untuk
memproduksi manusia-manusia bermoral dan cerdas serta patriotik
sebagai pengejawantahan iman dan taqwa tetapi juga menciptakan
manusia yang mandiri.19

Salah satu bentuk pertahanan pesantren dari segi manajemennya


yaitu yang terpenting adalah manajemen ekonomi pondok pesantren dan
manajemen pendidikannya yang berangkat dari daya dukung SDM yang

18
Amin Haedari (ed), Khazanah, h. 183
19
Irwan Abdullah. Muhammad Zain, Hasse J (eds), Agama, Pendidikan Islam dan
Tanggung Jawab Sosial Pesantren, Yogyakarta: Sekolah Pasca Sarjana UGM, 2008, h. 147
207 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

memadai. Hal ini menunjukkan bahwa potensi internal pesantren


berpengaruh besar pada ketahanannya terhadap arus pergerakan zaman.20

Ekonomi Pesantren

Pada umumnya para kyai dan mubaligh memiliki status ekonomi


yang tinggi dalam masyarakat, namun jarang sekali mereka mengangkat
21
kajian ekonomi dalam materi pengajiannya. Diskursus ekonomi
seringkali dianggap sebagai urusan duniawi semata, sedangkan pengajian
adalah urusan ibadah dan akhirat. Maka akibat dari pemahaman ini, Islam
belum banyak memiliki peran dalam perekonomian.

Dalam menghadapi era digitalisasi dan modernisasi, pesantren


dituntut untuk dapat menyesuaikan perubahan zaman. Sebagian pesantren
merespon perubahan dengan melakukan transformasi melalui mobilitas
budaya yang menyebabkan doktrin, lembaga, dan pranata sosial menjadi
22
tetap relevan. Misalnya memasukkan fungsi sosial-ekonomi ke dalam
program-program pesantren.

Pengembangan dalam bidang ekonomi yang dilakukan oleh


pesantren bertujuan untuk mendorong kemandirian pesantren. Selain itu
santri tidak lagi hanya pintar mengaji, tetapi memiliki kecakapan dalam
bidang ekonomi. Kemandirian ekonomi pesantren pada hakikatnya bagian
dari menerapkan ajaran agama Islam yang diajarkan oleh pesantren.23

Sejarah mencatat bahwa awal mula berdirinya pesantren adalah


berangkat dari kemandirian ekonomi. Belakangan ini, banyak pesantren
mulai terlibat dalam aktifitas perekonomian. Unit-unit usaha didirikan di

20
Muhammad Iqbal Fasa, Manajemen Unit Pesantren (Studi Kasus Pondok Modern
Darussalam Gontor 1 Ponorogo Jawa Timur, Tesis, Program Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, 2014, h. 258.
21
Qodri Azizy, Membangun Fondasi Ekonomi Umat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004,
h. 103-104
22
Ayzumadi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milineum Baru,
Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999, h.108.
23
L. Faurono Susilo P, Menggerakkan Ekonomi Syariah Dari Pesantren, Yogyakarta:
FP3Y, 2007, h. 22
208 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

berbagai pesantren, mulai dari koperasi simpan pinjam, agribisnis,


perdagangan, dan jasa. Hingga pelatihan kewirausahaan untuk para santri
menjadi salah satu perhatian bagi pesantren.

Unit usaha yang didirikan bertujuan untuk memberikan


kesejahteraan bagi santri dan masyarakat luas. Pesantren-pesantren besar
biasanya telah memiliki kesadaran dalam mengembangkan perekonomian.
Misalnya, pesantren Tebuireng, Gontor, Tambak beras, Tegalrejo, dan
Sidogiri.

Pesantren sidogiri menjadi salah satu kiblat kemandirian ekonomi.


Pada mulanya mendidikan warung kelontong di lingkungan pesantren
untuk memenuhi kebutuhan santri. Kemudian berkembang menjadi
simpan pinjam syariah yang bernama Baitul Mal Wa Tanwil Maslahah
Musalal lil Ummah (BMT-MMU).

BMT-MMU telah mengalami perkembangan yang pesat dari


permodalan, aset, dan omset. Pada tahun 2017 omset bisnis syariah
mencapai Rp. 42 miliar per tahun. Sementara nasabahnya mencapai
12.000 orang lebih dan mempunyai 12 unit yang tersebar di berbagai
kecamatan di Pasuruan. Kemajuan yang dialami oleh BMT-MMU
disebabkan adanya kepercayaan masyarakat pada penerapan manajemen
yang jujur, amanah, dan profesional.

Upaya pesantren dalam mendorong kemandirian ekonomi menjadi


sebuah ciri khas yang menarik masyarakat untuk mengirim anaknya ke
pesantren. Kemandirian ekonomi pesantren pada gilirannya akan
membuat pesantren menjadi institusi yang independen dan tidak
terpengaruh oleh penguasa dan pemilik modal. Disamping itu,
keberhasilan pesantren dalam mengembangkan perekonomiannya akan
berdampak pada biaya pendidikan yang murah dengan kualitas
pendidikan yang baik sehingga dapat menjadi alternatif masalah
komersialisasi pendidikan yang sedang mewabah.

209 Dziyaul Lami’


Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

METODE PENELITIAN

Desain Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian


kualitatif (qualitative research). Metode ini sering disebut sebagai metode
penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang
alamiah (natural setting).24 Kondisi alamiah yang terdapat dalam objek
penelitian tersebut berkembang secara ilmiah tanpa dimanipulasi oleh
peneliti.

Penelitian kualitatif juga merupakan jenis penelitian yang


mengidentifikasi gejala-gejala yang bersumber dari lapangan (field
research). Hasil pengamatan diarahkan untuk dapat menganalisis dan
mendeskripsikan fenomena, aktivitas sosial, persepsi, kepercayaan dan
pemikiran orang baik secara individu maupun kelompok.

Sumber dan Jenis Data

Adapun sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini sebagai


berikut:
a. Data Primer

Didapatkan dengan melakukan wawancara kepada pihak-pihak


yang dianggap tau mengenai objek penelitian. Pihak-pihak tersebut
diantaranya, pengasuh pesantren, ketua badan usaha milik
pesantren, pimpinan masing-masing unit usaha.

b. Data Sekunder
Data sekunder berupa data-data yang sudah tersedia dan dapat
diperoleh oleh peneliti dengan cara membaca, melihat atau
mendengarkan. Data ini biasanya berasal dari data primer yang

24
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta,
2012, h.8
210 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

sudah diolah oleh peneliti sebelumnya. Termasuk dalam kategori


data tersebut adalah:
1) Data bentuk teks: dokumen, pengumuman, surat-surat,
spanduk.

2) Data bentuk gambar: foto, animasi, billboar.

3) Data bentuk suara: hasil rekaman kaset.

4) Kombinasi teks, video, iklan di televisi dll.25

Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini yakni:

a. Observasi langsung (direct observation), yang dilakukan oleh


peneliti untuk memahami keseluruhan konteks data yang dialami di
objek penelitian. Dalam observasi, peneliti dapat mengamati secara
langsung mengenai pelaksanaan manajemen badan usaha milik
Pesantren Maslakul Huda.

b. Wawancara (interview), dilakukan dengan pengasuh pondok


pesantren, ketua unit usaha, dan masyarakat. Dalam melakukan
penelitian, Peneliti menggunakan wawancara terstruktur dimana
sebelumnya peneliti menyiapkan serangkaian pertanyaan yang akan
diajukan dan narasumber dibebaskan untuk memberikan jawaban.

c. Dokumentasi (documentation). Dalam penelitian ini menggunakan


instrument dokumentasi berupa arsip, profil pondok pesantren, data
organisasi, laporan unit usaha, buku panduan dan buku-buku yang
relevan.

25
Jonathan Sarwono, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif, Yogyakarta: Graha
Ilmu, 2006, h. 209-210.
211 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

Teknik Analisis Data

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang


menggunakan metode analisis deskriptif. Analisis data dalam penelitian
kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama
dilapangan, dan setelah selesai di lapangan.26

Dalam analisis deskriptif kualitatif terdapat proses analisis data,


yaitu:

a. Reduksi

Data yang diperoleh di lapangan jumlahnya cukup banyak,


kompleks dan rumit yang akan ditemukan melalui wawancara, arsip-arsip
pondok dan organisasi dan literature lainnya. Maka untuk menentukan
data yang diperlukan ditempuh dengan menggunakan reduksi data.
Mereduksi berarti merangkum, memilah milih data yang pokok, dan
memfokuskan pada hal-hal yang penting. Dengan demikian data yang
diperoleh akan memberikan gambaran yang jelas dan mempermudah
peneliti untuk mencari serta menemukan data yang diperlukan
selanjutnya.

b. Data Display (Penyajian Data)

Setelah data direduksi, langkah berikutnya yakni menyajikan data.


Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dapat berupa bentuk uraian
singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya.
Penyajian data dalam penelitian ini dengan menguraikan segala sesuatu
mengenai manajemen unit usaha Pondok Pesantren Maslakul Huda serta
karakteristik manajemen unit usaha. Sehingga, peneliti dapat menyajikan
data dengan sistematis dan substantif.

c. Penarikan kesimpulan

26
Sugiyono, Metode, h. 245
212 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

Langkah akhir dalam penelitian adalah penarikan kesimpulan.


Penelitian ini akan menjelaskan pelaksanaan manajemen badan usaha
Pesantren Maslakul Huda. Dengan demikian, seluruh temuan yang
didapatkan dalam penelitian akan dijadikan sebagai referensi
pengembangan unit usaha di Ponpes manapun, khususnya Ponpes
Maslakul Huda.

PEMBAHASAN

Profil Pesantren

Pesantren Maslakul Huda didirikan oleh KH. Mahfudh yang


merupakan putra dari Kyai Abdussalam, keturunan Syekh Ahmad
Mutamakkin. Kyai Mahfudh aktif dalam mengajar santrinya di mushola
yang kemudian merupkan cikal bakal pesantren maslakul huda. Bersama
dengan para kyai Kajen, kyai Mahfudh juga mendirikan perguruan Islam
Mathali’ul Falah.

KH. Mahfudh dikenal sebagai pribadi yang disiplin, tawadlu, tegas


(dalam hal-hal haq), dan birrul walidain berkat didikan ayahnya. Ia
sempat menimba ilmu selama delapan tahun di Mekkah. Selain itu semat
menjadi murid beberapa kyai masyhur yakni KH. Hasyim Asyari, KH.
Ma’sum Jombang, Syekh Said Sampang Madura, dan Syekh Muhammad
al-Baqir al-Maliki Makkah.

Pesantren Maslakul Huda lahir pada tahun 1910 sebagai institusi


pendidikan yang berorientasi pada pengembangan tafaqquh fiddin dengan
tujuan menciptakan santri yang salih-akrom melalui pendekatan yang
kognitif, efektif dan psikomotorik. Selama berdiri hingga sekarang telah
mengalami peergantian pengasuh selama empat kali. Kyai Mahfudh

213 Dziyaul Lami’


Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

Salam, Kyai Ali Mukhtar bin Abdussalam, Kyai Sahal Mahfud, dan H.
Abdul Ghaffar Rozin hingga sekarang.27

Pesantren Maslakul Huda yang didirikan pada masa


prakemerdekaan pasalnya memiliki peranan penting dalam mengisi
kemerdekaan. Kehadiran pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin
memiliki kontribusi dalam pengembangan intelektural para santri dan
melakukan kerjasama serta pemberdayaan dengan masyarakat sekitar.

Terdapat tiga Lembaga Operasional yang dibentuk oleh Pesantren


Maslakul Huda, diantaranya:

1. Lembaga Opersional di Bidang Pendidikan

a. Pesantren Maslakul Huda Putra (PMH Putra)

b. Pesantren Putri al-Badi’iyyah (PESILBA),

c. Pesantren Maslakul Huda Lil Mubtadi’in

d. Ma’had Takhasus Pesantren Maslakul Huda

e. Paud An Nismah

2. Lembaga Operasional Bidang Usaha Milik Pesantren (BUMP)

a. BPR Artha Huda Abadi

b. BPRS Artha Mas Abadi

c. CV. Mabadi Sejahtera (Percetakan & Penerbit)

d. Agrobisnis

3. Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BPPM)

27
Dokumentasi Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati
214 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

Badan Usaha Milik Pesantren

Badan Pengembangan Pesantren Masyarakat (BPPM) menjadi


cikal bakal dari lahirnya BUMP. Fiqh sosial yang diprakarsai oleh KH.
Sahal Mahfudh kemudian diterapkan dalam BPPM. Kyai Sahal berhasil
mentransformasikan sebagian fungsi pesantren ke dalam berbagai aktifitas
pengembangan masyarakat. Keterlibatan pesantren dalam pemberdayaan
ekonomi masyarakat selama ini dianggap bukanlah ranah ibadah dan
dakwah, melainkan hanya ranah duniawi yang tidak perlu diperhatikan.

Secara ideologis, kurangnya perhatian pada bidang ekonomi di


kalangan pesantren didasari dai pemahaman yang menjadikan akhirat
sebagai target utama. Pemahaman ini pada hakikatnya sudah benar,
namun bukan berarti menafikan peran kehidupan dunia sebagai media
pencapaian akhirat sebagaimana Nabi Muhammad SAW, al-dunya
mazra’ah al akhirah. Berdasarkan rumusan ini dapat dipahami bahwa
meskipun dunia dan akhirat memiliki perbedaan dalam segala hal, namun
keduanya saling berhubungan. Dalam mencapai kehidupan akhirat dengan
cara mampu mengelola kesempatan kehidupan di dunia dengan baik.28

BPPM telah berlangsung selama puluhan tahun dan berhasil


menghidupkan perekonomian pesantren dan masyarakat kajen yang
semula lesu. Melalui pendampingan dan pembinaan pada usaha kecil
krupuk tayamum dan memberikan pinjaman bergulir tak berbunga. Berkat
usaha ini setidaknya membantu meningkatkan perekonomian masyarakat
sekitar.

28
KH. MA. Sahal Mahfudh, Arah Pengembangan Ekonomi Dalam Upaya Pemberdayaan
Ekonomi Umat, Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari Pesantren Darul Sholah:
Reaktualisasi Peran Pondok Pesantren Dalam Pemberdataan Potensi Sosial-Ekonomi Umat,
(Jember, 27 Desember 1995), h. 2
215 Dziyaul Lami’
Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

Terdapat unit-unit usaha yang didirikan oleh pesantren, yaitu:

a. PT BPR Artha Huda Abadi

Pada tahun 1977, awal mulanya dari program pembinaan pada


usaha kecil krupuk tayamum dengan pinjaman modal sebesar Rp.
5.000 yang diberikan oleh BPPM dengan sistem pinjaman bergulir
tanpa bunga. Seiring berjalannya waktu tumbuh budaya kerja sama
dengan baik dan usaha terus berkembang membutuhkan
pembiayaan yang lebih besar. Sehingga pada tahun 1997
didirikanlah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Artha Huda Abadi.

Modal awal BPR sekitar Rp. 50 juta yang diperoleh dari dana
pesantren dan alumni-alumni. Aset yang dimiliki hingga tahun 2016
mencapai Rp. 10 miliar. Kantor pusat berada di dekat pesantren dan
terdapat dua kantor cabang dan lima kantor kas yang tersebar di
berbagai kecamatan sekitar Kajen.

b. PT. BPRS Artha Mas Abadi

Pada tahun 2002, mulanya sistem keuangan syariah yang


diinisiasi oleh pesantren melalui Unit Simpan Pinjam Syariah
(USPS). Sistem syariah menjadi daya tarik bagi masyarkat sehingga
berkembang menjadi sebuah perbankan syariah.

c. CV. Mabadi Sejahtera

CV Mabadi Sejahtera berdiri pada tahun 2005 dengan tujuan


meningkatkan peran pesantren dalam bidang percetakan serta
menambah pendapatan pesantren. Unit usaha yang didirikan
menyesuaikan dengan kebutuhan santri dan masyarakat sekitar.
Melalui unit usaha ini diharapkan dapat menunjang kebutuhan biaya
pendidikan dan operasional pesantren. Terdapat dua bidang
percetakan, yaitu: Percetakan OffSet berdiri pada tahun 2005

216 Dziyaul Lami’


Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

dengan nama Masda Grafika dan Masda Digital Printing yang


berdiri pada tahun 2010.

d. Agrobisnis

Usaha ini memanfaatkan lahan pekarangan dan pertanian yang


dimiliki oleh pesantren. Namun, tidak semua dimiliki oleh
pesantren, melainkan juga bekerjasama dengan masyarakat sekitar.
Pesantren menyediakan modal, bibit, dan pupuk sedangkan
masyarakat menyediakan lahan pertanian dan menggarapnya.

Implementasi Manajemen pada BUMP Maslakul Huda

Potensi ekonomi yang dimiliki oleh pesantren mendorong


pemenuhan kebutuhan bagi komunitas didalamnya. Melalui unit usaha
tersebut pesantren harus mampu merawat dan memelihara agar dapat terus
berkembang menghadapi berbagai tantangan. Sehingga penerapan
manajemen dari masing-masing usaha sangat perlu dilakukan dengan baik
agar berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.

1. Planning

a. Mengidentifikasi potensi ekonomi sekitar pesantren. Identifikasi


ekonomi tersebut meliputi, identifikasi potensi BPR Artha Huda
Abadi, BPRS Artha Mas Abadi, CV Mabadi Sejahtera dan
Agrobisnis.

b. Melakukan pelatihan-pelatihan guna memperbaiki kualitas


Sumber Daya Manusia (SDM) atau karyawan. Diantaranya,
pelatihan carracter building, service excellent, dan team work
yang ditujukan kepada seluruh karyawan di tiap unit usaha.

c. Memperbaiki sistem kinerja dan informasi. Sistem kinerja yang


berlaku di unit usaha yang dinilai kurang efektif.

217 Dziyaul Lami’


Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

d. Melakukan perluasan unit usaha yang dilihat dari peluang usaha


dan menambah kantor kas pada lembaga perbankan.

2. Organizing

a. Merumuskan fungsi, tugas dan wewenang BUMP

b. Dalam proses pendelegasian, BUMP menempatkan orang-orang


pesantren dalam posisi yang strategis di setiap unit usaha secara
profesional.

3. Actuating

a. Menanamkan nilai-nilai pesantren dalam diri para anggota BUMP


dan unit usaha.

b. Menanamkan keyakinan bahwa bekerja bukanlah semata-mata


untuk mencari harta melainkan bekerja untuk ibadah. Bekerja
untuk mengembangkan pesantren.

c. Ketua mengarahkan anggota untuk melaksanakan tugas dan


fungsinya.

d. Membangun komunikasi yang intensif dan efektif diantara


pesantren dan unit usaha.

e. Memberlakukan budaya dan nilai pesantren melalui aturan-aturan


didalam BUMP dan seluruh unit usaha. Diantaranya, berdoa
sebelum bekerja, mewajibkan karyawan putri untuk berjilbab,
larangan boncengan yang bukan muhrim, dan tradisi manaqib
setiap sebulan sekali.

f. Karyawan disebut sebagai santri pesantren karena dalam


penyebutan santri pesantren membawa konsekuensi pada attitude
karyawan.

218 Dziyaul Lami’


Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

4. Controlling

a. Menerima laporan unit usaha setiap sebulan sekali, satu semester


sekali dan setahun sekali. Pertemuan ini bertujuan untuk
memaparkan laporan unit usaha meliputi rencana dan
realisasinya serta program kerja masing-masing unit usaha satu
tahun kedepan. BUMP dan pesantren bertugas memberikan
evaluasi kinerja dan masukan-masukan dalam rencana program
kerja.

b. BUMP memberikan masukan-masukan yang konstruktif dalam


upaya pengembangan lembaga atau unit usaha.

c. Memeriksa laporan keuangan setiap tahun oleh Satuan Pengawas


Intern (SPI) dan yayasan.

d. Menerima kontribusi profit dari unit usaha lalu diserahkan kepada


pengasuh. Lebih dari 50% ditopang dari surplus unit usaha guna
pengembangan dan operasional pesantren

ANALISIS DATA

Secara garis besar aspek-aspek manajemen meliputi planning,


actuating, organizating, dan controlling telah dilakukan dengan cukup
baik. Persyaratan atau kelayakan sebuah perencanaan dalam BUMP telah
dipenuhi, meliputi : faktual, realistis, rasional, fleksibel, komitmen, dan
komprehensif. Perecanaan yang dilakukan perlu mengidentifikasi potensi
usaha lain yang bisa dijalankan agar dapat memperluas bidang usaha.
Selain dapat menambah keuntungan, dapat pula mengurangi
pengangguran masyarakat setempat.

Pada tahap organizating, BUMP tidak memiliki struktur


kepengurusan yang lengkap. Hanya berpijak pada koordinator bidang
usaha yang ditunjuk oleh pesantren. Dalam pengorganisasian
membutuhkan kelengkapan struktur organisasi agar masalah tidak

219 Dziyaul Lami’


Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

dibebankan kepada satu orang. Organisasi ideal mempunyai tugas, fungsi,


dan wewenang yang terbagi dari masing-masing jabatan.

Aspek-aspek actuating yang terdiri dari perilaku, kepemimpinan,


motivasi, komunikasi, dan kerjasama telah dijalankan dengan baik.
Adanya penanaman nilai-nilai pesantren, kepemimpinan yang bersifat
ibda binafsik dan one step ahead, adanya reward dan punishment, dan
pola komunikasi yang bersifat kekeluargaan menjadi bekal dalam
meningkatkan kinerja karyawan ke arah yang lebih baik.

Pada tahap pengawasan (controlling), hubungan BUMP dan


masing-masing unit usaha dilandaskan pada asas saling percaya dan jujur.
Sehingga, dalam proses ini didukung oleh adanya keterbukaan, kejujuran,
dan profesional oleh penanggung jawab unit usaha kepada pesantren
sehingga mendorong pengawasan yang sehat.

PENUTUP

Perencanaan yang telah dirancang dan dijalankan oleh BUMP


dan unit usaha menandakan adanya kerjasama yang baik. Perencanaan
untuk membangun unit usaha bermula pada kebutuhan-kebutuhan
pesantren dan masyarakat sekitar, sehingga perlu untuk terus
dikembangkan. Dalam tahap perencanaan, BUMP dan unit usaha saling
bersinergi untuk merumuskan rencana strategis yang akan dijalankan agar
terealisasi dengan baik.

Penempatan orang-orang pesantren pada posisi strategi menjadi


salah satu strategi pesantren dalam melanggengkan keterlibatan pesantren
pada unit usaha. Namun, pada tahap pengorganisasian, sayangnya kurang
adanya keterlibatan para alumni yang bekerja mengembangkan unit
pesantren. Hal tersebut dikarenakan santri memilih pulang ke kampung
halaman, sebagian yang lain tidak memiliki keahlian yang memadai sesuai
dengan kebutuhan unit usaha pesantren.

220 Dziyaul Lami’


Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

Aspek penggerakan (actuating) meliputi motivasi, komunikasi,


kepemimpinan, dan teamwork telah dijalankan dengan cukup baik. Pada
aspek pengawasan yang dilakukan rutin tiap bulan oleh kepala bagian dan
direksi untuk dilakukan evaluasi telah berjalan dengan baik. Seluruh
bagian dari tugas dan fungsi organisasi berjalan dengan amanah, niat
beribadah, jujur, dan terbuka satu sama lain. Sehingga fungsi pengwasan
berjalan dengan baik.

Secara menyeluruh implementasi fungsi manajemen di BUMP


Maslakul Huda dan unit-unit usaha meliputi planning, organizing,
actuating dan controlling telah dilakukan dengan cukup baik. Dengan
terciptanya manajemen yang baik, maka mekanisme organisasi dapat
berjalan dengan baik, mampu mengidentifikasi masalah dan mencari
solusi terbaik. Disamping itu, dapat membuat strategi untuk
meminimalisir kegagalan dan memaksimalkan keberhasilan program yang
dijalankan. Sehingga langkah-langkah yang dipilih oleh BUMP dan unit
usaha akan mendorong kemajuan unit usaha yang dimiliki oleh pesantren.

221 Dziyaul Lami’


Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Irwan dan Muhammad Zain, Hasse J (eds). 2008. Agama, Pendidikan
Islam dan Tanggung Jawab Sosial Pesantren, Yogyakarta: Sekolah
Pasca Sarjana UGM.
Abdullah, Ma’ruf. 2012. Manajemen Berbasis Syariah, Yogyakarta: Aswaja
Pressindo.
Abdurrahman, Nana Herdiana. 2013. Manajemen Bisnis Syariah dan
Kewirausahaan, Bandung: CV Pustaka Setia.
Arifin, M. 1991. Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta: Bumi
Aksara.
Asmani, Jamal Ma’mun. 2007. Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh: Antara Konsep
dan Implementasi, Surabaya: Khalista.
Asy’ari. 2003. Manajemen Pesantren Menuju Profesionalisme Di Pesantren
Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Thesis, IAIN Sunan Ampel, Surabaya.
Azra, Ayzumadi. 1999. Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju
Milineum Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Baso, Ahmad. 2013. Pesantren Studies 2a: Kosmopolitanisme Peradaban Kaum
Santri di Masa Kolonial, Jakarta: Pustaka Afid.
Chirzin, M. Chabib. Agama Ilmu dan Pesantren, dalam M. Dawam Rahardjo
(ed), Pesantren dan Pembaharuan, Jakarta: LP3ES, 1988.
Daft, Richard L. 2003. Manajemen, Jakarta: Salemba Empat.
Dhofier, Zamahkhsyari. 2015. Tradisi Pesantren Studi Pandangan Hidup Kyai
dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia, Jakarta: LP3ES.
Effendi, Usman. 2014. Asas-asas Manajemen, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Fasa, Muhammad Iqbal. 2011. Manajemen Unit Usaha Pesantren Studi Kasus di
Pondok Modern Darussalam Gontor 1 Ponorogo Jawa Timur. Thesis,
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Haedari, Amin (ed). 2008. Khazanah Intelektual Pesantren, Jakarta: CV. Maloho
Jaya Abadi.
Gitosardjono, Sukamdani Sahid. 2013. Wirausaha Berbasis Islam dan
Kebudayaan, Jakarta: Pustaka Bisnis Indonesia.
Haedari, Amin et al. 2004. Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan
Modernitas dan Kompleksitas Global, Jakarta: IRD Press.
Halim, A (eds). 2009. Manajemen Pesantren, Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
Karni, Asrori S. 2009. Etos Studi Kaum Santri; Wajah Baru Pendidikan Islam,
Bandung: PT Mizan Pustaka.

222 Dziyaul Lami’


Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia – Vol. 6, No 2 (2019) P-ISSN:
2303-3223; E-ISSN: 2621-640X

Manajemen Badan Usaha. . . .

Mahfudh, MA. Sahal. Arah Pengembangan Ekonomi Dalam Upaya


Pemberdayaan Ekonomi Umat, Makalah disampaikan dalam Seminar
Sehari Pesantren Darul Sholah: Reaktualisasi Peran Pondok Pesantren
Dalam Pemberdataan Potensi Sosial-Ekonomi Umat, (Jember, 27
Desember 1995).
Masyhud, M. Sulthon dan Moh. Khusnurdilo. 2004. Manajemen Pondok
Pesantren, Jakarta: Diva Press.
Sarwono, Jonathan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif,
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung:
Alfabeta.
Susilo P, L. Faurono. 2007. Menggerakkan Ekonomi Syariah Dari Pesantren,
Yogyakarta: FP3Y.
Veitzal, et al. 2013. Islamic Manajemen: Meraih Sukses Melalui Praktik
Manajemen Gaya Rosulullah Secara Istiqomah, Yogyakarta: BPFE.
Zubaedi. 2004. Memotret Keterlibatan BPPM Pesantren Maslakul Huda Dalam
Aksi Pengembangan Masyarakat, dalam Aplikasia, Jurnal Aplikasi Ilmu-
ilmu Agama,Vol. V, Edisi 1.
Zubaidi. 2007. Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pesantren: Kontribusi Fiqh
Sosial Kiai Sahal Mahfudh dalam Perubahan Nilai-nilai Pesantren,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

223 Dziyaul Lami’

You might also like