Activity 1: The Muscle Twitch and The Latent Period
Activity 1: The Muscle Twitch and The Latent Period
Activity 1: The Muscle Twitch and The Latent Period
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Teoritis
A motor unit consists of a motor neuron and all of the muscle fibers it
innervates. The motor neuron and a muscle fiber intersect at the neuoromuscular
junction.
1.2. Masalah
a. How to understand the term exitation-contration, electrical stimulus, muscle
twitch, latent period, contraction phase and relaxation phase.
b. How to initian muscle twitches with electrical stimuli of varying intensity.
c. How to identify and measure the duration of latent period.
1.3. Tujuan
a. To understand the term exitation-contration, electrical stimulus, muscle
twitch, latent period, contraction phase and relaxation phase.
b. To initian muscle twitches with electrical stimuli of varying intensity.
c. To identify and measure the duration of latent period.
III. HASIL
IV. PEMBAHASAN
4.1. Diskusi hasil
Praktikum yang kami lakukan kali ini adalah praktikum dry lab dengan
materi Muskoloskeletal. Pada praktikum ini kami melakukan exercise 2 activity
1 yang bertujuan untuk mengetahui mengenai unit motor, berkedut, periode
laten, fase kontraksi, fase relaksasi, ambang batas, penjumlahan, tetanus,
kelelahan, kontraksi isometrik, dan kontraksi isotonik. Sarana yang digunakan
dalam praktikum ini adalah PhysioEx 9.1: Software of Laboratory simulation
Phsyiology dan seperangkat laptop.
Pada praktikum ini, sebelum memulai percobaan kami menjawab
beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan materi Muskoloskeletal (Pre-lab
Quiz). Setelah itu dilanjutkan dengan melakukan percobaan pada otot yang
memiliki panjang 75 mm. Langkah pertama, yaitu melakukan percobaan dengan
tegangan listrik sebesar 0,0 volt kemudian klik Stimulate untuk melihat reaksi
dari otot namun saat tegangan listrik 0,0 volt tidak ada gaya yang terjadi pada
otot. Kemudian tingkatkan tegangan listrik menjadi 3,0 volt dan catat perubahan
gaya yang terjadi yaitu gaya aktifnya menjadi 1.04 dan tidak terjadi gaya pasif
sehingga total gayanya 1.04. Kemudian tambahkan tegangan menjadi 4,0 volt
dan lihat perubahan gaya yang terjadi kemudian klilk Measure untuk melihat
waktu latent pada oscilloscope screen. Kemudian klik time (msec) hingga garis
kuning vertikal bergerak sampai pada point dimana garis kuning horizontal
mulai meningkat kemudian catat data. Pada tegangan 4,0 volt dihasilkan gaya
aktif sebesar 1.32 dan gaya pasif 0.0 sehingga gaya total 1.32 dan waktu
latentnya 2.80. Tambahkan tegangan hingga 6,0 volt kemudian klik Stimulate
untuk melihat perubahan gaya yang terjadi lalu klik Measure kemudian klik time
(msec) hingga garis kuning vertikal bergerak sampai point dimana garis kuning
horizontal mulai meningkat. Pada tegangan 6,0 vot dihasilkan gaya aktif sebesar
1.65 dan gaya pasif 0.0 sehingga gaya total 1.65 dan waktu latentnya 2.80.
Ulangi langkah ini hingga mencapai 10,0 volts.Pada tegangan 8,0 volt dihasilkan
gaya aktif sebesar 1.81 dan gaya pasif 0.0 sehingga gaya total 1.81 dan waktu
latentnya 2.80. Pada tegangan 10.0 volt dihasilkan gaya aktif sebesar 1.82 dan
gaya pasif 0.0 sehingga gaya total 1.82 dan waktu latentnya 2.80. Demikian
percobaan yang dilakukan pada activity 1. Setelah percobaan dilakukan, kami
juga menjawab beberapa pertanyaan pada Post-lab Quiz.
Periode laten adalah periode dalam waktu yang terjadi di antara
pembentukan potensial aksi di dalam sel otot sampai awal terjadinya kontraksi
otot. Meskipun tidak ada energi yang dihasilkan selama periode laten, perubahan
kimia (termasuk pelepasan kalsium dari retikulum sarkoplasma) terjadi
intraseluler dalam persiapan untuk kontraksi. Berdasarkan praktikum drylab
yang kami lakukan untuk menentukan poriode laten otot pada katak, adalah
dengan cara mengubah-ubah besarnya voltage sebagai pemicu terjadinnya
kontraksi pada otot kemudian mengamati apakah terjadi perubahan periode laten
atau tidak, apabila besarnya voltage berubah. Periode laten baru dapat diketahui
saat besarnya voltage adalah 4.0. Sedangkan dibawah nilai voltage 4.0 belum
dapat diketahui poriode latennya, hal ini disebabkan dibawah voltage 4.0,
meskipun ada pemicu kontraksi otot, tapi pemicu tersebut tidak menyebabkan
terjadinya kontraksi pada otot, dikarenakan nilainya yang kecil (lemah). Pada
besar voltage 4.0, nilai periode latennya adalah 2.80. Ketika nilai voltage kita
ubah-ubah atau dinaikkan, periode laten nya tidak berubah. Hal ini berarti
perubahan stimulus voltage tidak akan merubah nilai periode latennya.
Untuk menentukan periode laten, dapat kita lakukan dengan merubah-
merubah stimulus yang diberikan ke otot, hingga otot berkontraksi. Waktu yang
terjadi saat stimulus diberikan ke otot hingga otot berkontraksi inilah yang
disebut dengan periode laten. Apabila stimulus ditingkatkan dari yang semula,
periode latennya tidak akan berubah, atau dengan arti lain perubahan stimulus
tidak akan merubah nilai periode latennya.
V. DAFTAR PUSTAKA
Ganong, WF. 2005. Review of Medical Physiology. 22th Edition., Appleton & Lange A
Simon & Schuster Co., Los Altos, California
Guyton, AC. and Hall, JE 2006. Textbook of Medical Physiology. 11th Edition., W.B.
Saunders Co., Philadelphia
Marieb, EN 2006. Human Anatomy and Physiology. 7th Edition., The
Benjamin/Cummings Publishing Co. Inc., California
LAMPIRAN