Cek Fakta: Apa Benar Superflu Adalah Virus Baru?
8 Januari 2026
Istilah "superflu” belakangan ramai diperbincangkan seiring meningkatnya kasus influenza musiman di berbagai negara. Setelah kasusnya dilaporkan ada di Indonesia, beragam konten bermunculan di media sosial dengan narasi yang menyebut superflu sebagai virus baru.
Sebuah unggahan di TikTok menuliskan, "Sangat waspada, super flu virus baru sudah masuk ke 8 provinsi Indonesia, bisa menyebabkan meninggal.”
Konten tersebut mendapat setidaknya 11 ribu likes, 1.449 komentar, dan dibagikan lebih dari 9.000 kali. Di platform lain, muncul unggahan serupa yang menyebut superflu lebih berbahaya dari COVID-19. Unggahan-unggahan ini memicu respons luas dari warganet, dengan banyak yang mempertanyakan keganasan virus tersebut dan dampaknya terhadap kesehatan.
Klaim: "Sangat waspada, super flu virus baru".
Cek Fakta DW: Salah.
Superflu: Varian baru virus influenza
Superflu merujuk pada influenza A(H3N2) subklade K, varian terbaru dari virus influenza. Istilah superflu bukan istilah medis resmi, melainkan sebutan populer untuk menggambarkan lonjakan penularan influenza yang lebih tinggi dibandingkan musim-musim sebelumnya.
Berdasarkan keterangan Kementerian Kesehatan RI, superflu bukan nama penyakit baru atau virus baru secara resmi. Sebagai varian terbaru, virus ini tetap bagian dari keluarga virus influenza A(H3N2) yang sudah lama dikenal dan dipantau melalui sistem surveilans global, sejalan dengan pemantauan oleh World Health Organization.
Kementerian Kesehatan juga mencatat peningkatan kasus influenza di sejumlah negara. Di Amerika Serikat, musim flu kali ini menunjukkan lonjakan kasus dan rawat inap pada akhir 2025, dengan jumlah lebih tinggi dibanding musim influenza sebelumnya.
Virus lama yang bermutasi
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Tjandra Yoga Aditama, menyatakan bahwa virus influenza A(H3N2) telah lama beredar dan beberapa kali memicu peningkatan kasus influenza.
Menurutnya, virus H3N2 yang selama ini beredar mengalami mutasi berulang hingga membentuk subklade K. Ia juga membenarkan bahwa peningkatan kasus influenza tahun ini memang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dan kondisi itulah yang kemudian mendorong munculnya istilah superflu di masyarakat.
"Paling tidak, H3N2 sudah ada sejak 1968. Jadi sudah beberapa kali ada peningkatan kasus influenza gara-gara H3N2. Kini, virusnya bermutasi sampai 7 kali, kemudian timbullah H3N2 subclade K,” jelas Tjandra.
Ia menjelaskan bahwa kondisi ini tidak bisa dibandingkan dengan COVID-19. Sebab, meski terjadi peningkatan kasus sejak Agustus 2025, tidak ada kriteria yang menunjukkan mengarah pada situasi pandemi. Tingkat penularan dan keparahan kasusnya tetap berada di bawah kategori pandemi.
Penilaian ini sejalan dengan temuan Medical Science Division, University of Oxford, yang menegaskan bahwa meski musim flu dimulai lebih awal di sejumlah negara, tingkat keparahan penyakit masih berada dalam kisaran normal influenza musiman.
Risiko dan kelompok rentan
Terkait tingkat gejala dan risiko, Tjandra menyatakan bahwa semua penyakit pasti memiliki risiko. Namun, kasus berat lebih sering terjadi pada kelompok risiko tinggi, dan pola ini sama untuk influenza pada umumnya, tidak hanya pada H3N2 subklade K.
"Untuk influenza, umumnya faktor risiko tinggi sama seperti yang selama ini sudah kita kenal, yaitu mereka yang lanjut usia (lansia), komorbid, anak-anak, dan wanita hamil," sebut Tjandra.
Dengan demikian, superflu merujuk pada lonjakan kasus influenza musiman akibat influenza A(H3N2) subklade K, dan bukan sebagai virus baru. Hingga kini, tidak ada keterangan ilmiah yang menyatakan bahwa varian ini lebih parah dari COVID-19, influenza musiman lain maupun mengarah pada terjadinya pandemi.
Editor: Prihardani Purba dan Melisa Ester Lolindu