Di bagian dunia sebelah Barat sana, membaca buku-buku science fiction bukanlah hal yang aneh. Di Indonesia, ini adalah sebuah hal yang tidak lazim. Jangankan membaca buku science fiction, membaca buku saja sudah merupakan hal yang tidak lazim. Itulah sebabnya seringkali saya merasa salah tempat – misplaced. Seharusnya saya tinggal di dunia Barat sana, yang mana memang saya pernah selama lebih dari 10 tahun (mendekati 11 tahun). Namun tinggal di Indonesia jauh lebih menyenangkan bagi saya.
Bacaan science fiction ini sering membuat saya berpikir tentang hal-hal yang “ajaib”, yaitu hal-hal di masa depan yang terkait dengan teknologi. Mungkin itu merupakan salah satu alasan saya tertarik masuk ke jurusan Elektro ketika kuliah di ITB dahulu. Ternyata yang terpesona dengan science fiction bukan saya saja. Banyak orang – terutama di dunia Barat – yang terinspirasi oleh science fiction (dalam bentuk buku dan film) sehingga menghasilkan karya-karya yang hebat. Bagian ini memang perlu saya elaborasi lebih lanjut dengan contoh-contoh. Sementara ini saya tunda dahulu.
Awalnya saya merasa kesulitan mendapatkan asupan buku-buku science fiction ini di Indonesia karena selain harga buku yang mahal juga harus diimpor dari luar negeri. Ada pula pada masanya Amazon tidak mau mengirimkan buku ke Indonesia karena banyaknya penipuan (fraud) kartu kredit di Indonesia. Barang yang dibeli dari Amazon dengan menggunakan kartu kredit colongan. Jadinya Indonesia dikucilkan oleh Amazon. Makin susah lagi. Untungnya kemudian terjadi perkembangan teknologi sehingga buku berubah menjadi ebooks. Yang ini menjadi memungkinkan untuk diperoleh di Indonesia (secara legal dan ilegal). Singkat kata, asupan science fiction bagi saya bukan masalah lagi. Yang masalah justru adalah mencari waktu untuk membaca.
Yang menarik bagi saya adalah bahan bacaan saya ternyata sama dengan bacaan orang-orang di luar negeri. Jadi berada di Indonesia tidak menjadi hambatan sama sekali. Yang masih menjadi hambatan adalah menemukan orang-orang Indonesia yang sama-sama suka dengan science fiction.
Baru-baru ini saya beres membaca buku “Snow Crash” karangan Neal Stephenson. Sebetulnya sudah lama saya memiliki buku ini, tetapi membacanya yang lama. Selain waktunya yang sulit saya alokasikan juga banyak istilah-istilah bahasa Inggris yang menurut saya terlalu cultural. Harus punya mindset orang Amerika baru paham. (Mungkin.) Tapi itu tidak menjadi halangan besar sih. Hanya saya berharap bahwa para penulis juga paham bahwa pembacanya banyak yang berasal dari kultur lain. Di dalam buku ini diceritakan tentang konsep Metaverse dan hal-hal lain terkait dengan itu. Jika kita hidup secara online (dan offline) banyak hal yang saling terkait. Bahkan virus yang terjadi di dunia online dapat merasuki kehidupan offline kita. Nah untuk berdiskusi tentang konsep ini di Indonesia sangat susah menemukan komunitasnya. Padahal saya ingin bertukar pendapat dengan orang-orang yang satu frekuensi.
Anyway, ini adalah curhatan saya pagi ini. Selamat ngopi.





